Ilustrasi - Kecerdasan buatan (AI) dalam pembuatan musik. Industri musik di Amerika Serikat (AS) menuntut perusahaan pengembang Suno AI dan Udio AI yang diklaim melanggar hak cipta. (Ilustrasi: Pixabay)
LOS ANGELES, (ERAKINI) – Sejumlah industri musik di Amerika Serikat bergabung menuntut perusahaan kecerdasan buatan (AI) atas pelanggaran hak cipta. Mereka meminta pertanggungjawaban 2 pengembang pembuat lagu AI yaitu Suno, Inc (pengembang ) dan Uncharted Labs, Inc (pengembang ), sebagaimana dilansir dari Xinhua, Rabu (26/6/2024).
Adapun para industri musik AS sebagai penggugat dalam 2 kasus tersebut termasuk Sony Music Entertainment, Universal Music Group, dan Warner Records. Kedua kasus tersebut diajukan pada hari Senin (24/6/2024) yang mana satu kasus terhadarp Suno, Inc diajukan di pengadilan federal di Boston dan Uncharted Labs, Inc di New York.
“Layanan tidak berlisensi seperti Suno dan Udio yang mengklaim bahwa menyalin karya hidup seorang seniman dan mengeksploitasinya demi keuntungan mereka sendiri tanpa izin atau bayaran adalah hal yang ‘adil’, merupakan hal yang mengingkari janji akan adanya AI yang benar-benar inovatif bagi kita semua,” kata Mitch Glazier, ketua dan pimpinan pejabat eksekutif Asosiasi Industri Rekaman Amerika (RIAA), dalam sebuah pernyataan.
Kedua kasus tersebut meminta perintah yang melarang perusahaan AI melanggar rekaman suara berhak cipta penggugat dan ganti rugi atas pelanggaran yang telah terjadi, menurut RIAA. Inti dari tuntutan hukum tersebut berkisar pada dugaan penggunaan rekaman suara secara tidak sah untuk menciptakan musik baru melalui algoritma AI.
Teknologi ini, yang dirancang untuk meniru dan menghasilkan musik dengan gaya artis populer, telah menimbulkan kekhawatiran di kalangan musisi, penulis lagu, dan produser mengenai perlindungan karya kreatif mereka di era digital.
RIAA berpendapat bahwa dengan menggunakan rekaman ini tanpa lisensi atau kompensasi yang sesuai, SunoAI dan UdioAI merampas penghasilan dan kendali yang sah dari artis atas musik mereka. Industri musik telah mendapatkan dukungan dari tokoh-tokoh dan organisasi-organisasi penting yang mengadvokasi perlindungan hak kekayaan intelektual.
Richard James Burgess, presiden dan CEO American Association of Independent Music, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa organisasinya bersatu dengan komunitas musik untuk membela hak-hak pencipta terhadap “entitas tidak berperasaan” yang bertujuan untuk “mencuri, menyalahgunakan, dan mengambil keuntungan dari karya hidup para pemain dan penulis berbakat."
Pada bulan Maret, Tennessee menjadi negara bagian AS pertama yang mengesahkan undang-undang untuk melindungi penulis lagu, artis, dan profesional industri musik lainnya dari potensi bahaya kecerdasan buatan. RUU ini mulai berlaku pada 1 Juli.
Pada bulan April, lebih dari 200 artis menandatangani surat terbuka yang diserahkan oleh Artist Rights Alliance, menyerukan pengembang AI, perusahaan teknologi, platform, dan layanan musik digital untuk berhenti menggunakan AI untuk melanggar hak-hak seniman manusia.