Orang-orang berkumpul melihat puing-puing setelah serangan militer Israel yang ditargetkan terhadap sebuah bangunan perumahan di lingkungan Haret Hreik di pinggiran selatan Beirut pada 23 November 2025. (Foto: AFP).
BEIRUT, (ERAKINI) - Beirut kembali berduka. Serangan udara Israel yang menghantam kawasan padat penduduk di selatan ibu kota, Minggu (23/11/2025) malam, kembali membuktikan betapa mudahnya Tel Aviv mengabaikan hukum internasional demi memburu targetnya.
Dalam operasi yang disebut ‘presisi’, militer Israel mengklaim telah menewaskan Haytham Ali Tabtabai, sosok penting dalam struktur komando Hizbullah, dengan menghantam sebuah bangunan tempat tinggal tanpa peringatan.
Peristiwa ini terjadi hampir setahun sejak perjanjian gencatan senjata dengan Lebanon mulai berlaku, namun justru menunjukkan betapa rapuhnya komitmen Israel terhadap de-eskalasi. Di Beirut, serangan tersebut langsung dinilai sebagai ancaman serius yang dapat mengguncang kestabilan regional.
Presiden Lebanon, Joseph Aoun, mengecam keras agresi tersebut. Ia menegaskan bahwa Israel kembali menunjukkan ketidakpeduliannya terhadap seruan dunia untuk menghentikan serangan militernya. Aoun menilai bahwa seluruh upaya diplomatik Lebanon selama setahun terakhir seakan dipatahkan begitu saja, dan ia meminta komunitas internasional bertindak tegas untuk menghentikan aksi sepihak Tel Aviv sebelum kawasan kembali tenggelam dalam konflik berdarah.
Sementara itu, laporan dari media Israel menyebutkan bahwa Tel Aviv telah memberi tahu Komite Mekanisme Gencatan Senjata bahwa mereka tidak berniat memperluas konflik kecuali Hizbullah melakukan serangan balasan. Namun pernyataan tersebut tak banyak meredakan kekhawatiran di Beirut, terutama karena serangan ini justru terjadi tanpa provokasi baru dari pihak Lebanon.
Hizbullah sendiri hanya menyatakan bahwa salah satu pejabatnya menjadi sasaran, tanpa menjelaskan lebih jauh. Pemerintah Lebanon, melalui Perdana Menteri Nawaf Salam, menegaskan bahwa keselamatan warga sipil adalah prioritas utama. Ia menyatakan pemerintah sedang bekerja melalui jalur diplomatik dan politik untuk mencegah eskalasi terbuka dan menuntut penghentian agresi Israel serta penarikan pasukan dari wilayah Lebanon.
Beberapa jam setelah serangan, juru bicara militer Israel Avichai Adraee menyebut bahwa Tabtabai adalah tokoh penting Hizbullah sejak era 1980-an. Ia menggambarkan Tabtabai sebagai arsitek sejumlah operasi militer Hizbullah di Suriah dan Yaman, serta salah satu figur utama yang memperkuat unit pasukan khusus kelompok tersebut. Israel mengklaim serangan dilakukan berdasarkan rekomendasi pejabat puncak keamanan dan mendapat koordinasi dari Amerika Serikat.
Di lapangan, dampak serangan terasa mengerikan. Tiga rudal GBU-39 menghantam bangunan di Jalan Al-Arid, Haret Hreik, menghancurkan beberapa lantai, menewaskan lima orang, dan melukai 28 lainnya. Kementerian Kesehatan Lebanon memastikan bahwa seluruh korban adalah warga sipil yang tidak menerima peringatan apa pun sebelum ledakan terjadi. Wilayah sekitar langsung dipenuhi kepanikan; keluarga-keluarga bergegas meninggalkan rumah mereka akibat drone pengintai Israel yang terus berputar rendah hingga ke Baalbek dan Hermel.
Militer Lebanon menerapkan blokade keamanan untuk mencegah kekacauan lebih jauh. Sementara itu, media Israel menyebut serangan ini adalah upaya ketiga untuk membunuh Tabtabai setelah dua percobaan sebelumnya gagal selama masa perang. Washington sendiri telah lama memasukkan Tabtabai ke daftar Teroris Global dan menawarkan hadiah hingga 5 juta dolar bagi siapa pun yang dapat membantu penangkapannya.
Kedutaan Besar Iran di Beirut mengecam keras aksi militer Israel tersebut. Melalui pernyataan resmi, mereka menegaskan bahwa “entitas teroris Israel kembali mengancam keselamatan rakyat Lebanon,” dan menyatakan bahwa serangan seperti ini tidak akan melemahkan tekad pihak-pihak yang menentang dominasi Israel di kawasan.
Serangan terbaru ini bukan hanya mengoyak perdamaian yang rapuh, tetapi juga menegaskan kembali pola Israel yang kerap melancarkan operasi sepihak dengan dalih keamanan, tanpa memperhitungkan nyawa warga sipil dan stabilitas kawasan. Dunia kini menunggu apakah konflik akan kembali membara, atau apakah komunitas internasional akhirnya berani menahan laju agresi Israel yang semakin tak terkendali.