Setelah dua kali gagal, Sanae Takaichi akhirnya mencetak sejarah sebagai perempuan pertama yang menjabat sebagai Perdana Menteri Jepang. Foto: Getty Images via BBC
TOKYO, (ERAKINI) - Setelah dua kali gagal, Sanae Takaichi akhirnya mencetak sejarah sebagai perempuan pertama yang menjabat sebagai Perdana Menteri Jepang. Ia resmi terpilih melalui pemungutan suara parlemen pada Selasa (15/10/2025), setelah menang dalam pemilihan ketua Partai Demokrat Liberal (LDP).
Politisi berusia 64 tahun itu menggantikan Shigeru Ishiba, yang mundur usai kekalahan besar LDP dalam pemilu paruh waktu. Kemenangan ini menjadi puncak dari ambisi lama Takaichi, yang sejak lama menjadikan Margaret Thatcher sebagai panutan dan menyebut dirinya ingin menjadi "" Jepang.
Lantas siapa Takaichi? Takaichi berasal dari keluarga biasa yang lahir di Prefektur Nara pada 1961. Ayahnya hanya seorang pegawai kantor, sementara ibunya bekerja sebagai polisi. Politik bukan bagian dari masa kecilnya.
Masa mudanya diwarnai dengan kegiatan unik. Ia merupakan seorang drummer band heavy metal, penyelam scuba, dan penggemar otomotif. Mobil kesayangannya, Toyota Supra, kini bahkan dipajang di museum lokal.
Sebelum terjun ke dunia politik, ia sempat bekerja sebagai pembawa acara televisi. Ketertarikannya terhadap politik muncul di tahun 1980-an saat hubungan perdagangan antara Jepang dan Amerika Serikat memanas.
Untuk memahami cara pandang AS terhadap Jepang, ia bekerja di kantor anggota Kongres Demokrat Patricia Schroeder, yang dikenal kritis terhadap Jepang.
Pengalaman itu membentuk pandangan politik Takaichi. Ia menyadari bahwa Jepang kerap disamakan dengan China dan Korea, baik dari sisi budaya maupun geopolitik. Ia pun menyimpulkan, “Selama Jepang tidak bisa membela dirinya sendiri, nasibnya akan selalu bergantung pada opini dangkal AS.”
Karier Politik Panjang dan Konsisten
Takaichi pertama kali maju sebagai kandidat independen dalam pemilu 1992 namun kalah. Ia tak menyerah. Setahun kemudian, ia memenangkan kursi dan resmi bergabung dengan LDP pada 1996.
Sejak itu, ia telah terpilih menjadi anggota parlemen sebanyak 10 kali dan hanya sekali kalah. Namanya menonjol sebagai salah satu tokoh konservatif paling vokal di LDP.
Ia pernah menjabat sebagai Menteri Urusan Dalam Negeri dan Komunikasi dengan masa jabatan terlama, serta memegang berbagai posisi penting seperti Menteri Keamanan Ekonomi dan Menteri Perdagangan dan Industri.
Takaichi mencalonkan diri sebagai ketua LDP pada 2021 dan 2024, namun kalah dalam dua kesempatan tersebut. Pada percobaan ketiganya tahun ini, ia berhasil meraih kemenangan dan ditetapkan sebagai perdana menteri oleh parlemen.
Pandangan Konservatif dan Isu Gender
Dikenal sebagai konservatif garis keras, Takaichi menentang pernikahan sesama jenis dan tidak setuju jika perempuan menikah mempertahankan nama gadis mereka.
Namun dalam kampanyenya kali ini, ia sedikit melunak. Ia berjanji menjadikan biaya babysitter sebagian dapat dikurangkan pajak, serta mengusulkan insentif pajak bagi perusahaan yang menyediakan penitipan anak.
Kebijakan sosialnya juga dipengaruhi pengalaman pribadi. Ia mengatakan telah tiga kali merawat anggota keluarga yang sakit. Karena itu, ia mendorong pengembangan layanan kesehatan perempuan, pengakuan lebih besar terhadap pekerja rumah tangga, dan perbaikan sistem perawatan lansia.
“Saya ingin menciptakan masyarakat di mana orang tidak harus berhenti dari karier mereka hanya karena harus merawat anak, keluarga, atau menghadapi anak yang menolak sekolah,” ujarnya, dilansir BBC.
Sebagai murid politik mendiang Shinzo Abe, Takaichi berkomitmen melanjutkan kebijakan ekonomi "Abenomics" yang fokus pada belanja publik besar dan suku bunga rendah.
Ia juga kerap mengunjungi Kuil Yasukuni yang kontroversial, tempat penghormatan bagi tentara Jepang termasuk yang pernah divonis sebagai penjahat perang. Selain itu, ia mendorong pelonggaran pembatasan konstitusional terhadap Pasukan Bela Diri Jepang agar bisa memiliki kemampuan ofensif.
LDP di Titik Balik
Meskipun telah lama mendominasi politik Jepang, LDP kini menghadapi tekanan besar. Partai tersebut kehilangan mayoritas di kedua kamar parlemen, dan sebagian pemilih konservatif beralih ke Partai Sanseito yang berhaluan kanan ekstrem.
Sanseito, dengan slogan "Jepang Nomor Satu", mengalami lonjakan perolehan kursi dari 1 menjadi 15, menggerus basis konservatif LDP. Takaichi sendiri mengakui tantangan ini dalam pidatonya usai menang di putaran pertama pemilihan ketua partai.
“Kami menerima kritik sangat tajam dari para pendukung inti kami, kalangan konservatif dan anggota partai sendiri,” ujarnya.
“LDP harus berubah demi masa kini dan masa depan Jepang. Kami akan selalu mengutamakan kepentingan nasional dan memimpin dengan keseimbangan,” tukasnya.