Sanae Takaichi resmi terpilih sebagai Perdana Menteri (PM) Jepang setelah memenangkan pemungutan suara di parlemen. Foto: Getty Image via BBC
TOKYO, (ERAKINI) - Sanae Takaichi resmi terpilih sebagai Perdana Menteri (PM) Jepang setelah memenangkan pemungutan suara di parlemen. Hal ini menjadikannya perempuan pertama yang menduduki jabatan PM Jepang dalam sejarah.
Dikutip dari BBC, Selasa (21/20/2025), perempuan berusia 64 tahun itu meraih kemenangan meyakinkan, dengan perolehan 237 suara di Majelis Rendah dan 125 suara di Majelis Tinggi, usai terpilih sebagai pemimpin Partai Demokrat Liberal (LDP) yang berkuasa.
Takaichi, seorang konservatif garis keras yang dikenal sebagai pengagum mendiang mantan Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher, mengambil alih kepemimpinan di tengah kondisi ekonomi Jepang yang penuh tantangan. Negara dengan ekonomi terbesar keempat di dunia itu sedang menghadapi lonjakan biaya hidup dan ketidakpuasan publik yang meningkat.
Penunjukannya terjadi di tengah ketidakstabilan politik dalam beberapa tahun terakhir. Ia menjadi perdana menteri keempat dalam lima tahun, setelah para pendahulunya mengundurkan diri akibat skandal dan anjloknya tingkat kepuasan publik.
Meski berhasil mengalahkan empat kandidat pria dalam pemilihan internal LDP pada awal Oktober, jalannya menuju kursi perdana menteri sempat terhambat setelah partai koalisi LDP, Komeito, menarik dukungannya. Namun, sebuah kesepakatan menit akhir dengan partai oposisi berhasil menyelamatkan pencalonannya. Takaichi dan LDP dijadwalkan menghadapi pemilu nasional berikutnya pada 2028.
Tantangan Domestik dan Internasional
Di dalam negeri, Takaichi menghadapi tantangan besar terkait reformasi sosial dan ekonomi. Di luar negeri, ia dihadapkan pada hubungan diplomatik yang rumit.
Korea Selatan yang sempat memperbaiki hubungan bilateral dengan Jepang, kini kembali bersikap hati-hati karena pandangan nasionalis sayap kanan yang dianut Takaichi. Seperti beberapa pendahulunya, termasuk mendiang Shinzo Abe, ia dinilai cenderung hawkish, terutama terhadap China yang semakin berpengaruh.
Namun, tantangan terbesar datang dari hubungan Jepang dengan Amerika Serikat. Pekan depan, ia dijadwalkan bertemu Presiden AS Donald Trump. Meskipun kedua negara telah mencapai kesepakatan tarif, pernyataan Trump sebelumnya yang meragukan nilai aliansi keamanan dan meminta Jepang menambah kontribusi biaya pertahanan, menimbulkan kekhawatiran.
Takaichi harus mampu menavigasi hubungan ini di tengah dinamika pemerintahan AS yang tidak dapat diprediksi.
Respons Publik Sanae Takaichi bukanlah sosok baru di dunia politik Jepang. Ia telah berkecimpung selama puluhan tahun, menjabat dalam berbagai posisi menteri, dan dikenal sebagai sekutu dekat mantan PM Shinzo Abe. Ia akhirnya terpilih sebagai pemimpin LDP setelah Shigeru Ishiba mundur pasca kekalahan besar partai dalam pemilu paruh waktu.
Dijuluki "Iron Lady" karena kekagumannya pada Margaret Thatcher, Takaichi dikenal memiliki pandangan konservatif. Ia menolak pernikahan sesama jenis dan tak mendukung upaya hukum yang memungkinkan perempuan menikah mempertahankan nama keluarga gadis mereka, dua isu yang menjadi sorotan generasi muda Jepang.
Sikap politiknya membuat sebagian kalangan meragukan arti penting terpilihnya ia sebagai perdana menteri perempuan pertama.
"Semua orang berkata: wah, dia perempuan pertama yang jadi perdana menteri Jepang. Ini peluang besar untuk pemberdayaan perempuan," kata Ayda Ogura, mahasiswi 21 tahun.
"Tapi kalau melihat pandangan politik dan apa yang dia perjuangkan, banyak hal justru sangat tradisional. Bukannya membawa perubahan, ia malah memperkuat sistem patriarki," lanjutnya.
Namun demikian, dalam kampanye terbarunya, Takaichi mengusulkan perluasan layanan kesehatan untuk perempuan dan peningkatan pengakuan terhadap pekerja rumah tangga, langkah yang dianggap sebagian kalangan sebagai upaya moderasi dalam kebijakan sosialnya.