Pengerahan tankIsrael ini menjadi yang pertama kalinya dalam lebih dari 20 tahun sebagai bagian dari serangan militer intensif yang telah membuat 40.000 wargaPalestina mengungsi dari kamp pengungsi di utara.
Israel pada hari Minggu (23/2/2025) mengatakan bahwa pasukannya akan tinggal di kamp-kamp pengungsi Tepi Barat untuk tahun mendatang, dan mengumumkan perluasan operasi militer, termasuk pengerahan tank.
Tepat setelah gencatan senjata dimulai di Jalur Gaza sekitar sebulan lalu, militer Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap pejuang Palestina di Tepi Barat. Operasi tersebut mencakup beberapa kamp pengungsi di dekat kota Jenin, Tulkarem dan Tubas.
“Sejauh ini, 40.000 wargaPalestina telah dievakuasi dari kamp pengungsi Jenin, Tulkarem, dan Nur Shams, yang kini kosong dari penduduk,” kata Menteri Pertahanan IsraelIsrael Katz dalam sebuah pernyataan dikutip dari Al Jazeera, Senin (24/2/2025).
“Saya telah menginstruksikan [pasukan] untuk bersiap menghadapi kehadiran jangka panjang di kamp-kamp yang telah dibersihkan pada tahun mendatang dan untuk mencegah kembalinya penduduk dan kebangkitan terorisme,” tambahnya.
Menurut PBB, serangan Israel sejauh ini telah menewaskan sedikitnya 51 wargaPalestina, termasuk tujuh anak-anak, dan tiga tentara Israel, serta membuat sedikitnya 40.000 orang mengungsi.
Militer Israel pada hari Minggu mengumumkan bahwa “sebuah divisi tank akan beroperasi di Jenin” sebagai bagian dari “perluasan” operasi di daerah tersebut.
Ini adalah pertama kalinya tank-tank bergerak ke wilayah tersebut sejak berakhirnya Intifada kedua, atau pemberontakan, pada tahun 2005. “Brigade [infanteri] Nahal dan pasukan [elit] Duvdevan telah mulai melakukan intervensi di desa-desa lain” di utara wilayah tersebut, kata pernyataan Katz, seraya menambahkan bahwa mereka “melanjutkan operasi mereka di wilayah Jenin dan Tulkarem”.
Di Tulkarem dan Jenin, tentara menghancurkan puluhan rumah dengan bahan peledak, membuka jalur akses baru ke kamp-kamp yang padat penduduknya. Buldoser lapis baja mendatangkan malapetaka, menjungkirbalikkan aspal, memutus pipa air, dan merobohkan fasad pinggir jalan.
Adapun kekerasan di Tepi Barat meningkat sejak perang di Gaza pecah pada Oktober 2023. Pasukan atau pemukim Israel telah membunuh sedikitnya 900 wargaPalestina, termasuk banyak pejuang, di wilayah tersebut sejak awal konflik, menurut Kementerian Kesehatan Palestina.