Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio (kiri) dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu saling menyapa saat konferensi pers bersama di kantor perdana menteri di Yerusalem pada 16 Februari 2025. (Foto: AFP)
Rubio juga mengutuk kematian anggota keluarga Israel yang ditahan oleh kelompok tersebut. “Perlakuan Hamas terhadap para sandera, termasuk pembunuhan brutal terhadap keluarga Bibas, lebih jauh menggambarkan kebiadaban mereka dan merupakan alasan lain mengapa kami mengatakan para teroris ini harus segera melepaskan semua sandera atau dimusnahkan,” tulis Rubio di X dikutip dari AFP, Minggu (22/2/2025).
Sebelumnya, Israel menunda pembebasan ratusan tahanan Palestina tanpa penjelasan pada hari Sabtu (22/2/2025) setelah Hamas membebaskan 6 sandera terakhir yang masih hidup.
Sebagaimana dilansir dari Arab News, 3 pria Israel yang dibebaskan adalah mereka ditangkap dari festival musik Nova dan satu lagi diambil saat mengunjungi keluarga di Israel selatan selama serangan pimpinan Hamas pada 7 Oktober 2023, yang memicu perang 16 bulan di Gaza. Dua orang lainnya ditahan selama satu dekade setelah memasuki Gaza sendirian.
Sementara itu, pembebasan lebih dari 600 warga Palestina yang dipenjarakan oleh Israel – pembebasan tahanan satu hari terbesar dalam fase pertama gencatan senjata – tidak terjadi tepat setelah pembebasan sandera seperti yang diharapkan.
Terkait penundaan itu, pemerintah Israel tidak menanggapi pertanyaan. Hamas menuduh Israel melanggar perjanjian gencatan senjata, dan juru bicara Hamas Abdel Latif Al-Qanou menuduh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu “sengaja mengulur waktu.”
Pembebasan sandera tersebut menyusul perselisihan yang memilukan ketika Hamas pada hari Kamis menyerahkan jenazah yang salah untuk Shiri Bibas, seorang ibu Israel yang diculik bersama dua putranya yang masih kecil.
Jenazah tersebut dipastikan merupakan milik seorang wanita Palestina. Netanyahu bersumpah akan membalas dendam atas “pelanggaran yang kejam dan jahat.” Hamas berpendapat bahwa hal itu adalah sebuah kesalahan.
Otoritas forensik Israel mengonfirmasi bahwa jenazah yang diserahkan pada hari Jumat adalah Bibas. Dr Chen Kugel, kepala Institut Kedokteran Forensik Nasional, mengatakan mereka tidak menemukan bukti Bibas dan anak-anaknya tewas dalam serangan udara Israel, seperti yang diklaim Hamas. Kugel tidak memberikan alasannya.
Hamas membantah klaim militer Israel, berdasarkan bukti forensik dan “intelijen” yang tidak disebutkan secara spesifik bahwa militannya membunuh anak-anak “dengan tangan kosong,” dan menyebutnya sebagai kebohongan yang bertujuan untuk membenarkan tindakan militer Israel terhadap warga sipil di Gaza.