Gelombang Serangan Brutal Hantam Rumah Sakit di Darfur Sudan, WHO Angkat Suara
Akhmad Baihaqi Arsyad
KAIRO, (ERAKINI) – Serangan bersenjata yang terjadi di salah satu rumah sakit di wilayah Darfur, Sudan, berlangsung dalam beberapa tahap dan menewaskan ratusan orang. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kelompok milisi bersenjata diduga menembaki tenaga medis, pasien, serta warga sipil yang mencari perlindungan di fasilitas tersebut. Sedikitnya 460 korban jiwa dilaporkan dalam tragedi yang terjadi Selasa lalu.
Insiden mengerikan ini diyakini sebagai salah satu rangkaian kekerasan yang dilakukan Pasukan Dukungan Cepat (RSF) saat mereka berhasil menguasai kota strategis el-Fasher, setelah blokade berkepanjangan selama 18 bulan.
Kesaksian warga menggambarkan kekejaman para penyerang yang bergerak dari rumah ke rumah, mengeksekusi warga sipil, hingga melakukan kekerasan seksual. Banyak informasi baru perlahan muncul, sementara angka pasti korban masih belum dapat dipastikan akibat keterbatasan akses dan komunikasi.
Babak Baru Perang Sudan
Jatuhnya el-Fasher menandai fase lanjutan dari konflik dua tahun antara RSF dan militer Sudan. Data PBB menyebut lebih dari 40.000 orang tewas, namun lembaga kemanusiaan memperkirakan jumlah riil jauh lebih tinggi. Perang juga memaksa 14 juta warga mengungsi, memicu wabah penyakit, hingga menciptakan kondisi kelaparan parah di berbagai wilayah Darfur.
Koneksi telekomunikasi terputus total di el-Fasher, kota semi-gurun sekitar 800 km dari Khartoum. Organisasi kemanusiaan telah banyak meninggalkan kota itu akibat kondisi keamanan yang memburuk.
Lebih dari 62.000 penduduk diperkirakan melarikan diri sejak Minggu hingga Rabu, menurut badan migrasi PBB. Namun hanya sekitar 5.000 orang yang berhasil mencapai kamp pengungsian di Tawila, memunculkan kekhawatiran besar terhadap nasib puluhan ribu lainnya.

















