Hamas belum menerima rencana gencatan senjata Presiden AS Donald Trump untuk Gaza, demikian pernyataan kelompok Palestina yang mengelola wilayah kantong tersebut pada hari Sabtu (27/9/2025), sementara pasukan Israel memperluas serangan mereka ke Kota Gaza. (Foto: Reuters).
RAMALLAH, (ERAKINI) - Hamas menegaskan bahwa mereka belum pernah memperoleh naskah rencana gencatan senjata yang digembar-gemborkan oleh Presiden ASDonald Trump. Pernyataan ini muncul di tengah eskalasi serangan yang semakin mendominasi Kota .
Klaim Hamas ini berkebalikan dengan laporan media Israel, Haaretz, yang menyebut bahwa kelompok Palestina itu sudah sepakat secara prinsip untuk melepas semua sandera Israel. Imbalannya: pembebasan ratusan tahanan Palestina, penarikan bertahap pasukan Israel, dan penghentian kekuasaan Hamas di Gaza — dengan catatan bahwa Israel tidak mencaplok wilayah tersebut atau menggusur warga Palestina. Namun sejauh ini, Hamas belum mengonfirmasi apapun.
Seorang pejabat Hamas anonim kepada Reuters menyatakan: “Hamas belum diberikan rancangan atau draf apa pun.”
Trump sendiri pernah menyatakan kepada pers bahwa “sepertinya kita sudah mencapai kesepakatan mengenai Gaza,” tetapi dia tidak merinci isi maupun jadwal pelaksanaan rencananya. Sampai kini, Israel juga belum memberikan tanggapan resmi atas klaim Trump tersebut.
Rencana 21 poin yang dikaitkan dengan usulan Trump digambarkan menuntut pembubaran kekuasaan Hamas di Gaza dan pengusiran warga Palestina sebagai komponen yang mengejutkan dan kontroversial. Sebagian laporan menyebut bahwa Israel dianggap “setuju” untuk tidak mencaplok wilayah tersebut, namun tetap berhak menekan dan membatasi aktivitas warga Palestina.
Langkah ini semakin memperlihatkan bahwa kesepakatan damai yang dikedepankan AS dan Israel bukanlah damai sejati bagi rakyat Palestina, melainkan mekanisme kontrol yang melemahkan hak-hak dasar mereka.
Sementara politik perundingan riuh, warga Gaza tetap menjadi korban taktis dalam konflik ini. Militer Israel melaporkan melancarkan sekitar 120 serangan udara di berbagai titik sepanjang garis depan dalam sehari terakhir.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan Palestina menyebut sedikitnya 74 orang tewas dalam rentang waktu 24 jam akibat serangan tersebut. Di media sosial X, juru bicara militer Arab menyerukan agar penduduk di Kota Gaza segera mengungsikan diri demi menghindari jatuhnya korban lebih besar lagi.
Menurut Program Pangan Dunia (WFP), antara 350.000 hingga 400.000 warga Palestina telah meninggalkan Gaza sejak serangan darat Israel diperluas. Namun nyaris ratusan ribu lainnya tetap terjebak dalam kekacauan konflik.
Israel terus memaksakan logika militer atas kemanusiaan; warga sipil dan infrastruktur Gaza menjadi sasaran pembersihan yang disamarkan sebagai operasi militer. Amerika Serikat, alih-alih menjadi penengah netral, tampak mendukung agenda Israel secara terang-terangan — mulai dari penyusunan rencana gencatan hingga tekanan terhadap Hamas.
Proposal AS–Israel yang memuat pembubaran Hamas dan pengusiran warga Palestina mengancam hak hidup, identitas wilayah, dan daya kelola masyarakat Palestina sendiri.
Meski tekanan diplomatik tinggi, skema yang ditawarkan sejauh ini hanya menguntungkan pihak pendudukan, sedangkan rakyat Palestina tetap terjebak di tengah perang tanpa perlindungan.