Dilansir dari Aljazeera, Kamis (9/5/2024), Badan pemantauan perubahan iklim Uni Eropa Copernicus Climate Change Service (C3S) pada hari Rabu (8/5/2024) menyampaikan bahwa dunia mengalami rekor terpanas pada bulan April 2024.
Setiap bulan sejak Juni 2023, menurut badan tersebut, menduduki peringkat rekor terpanas di planet ini, dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun-tahun sebelumnya.
Kondisi yang sangat hangat ini terjadi meskipun El Nino melemah – fenomena cuaca yang menghangatkan Samudera Pasifik dan menyebabkan kenaikan suhu global – membuat para peneliti menyalahkan perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia.
Sementara itu, di Timur dan sebagian besar Afrika khususnya memanas pada bulan April, kata C3S, mendukung laporan rekor gelombang panas yang memaksa sekolah-sekolah tutup di Sudan Selatan dan melihat negara-negara seperti Slovakia mencatat suhu siang hari tertinggi di atas 30C (86F) pada musim semi.
Bulan April di seluruh dunia ditandai dengan bulan yang mengalami perubahan ekstrem dalam bentuk banjir dan kekeringan. Sebagian wilayah Asia Selatan dan Tenggara, mulai dari Bangladesh hingga Vietnam, dilanda gelombang panas yang menyengat, sementara Brasil bagian selatan, Uni Emirat Arab, serta negara-negara Afrika Timur seperti Kenya dan Tanzania dilanda banjir mematikan.
Kemudian, Pakistan mencatat curah hujan bulanan 2 kali lipat dari normalnya pada bulan April, menjadikannya bulan terbasah di negara itu dalam lebih dari 60 tahun.
Lalu, sebagian besar wilayah Eropa mengalami bulan April yang lebih basah dari biasanya, sementara Spanyol bagian selatan, Italia, dan Balkan Barat lebih kering dari rata-rata, lapor C3S.
Sementara itu, Australia bagian timur dilanda hujan lebat, meskipun sebagian besar wilayah negara itu mengalami kondisi yang lebih kering dari biasanya, seperti halnya Meksiko bagian utara.
Menurut badan tersebut, suhu rata-rata permukaan laut juga luar biasa tinggi, memecahkan rekor pada bulan April selama 13 bulan berturut-turut, meskipun El Nino melemah.
Lautan yang lebih hangat mengancam kehidupan laut, dan berkontribusi pada atmosfer yang lebih panas, membuat perairan menjadi kurang efektif dalam menyerap emisi gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global.