Yahya Sinwar, pemimpin Hamas di Gaza, menyapa para pendukungnya saat pertemuan dengan para pemimpin faksi Palestina di kantornya di Kota Gaza, pada 13 April 2022. (Foto: AP)
JERUSALEM, (ERAKINI) - Israel berjanji untuk “menghilangkan” pemimpin baru HamasYahya Sinwar, yang diduga dalang serangan 7 Oktober, yang penunjukannya semakin mengobarkan ketegangan regional ketika perang Gaza memasuki bulan ke-11 pada hari Rabu (7/8/2-24).
Penunjukan Sinwar untuk memimpin kelompok militan Palestina terjadi ketika Israel bersiap menghadapi potensi pembalasan Iran atas pembunuhan pendahulunya Ismael Haniyeh pekan lalu di Teheran.
Berbicara di pangkalan militer pada hari Rabu, (7/8/2024) Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan Israel “bertekad” untuk mempertahankan diri. “Kami siap secara defensif dan ofensif,” katanya dikutip dari Arab News, Kamis (8/8/2024).
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri IsraelIsrael Katz pada Selasa (6/8/2024) malam mengatakan bahwa promosi Sinwar adalah “satu lagi alasan kuat untuk segera melenyapkannya dan menghapus organisasi keji ini dari muka bumi.”
Sinwar, pemimpin Hamas di Gaza sejak 2017, tidak terlihat lagi sejak serangan 7 Oktober, yang merupakan serangan paling mematikan dalam sejarah Israel. Seorang pejabat senior Hamas mengatakan kepada AFP bahwa terpilihnya Sinwar mengirimkan pesan bahwa organisasi tersebut “melanjutkan jalur perlawanannya.”
Sekutu Hamas di Lebanon, Hizbullah, mengucapkan selamat kepada Sinwar dan mengatakan bahwa penunjukan tersebut menegaskan “musuh… telah gagal mencapai tujuannya” dengan membunuh para pemimpin dan pejabat Hamas.
Sementara itu, para analis yakin Sinwar lebih enggan menyetujui gencatan senjata di Gaza dan lebih dekat dengan Teheran dibandingkan Haniyeh, yang tinggal di Qatar. “Jika kesepakatan gencatan senjata tampaknya tidak mungkin terjadi setelah kematian Haniyeh, maka hal ini bahkan lebih kecil kemungkinannya terjadi di bawah Sinwar,” menurut Rita Katz, direktur eksekutif SITE Intelligence Group. “Kelompok ini hanya akan bersandar pada strategi militan garis kerasnya dalam beberapa tahun terakhir,” tambahnya.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan kepada wartawan bahwa Sinwarlah yang harus membantu mencapai gencatan senjata, dengan mengatakan bahwa dia “telah dan tetap menjadi penentu utama.”
Warga sipil di Israel dan Gaza menyambut penunjukan Sinwar dengan perasaan tidak nyaman. Mohammad Al-Sharif, seorang pengungsi Gaza, mengatakan kepada AFP: “Dia adalah seorang pejuang. Bagaimana negosiasi akan berlangsung?”
Di Tel Aviv, manajer perusahaan logistik Hanan, yang tidak ingin menyebutkan nama keduanya, mengatakan bahwa penunjukan Sinwar berarti Hamas “tidak merasa perlu untuk mencari seseorang yang tidak terlalu militan, seseorang dengan pendekatan yang tidak terlalu mematikan.”