AS-Iran Dikabarkan Mau Bahas Kesepakatan Nuklir di Istanbul, Diplomasi di Tengah Bayang-Bayang Perang?
Akhmad Baihaqi Arsyad
JAKARTA, (ERAKINI) - Amerika Serikat (AS) dan Iran dikabarkan tengah mempersiapkan pertemuan tingkat tinggi untuk membahas kemungkinan kesepakatan nuklir baru. Melansir Axios, berdasarkan keterangan dua sumber yang mengetahui rencana tersebut, utusan khusus Gedung Putih Steve Witkoff dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi diperkirakan akan bertemu pada Jumat (6/2/2026) mendatang di Istanbul, Turki.
Namun, seorang sumber lain yang memahami dinamika perencanaan itu menegaskan bahwa pertemuan tersebut masih bersifat tentatif. Ia menyebut pertemuan Jumat sebagai “skenario paling ideal,” seraya mengingatkan bahwa kepastian baru dapat dikonfirmasi ketika pertemuan benar-benar terlaksana.
Jika terealisasi, pertemuan ini akan menjadi kontak langsung pertama antara pejabat tinggi AS dan Iran sejak runtuhnya perundingan sebelumnya serta konflik bersenjata selama 12 hari pada Juni lalu. Dialog ini berlangsung di tengah peningkatan signifikan kekuatan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk, serta tekanan dari Presiden Donald Trump yang menegaskan bahwa jalan satu-satunya untuk menghindari konfrontasi militer adalah tercapainya kesepakatan nuklir dalam waktu singkat.
Peran Negara Penengah
Rencana pertemuan tersebut disebut merupakan hasil dari upaya diplomatik intensif yang dilakukan Turki, Mesir, dan Qatar dalam beberapa hari terakhir. Pada Senin, menteri luar negeri Turki dan Mesir kembali menghubungi Abbas Araghchi untuk membahas peluang terselenggaranya dialog langsung dengan perwakilan Amerika Serikat.
Media pemerintah Iran juga melaporkan bahwa Presiden Masoud Pezeshkian telah menginstruksikan agar dilakukan kembali perundingan dengan pemerintahan Trump, menandai sinyal keterbukaan Teheran terhadap jalur diplomasi.
Dalam pidatonya pada Senin, Araghchi menegaskan kesiapan Iran untuk berunding, namun menolak pendekatan yang berbasis tekanan.
“Iran terbuka terhadap diplomasi. Namun, diplomasi tidak dapat berjalan di bawah tekanan, intimidasi, dan kekerasan. Kami berharap hasil nyata dapat segera terwujud,” ujarnya.
Titik Gesekan Lama
Di balik peluang dialog tersebut, perbedaan mendasar masih membayangi. Pemerintahan Trump sejak lama menuntut agar kesepakatan apa pun mencakup tidak hanya program nuklir Iran, tetapi juga pengembangan rudal balistik serta aktivitas jaringan proksi regional. Sebaliknya, Iran secara konsisten menegaskan bahwa perundingan hanya boleh terbatas pada isu nuklir.
Belum diketahui bagaimana Witkoff dan Araghchi akan menjembatani perbedaan tajam tersebut dalam pertemuan yang direncanakan.
Dalam perkembangan terkait, Witkoff dijadwalkan melakukan kunjungan ke Israel pada Senin dan bertemu Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada Selasa, atas permintaan langsung dari Netanyahu. Selain itu, Witkoff juga akan bertemu Kepala Staf Pasukan Pertahanan Israel (IDF), Jenderal Eyal Zamir, yang baru kembali dari kunjungan ke Washington.
Dalam lawatannya ke AS, Zamir dilaporkan bertemu dengan Ketua Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat Jenderal Dan Caine untuk membahas rencana pertahanan dan opsi serangan Israel apabila terjadi konflik terbuka dengan Iran.
Setelah dari Israel, Witkoff dijadwalkan bertolak ke Abu Dhabi untuk mengikuti pembicaraan perdamaian trilateral antara Rusia dan Ukraina pada Rabu dan Kamis. Dari sana, ia diperkirakan melanjutkan perjalanan ke Turki untuk menghadiri pertemuan dengan Abbas Araghchi.


















