Presiden AS Donald Trump berharap agar konfrontasi bersenjata dengan Iran tidak perlu terjadi, sementara Iran membalas dengan ancaman terbuka. Presiden Donald Trump sebelumnya memperingatkan bahwa waktu 'hampir habis' bagi Teheran saat AS mengirimkan armada angkatan laut besar ke wilayah tersebut. (Foto: AP).
PARIS, (ERAKINI) - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan harapannya agar konfrontasi bersenjata dengan Iran tidak perlu terjadi, di tengah meningkatnya ketegangan setelah Teheran melontarkan ancaman serangan terhadap pangkalan militer dan kapal induk AS sebagai respons atas potensi agresi dari Washington.
Trump mengungkapkan bahwa komunikasi dengan Iran masih berlangsung dan peluang penyelesaian damai tetap terbuka. Pernyataan ini muncul tak lama setelah ia sebelumnya memperingatkan bahwa kesempatan Teheran untuk mencapai kesepakatan semakin menipis, seiring pengiriman armada laut Amerika Serikat dalam jumlah besar ke kawasan Timur Tengah.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan dialog langsung, Trump menegaskan bahwa pembicaraan sudah dilakukan dan akan terus berlanjut. Ia juga menyinggung pengerahan kekuatan militer AS ke wilayah dekat Iran, seraya berharap langkah tersebut tidak perlu digunakan dalam operasi tempur.
Pernyataan itu disampaikan Trump kepada awak media saat menghadiri pemutaran perdana film dokumenter tentang istrinya, Melania Trump.
Di tengah saling ancam antara Washington, Brussel, dan Teheran, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyerukan dihidupkannya kembali perundingan nuklir guna mencegah krisis yang berpotensi menimbulkan dampak kehancuran luas di kawasan.
Sementara itu, militer Iran mengeluarkan peringatan keras. Seorang juru bicara angkatan bersenjata menegaskan bahwa setiap aksi militer Amerika Serikat akan dibalas secara cepat dan tegas, tanpa batasan skala. Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia menyebut kapal induk AS memiliki kelemahan serius dan mengklaim sejumlah pangkalan militer Amerika di kawasan Teluk berada dalam jangkauan rudal jarak menengah Iran.
Ia menolak anggapan bahwa Washington dapat melakukan serangan singkat dan segera mengumumkan kemenangan, seraya menegaskan bahwa respons Iran akan datang seketika dan tidak terduga.
Seorang pejabat kawasan Teluk yang negaranya menjadi tuan rumah pangkalan militer AS mengakui bahwa kekhawatiran terhadap kemungkinan serangan terhadap Iran sangat nyata. Menurutnya, konflik terbuka akan memicu kekacauan regional, menghantam perekonomian global, serta menyebabkan lonjakan drastis harga minyak dan gas, termasuk di Amerika Serikat sendiri.
Upaya meredakan ketegangan juga dilakukan melalui jalur diplomatik regional. Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al-Thani dilaporkan melakukan percakapan telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian untuk membahas langkah-langkah menurunkan eskalasi dan menjaga stabilitas kawasan.
Di sisi lain, Uni Eropa meningkatkan tekanan politik dengan menetapkan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) sebagai organisasi teroris, menyusul tindakan keras berdarah terhadap demonstrasi besar-besaran di Iran. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyebut keputusan tersebut sebagai langkah yang sudah lama dinantikan, seraya mengecam keras kekerasan terhadap rakyat sipil.
Meski bersifat simbolis, keputusan itu memicu reaksi keras dari Teheran. Militer Iran mengecam Uni Eropa karena dianggap bertindak tidak rasional, tidak bertanggung jawab, dan tunduk pada kepentingan Amerika Serikat serta Israel. Pemerintah Iran juga menuduh kedua negara tersebut berada di balik gelombang protes domestik, dengan klaim adanya campur tangan asing yang memicu kerusuhan dan aksi teror.
Kelompok pembela hak asasi manusia melaporkan bahwa ribuan orang tewas akibat tindakan aparat keamanan, termasuk unsur IRGC, selama penindakan terhadap demonstrasi.