MAKKAH, (ERAKINI) - Musyrif Diny Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Prof Dr KH Asrorun Ni’am Sholeh mengimbau ratusan ribu jemaah haji Indonesia menjaga kesehatan menjelang pelaksanaan wukuf di Arafah pada Selasa (26/5/2026) atau 8 Dzulhijjah 1447 Hijriah.
Menurut Prof Niam, rangkaian puncak ibadah haji membutuhkan kesiapan fisik, spiritual, dan pemahaman manasik yang matang agar seluruh proses ibadah dapat dijalani dengan baik.
“Sebentar lagi akan dilalui puncak ibadah haji, mulai dari wukuf di Arafah, kemudian mabit di Muzdalifah, mabit di Mina, kemudian lontar jamarat hingga tawaf ifadah dan juga sai,” kata Prof Niam kepada tim Media Center Haji (MCH) di Makkah, Sabtu (23/5/2026).
Prof Niam menjelaskan, ibadah haji merupakan ibadah yang membutuhkan kekuatan fisik sekaligus kesiapan ruhani.
“Ibadah haji, ibadah fi’liyah membutuhkan fisik yang bugar, ibadah ruhiyah membutuhkan spiritualitas yang kokoh, dan ibadah maliyah membutuhkan bekal finansial yang memadai. Karena itu menjelang puncak kegiatan ibadah haji ini perlu persiapan ketiga-tiganya,” ujarnya.
Prof Niam meminta jemaah menjaga kebugaran tubuh dengan mengatur energi dan memperhatikan asupan makanan serta waktu istirahat menjelang fase Armuzna.
“Yang pertama, terkait dengan fisik perlu kita jaga. Masih ada waktu, kita jaga kebugaran, kita save energi kita untuk persiapan Armuzna, kita minum vitamin yang cukup, memakan makanan yang disediakan, istirahat yang cukup. Ini kesiapan fisik,” tuturnya.
Selain menjaga kondisi tubuh, ia juga mengingatkan jemaah untuk memperkuat spiritualitas selama berada di Tanah Haram.
“Kita optimalkan doa kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, di mana kita berada adalah bumi yang dilipatgandakan pahala kebaikan kita dan doa diijabah. Di tanah haram doa-doa mustajab,” kata dia.
Prof Niam mengajak jemaah memanjatkan doa tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk keluarga, masyarakat, dan para pemimpin bangsa.
“Jangan lupa sertakan di dalam doa kita, doa untuk keluarga, doa untuk masyarakat, doa untuk pemimpin negeri. Doa untuk presiden, untuk para menteri, untuk para pemimpin agar bisa menjalankan tugas-tugas kepemimpinan mewujudkan kemaslahatan bangsa dan kemaslahatan kita semua,” ujarnya.
Prof Niam juga meminta jemaah memperkuat pemahaman terkait manasik haji menjelang keberangkatan ke Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
“Sambil menunggu waktu puncak Armuzna, kita kuatkan literasi dalam hal keagamaan, khususnya terkait dengan ketentuan-ketentuan ibadah haji. Rukunnya harus dipahami, jangan sampai terlewat, termasuk juga waktunya. Kemudian wajibnya dipahami, larangan-larangannya dijaga, sunah-sunahnya dioptimalkan,” katanya.
Selain itu, ia mendorong jemaah memperbanyak amal ibadah, seperti sedekah dan qiyamul lail, sebagai bagian dari ikhtiar spiritual.
“Dan yang paling penting, tawasul dengan amal kebaikan. Kita sedekah. Sedekah bisa menolak bala dan mempercepat dilangitkannya doa,” tutur Prof Niam.
Prof Niam kemudian mengajak jemaah memanfaatkan waktu sepertiga malam untuk melaksanakan ibadah sunnah.
“Setelah istirahat yang cukup, bangun jam 3 di sepertiga malam, kemudian kita tahajud, bisa salat hajat, salat tasbih, itu bagian dari ikhtiar spiritualitas kita,” bebernya.
Menjelang wukuf di Arafah, Prof Niam mengingatkan jemaah agar memanfaatkan momentum tersebut untuk memperbanyak munajat dan introspeksi diri.
“Pada saat nanti tiba waktunya untuk wukuf di Arafah, kita optimalkan waktu emas, golden moment, mulai setelah zawalus syamsi, setelah zuhur. Kita bermunajat kepada Allah, kita membangun keintiman hubungan yang bersifat personal,” kata dia.
Dia berharap seluruh jemaah diberikan kelancaran dalam menjalankan ibadah haji dan memperoleh predikat haji mabrur.
“Kita doakan aktivitas jemaah bisa terlaksana secara baik, diberikan keselamatan, dan diberikan haji yang mabrur. Al-hajju mabrur laisa lahu jaza'un illal jannah,” pungkasnya.