Mostafa dievakuasi ke Mesir beberapa minggu kemudian ketika rumah sakit yang merawatnya dikepung oleh tentara Israel. (Foto: AP)
KAIRO, (ERAKINI) – Namanya Mostafa Qadoura. Saat masih berusia satu minggu, serangan Israel terhadap rumahnya di Jalur Gaza pada bulan Oktober 2024 lalu menghempaskannya dari tempat tidurnya ke udara. Pecahan peluru kemudian terhempas ke mata kanannya dan merusaknya. Serangan itu juga menewaskan salah satu saudara laki-lakinya Ayes (4) dan melukai parah ibunya, Halimah yang saat itu berusia 22 tahun.
Mostafa ditemukan beberapa meter dari rumahnya yang hancur di Jabaliya di utara Gaza – dan masih berada di dalam rumahnya tepatnya di tempat tidur bayi. Mostafa kemudian dievakuasi ke Mesir beberapa minggu kemudian ketika rumah sakit yang merawatnya dikepung oleh tentara Israel. Saat ini Mustafa telah tumbuh menjadi bayi berusia 10 bulan yang tersenyum dan aktif dengan pipi tembemnya.
Namun, tantangan besar masih akan ia hadapi setelah ini. Halimah, dan saudara laki-laki Mostafa lainnya bernama Bassam (6) yang juga tewas dalam serangan terpisah Israel hanya beberapa hari setelah Mostafa dievakuasi.
Nenek dan wali Mostafa, Amna Abd Rabou (40) yang pada bulan April diizinkan melakukan perjalanan ke Mesir untuk merawatnya mengatakan bahwa dia tidak tahu apa yang terjadi pada ayah Mostafa, tapi dia ingat apa yang dikatakan ibunya sehari sebelum dia meninggal.
“Dia meraih tanganku dan memberitahuku bahwa dia ingin bertemu Mostafa. Dia bilang dia takut tidak akan pernah bertemu dengannya lagi,” kenang Abd Rabou dikutip dari Arab News, Jumat (23/8/2024).
Di Rumah Sakit Ibukota Administratif di Kairo, Mostafa baru-baru ini duduk di pangkuan neneknya, bermain mainan dan menyeringai pada perawat yang menemaninya dalam perjalanan dari Gaza ke Mesir. Neneknya pun tersenyum, mengatakan bahwa dia akan menjaganya sesuai janjinya kepada mendiang putrinya.
Saat ini, Mostafa akan memerlukan serangkaian operasi untuk menyesuaikan mata buatannya seiring pertumbuhan tubuhnya. Dan tidak jelas apakah dia akan kembali ke Gaza sebelum perang usai. “Saya tidak tahu harus berkata apa padanya ketika dia besar nanti,” katanya. Rabou dan dan Mostafa terbang ke Malaysia minggu lalu untuk operasi yang dijadwalkan pada hari Senin.
Dalam perang yang telah merenggut nyawa ribuan anak-anak Palestina dan melukai lebih banyak lagi, kisah Mustafa sangat menyayat hati dan, dalam banyak hal, sudah tidak asing lagi bagi banyak keluarga di Gaza yang hancur dan terlantar akibat pertempuran antara Israel dan Hamas.
Mostafa adalah salah satu dari sekitar 3.500 warga Palestina, kebanyakan anak-anak, yang dievakuasi dari Jalur Gaza untuk perawatan medis. Keluarga-keluarga di sana telah mengajukan permintaan agar setidaknya dua kali lipat jumlah anak-anak yang terluka dievakuasi, menurut Organisasi Kesehatan Dunia.
Lebih dari 12.000 anak terluka dalam perang tersebut, menurut pejabat kesehatan Palestina, dan kelompok bantuan mengatakan banyak dari mereka yang tidak diizinkan meninggalkan Gaza menghadapi kondisi kesehatan yang jauh lebih buruk dibandingkan dengan kondisi kesehatan Mustafa.
“Kami bertemu anak-anak yang hidupnya berada di ujung tanduk karena cedera akibat perang atau ketidakmampuan mereka menerima perawatan medis karena kondisi seperti kanker,” kata Tess Ingram, juru bicara UNICEF, badan PBB untuk anak-anak.
Lebih banyak evakuasi medis akan menyelamatkan nyawa dan memperbaiki masa depan anak-anak yang terluka, kata Ingram, “tetapi yang terpenting, kita memerlukan gencatan senjata. Ini adalah satu-satunya cara untuk menghentikan pembunuhan dan pencacatan terhadap anak-anak.”
Perang dimulai pada 7 Oktober, ketika pejuang Hamas menyerang Israel selatan, menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera sekitar 250 orang di Gaza. Lebih dari 40.000 warga Palestina telah tewas dalam pertempuran sejak itu, menurut Kementerian Kesehatan Gaza, yang tidak membedakan antara warga sipil dan militan. Setidaknya seperempatnya adalah anak-anak, menurut kementerian.