Search

Ngeri! AS Pasang ‘Harga Kepala’ Rp160 Miliar untuk Pemimpin Kelompok Bersenjata Irak Hashim Finyan Rahim Al-Saraji

WASHINGTON, (ERAKINI) - Pemerintah Amerika Serikat melalui Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengumumkan hadiah fantastis hingga 10 juta dolar AS (sekitar Rp160 miliar) bagi siapa pun yang memberikan informasi terkait keberadaan pemimpin kelompok bersenjata Irak, Kataeb Sayyid Al-Shuhada (KSS).

Sosok yang diburu adalah Hashim Finyan Rahim Al-Saraji, yang juga dikenal dengan nama Abu Alaa Al-Walai. Ia dituduh memimpin organisasi yang telah ditetapkan Washington sebagai kelompok teroris.

Dalam pernyataan resminya, pihak AS menyebut KSS terlibat dalam berbagai aksi kekerasan. Mereka menuding kelompok tersebut telah “membunuh warga sipil Irak dan menyerang fasilitas diplomatik AS di Irak, serta menyerang pangkalan dan personel militer AS di Irak dan Suriah.” Selain itu, AS juga membuka kemungkinan relokasi bagi informan yang memberikan data valid, dengan menyatakan, “Anda mungkin berhak atas relokasi dan hadiah.”

Menariknya, Al-Saraji bukan hanya figur militer, tetapi juga memiliki pengaruh politik. Ia diketahui menjadi bagian dari Kerangka Koordinasi, aliansi politik Syiah yang saat ini mendominasi parlemen Irak.

Selama beberapa waktu terakhir, kelompok-kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan Iran kerap menargetkan berbagai kepentingan Amerika di Irak, termasuk Kedutaan Besar AS di Baghdad, fasilitas logistik di bandara, hingga ladang minyak yang dikelola perusahaan asing.

Situasi ini semakin kompleks setelah Irak kembali terseret dalam ketegangan kawasan menyusul eskalasi konflik yang dipicu oleh serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu.

Sebelumnya, Washington juga mengumumkan hadiah serupa untuk pemimpin Kataeb Hezbollah, kelompok bersenjata kuat lainnya di Irak yang sempat menculik jurnalis AS Shelly Kittleson dan menahannya selama sepekan sebelum akhirnya dibebaskan.

Di tengah situasi tersebut, AS dilaporkan meningkatkan tekanan terhadap pemerintah Irak dengan menghentikan pengiriman uang tunai serta membekukan pendanaan sejumlah program keamanan. Langkah ini disebut sebagai upaya untuk mendorong Baghdad mengambil tindakan tegas terhadap kelompok-kelompok pro-Teheran yang semakin aktif di kawasan.