AS Blokir Dana Rp7,5 Triliun ke Irak Imbas Serangan Pro-Iran yang Kian Meluas
Akhmad Baihaqi Arsyad
BAGHDAD, (ERAKINI) - Hubungan antara Amerika Serikat dan Irak kembali memanas setelah laporan menyebut Washington menghentikan pengiriman uang tunai hampir 500 juta dolar AS ke Baghdad. Kebijakan ini disebut sebagai respons atas meningkatnya serangan kelompok militan pro-Iran terhadap kepentingan Amerika.
Menurut laporan The Wall Street Journal, pemerintah AS tidak hanya menunda pengiriman uang, tetapi juga membekukan pendanaan untuk sejumlah program keamanan di Irak. Langkah ini menambah tekanan terhadap pemerintah Baghdad agar bertindak tegas terhadap kelompok bersenjata yang didukung Iran.
Irak sendiri berada dalam posisi sulit, terjepit di antara dua kekuatan besar yang sama-sama memiliki pengaruh kuat di kawasan, yakni Iran dan Amerika Serikat. Situasi ini semakin rumit seiring konflik regional yang terus berkecamuk.
Pihak pemerintah Irak berusaha meredam kekhawatiran. Seorang pejabat menyebut keterlambatan pengiriman lebih disebabkan faktor teknis, seperti penutupan wilayah udara akibat konflik. Sementara itu, pejabat Bank Sentral Irak menegaskan bahwa cadangan dolar masih mencukupi dan belum ada kebutuhan mendesak untuk tambahan pasokan.
Namun, sumber keamanan mengonfirmasi bahwa AS memang menghentikan sebagian kerja sama keamanan dengan Irak. Hal ini berkaitan dengan serangan berulang terhadap fasilitas dan kepentingan Amerika di wilayah tersebut.

















