Serangan Israel Guncang Teheran–Beirut, Irak Terseret ke Pusaran Konflik Global
Akhmad Baihaqi Arsyad







Ibu kota Iran terus menjadi sasaran pemboman hampir setiap hari sejak perang dimulai pada 28 Februari akibat operasi gabungan AS dan Israel. Militer Israel menyebut serangan terbarunya menargetkan infrastruktur yang mereka kaitkan dengan rezim Iran.
Memasuki pekan ketiga, perang ini telah merenggut ratusan nyawa dan meluas secara cepat. Iran kini tidak hanya membalas ke negara-negara Teluk, tetapi Israel juga memperluas serangan hingga ke wilayah Lebanon.
Media pemerintah Lebanon melaporkan bahwa serangan udara Israel pada dini hari menghantam kawasan permukiman di pinggiran selatan Beirut, wilayah yang dikenal sebagai basis kelompok Hizbullah yang didukung Iran.
Dampaknya sangat besar. Pemerintah Lebanon menyebut lebih dari satu juta orang telah mengungsi sejak awal Maret. Dari jumlah tersebut, ratusan ribu kini bertahan di ratusan lokasi penampungan darurat.
Irak Kian Terseret Konflik
Keterlibatan Irak semakin nyata setelah kelompok militan pro-Iran melancarkan serangan terhadap Israel sebagai respons atas terbunuhnya pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, di hari pertama perang.
Sejak lama menjadi arena persaingan antara Washington dan Teheran, Irak kini kembali menjadi medan konflik terbuka. Serangan drone dan roket menghantam Kedutaan Besar AS di Baghdad pada Selasa pagi, sementara serangan lain menewaskan empat orang di sebuah rumah yang diduga menampung penasihat Iran.
Ketegangan meningkat setelah sistem pertahanan udara mencegat roket tambahan, sementara sebuah drone memicu kebakaran di hotel mewah di Zona Hijau—kawasan elit yang sering dihuni diplomat asing.
Konflik ini juga mengguncang pasar energi dunia. Harga minyak melonjak tajam, terutama karena gangguan di Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global.
Serangan berulang terhadap fasilitas energi, termasuk ladang minyak di Uni Emirat Arab dan Irak selatan, memperparah ketidakstabilan pasar. Secara keseluruhan, harga minyak global telah melonjak lebih dari 40 persen sejak konflik dimulai.
Dampaknya merambat ke seluruh dunia. Bank sentral Australia bahkan menaikkan suku bunga acuan dengan alasan lonjakan harga energi akibat perang.
Presiden AS Donald Trump mendesak sekutu-sekutu AS untuk ikut serta dalam misi pengawalan kapal tanker di Selat Hormuz. Ia meminta partisipasi cepat dalam pembentukan armada internasional demi menjaga jalur distribusi energi tetap terbuka.
Namun, respons sekutu cenderung dingin. Negara-negara seperti Inggris, Jerman, Jepang, hingga Spanyol enggan terlibat langsung dalam operasi militer tersebut. Bahkan beberapa pihak menegaskan bahwa konflik ini bukan ranah NATO.
Di sisi lain, negara-negara Barat seperti Kanada, Prancis, Jerman, Italia, dan Inggris mendesak Israel untuk menahan diri, khususnya dalam operasi militernya di Lebanon. Meski begitu, Presiden Israel Isaac Herzog justru menyerukan dukungan internasional untuk menghancurkan Hizbullah, menandakan bahwa konflik ini masih jauh dari mereda.
Situasi di Timur Tengah kini berada di titik kritis: perang yang awalnya terbatas telah berkembang menjadi krisis regional dengan dampak global, baik dari sisi keamanan maupun ekonomi.
