Pengungsi Palestina menunggu untuk menerima makanan di titik distribusi makanan, yang didirikan oleh pemuda dari keluarga Madhoun di Beit Lahia, di Jalur Gaza utara pada 18 Juli 2024. (Foto: AFP)
JERUSALEM, (ERAKINI) - Uni Eropa, Perancis dan Inggris pada hari Rabu (7/8/2024) mengecam seorang menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich karena menyatakan bahwa tindakan membuat dua juta warga Gazakelaparan untuk membebaskan sejumlah tawanan yang ditahan di wilayah Palestina adalah tindakan yang “dibenarkan dan bermoral”.
Pernyataan Smotrich memicu kemarahan komunitas internasional, dan Uni Eropa mengatakan kelaparan yang disengaja terhadap warga sipil adalah “kejahatan perang.”
“Ini sekali lagi menunjukkan penghinaannya terhadap hukum internasional dan prinsip-prinsip dasar kemanusiaan,” kata UE dalam sebuah pernyataan dikutip dari Arab News, Jumat (9/8/2024).
“Kami berharap pemerintah Israel dengan tegas menjauhkan diri dari kata-kata Menteri Smotrich,” kata UE, ketika mereka menyerukan akses untuk memenuhi kebutuhan kemanusiaan warga Gaza, termasuk ratusan ribu anak-anak.
Uni Eropa kembali menyerukan “gencatan senjata segera” untuk menjamin pembebasan semua sandera dan juga untuk meningkatkan distribusi bantuan di seluruh Jalur Gaza.
Prancis juga mengkritik Smotrich, menyatakan “kekecewaannya yang mendalam atas pernyataan yang memalukan tersebut.”
Memberikan bantuan kemanusiaan kepada masyarakat Gaza adalah “kewajiban berdasarkan hukum kemanusiaan internasional” bagi Israel karena Israel mengontrol semua akses ke wilayah tersebut, tambahnya.
Menteri Luar Negeri Inggris David Lammy mengatakan di X bahwa “pernyataan Menteri Smotrich tidak dapat dibenarkan,” dan meminta “pemerintah Israel secara lebih luas untuk mencabut dan mengutuk pernyataan tersebut.”
Sebelumnya, Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich pada konferensi awal pekan ini mengatakan, “Tidak seorang pun di dunia ini yang akan membiarkan kita membuat dua juta orang kelaparan, meskipun hal itu mungkin dibenarkan dan bermoral untuk membebaskan para sandera.”
“Kami mendatangkan bantuan kemanusiaan karena kami tidak punya pilihan. Kita berada dalam situasi yang memerlukan legitimasi internasional untuk melakukan perang ini,” imbuhnya.
Sejak perang di Gaza pecah pada tanggal 7 Oktober, situasi kemanusiaan di wilayah Palestina yang terkepung masih sangat buruk, dengan hampir seluruh dari 2,4 juta penduduknya mengungsi dan menderita kekurangan pangan.
Perang di Gaza dimulai setelah militan Hamas menyerang Israel pada 7 Oktober, yang mengakibatkan kematian 1.198 orang, sebagian besar warga sipil, menurut penghitungan AFP berdasarkan angka resmi Israel. Militan juga menangkap 251 orang, 111 di antaranya masih ditawan di Gaza, termasuk 39 orang yang menurut militer Israel tewas.
Serangan militer balasan Israel di Gaza telah menewaskan sedikitnya 39.677 orang, menurut kementerian kesehatan di wilayah yang dikuasai Hamas, yang tidak memberikan rincian mengenai kematian warga sipil dan militan.