Badan-badan PBB menyuarakan keprihatinan serius terhadap situasi kemanusiaan yang memburuk di Jalur Gaza. Foto: Ilustrasi/AP
JAKARTA, (ERAKINI) - Badan-badan PBB menyuarakan keprihatinan serius terhadap situasi kemanusiaan yang memburuk di Jalur Gaza. Lebih dari 1 juta warga Palestina di Gaza bisa mengalami kelaparan parah pada pertengahan Juli jika perang terus berlanjut.
Program Pangan Dunia (WFP) dan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) mengatakan dalam laporan bersama bahwa kelaparan semakin parah karena pembatasan ketat terhadap akses kemanusiaan dan runtuhnya sistem pangan lokal dalam perang Israel-Hamas yang berlangsung selama hampir delapan bulan.
Stuasi masih mengerikan di Gaza utara, yang telah dikepung dan sebagian besar diisolasi oleh pasukan Israel selama berbulan-bulan. Israel baru-baru ini membuka penyeberangan darat di utara tetapi mereka hanya mampu memfasilitasi puluhan truk setiap harinya untuk ratusan ribu orang.
Sementara itu, serangan Israel ke Rafah telah sangat mengganggu operasi bantuan di wilayah selatan. Mesir menolak membuka penyeberangan Rafah dengan Gaza sejak pasukan Israel merebut sisi Gaza hampir sebulan yang lalu, dan malah mengalihkan bantuan ke penyeberangan Kerem Shalom Israel di dekatnya.
Menurut laporan FAO, konflik yang berkelanjutan di Palestina diperkirakan akan semakin memperburuk kondisi kelaparan akut yang sudah parah di Jalur Gaza.
FAO menekankan bahwa jumlah korban tewas yang meningkat, kehancuran infrastruktur yang meluas, dan pengungsian massal hampir seluruh populasi Jalur Gaza semakin memperparah situasi kemanusiaan yang sudah genting.
Pada pertengahan Maret 2024, FAO memperkirakan bahwa bencana kelaparan akan mencapai titik kritis di dua daerah di Gaza utara pada akhir Mei jika tidak ada penyelesaian bagi konflik yang berlangsung, bantuan kemanusiaan tidak tersedia, dan layanan masyarakat yang penting tidak pulih.
Militer Israel menyebut pihaknya telah mengizinkan ratusan truk masuk melalui Kerem Shalom dalam beberapa pekan terakhir. Namun PBB mengatakan pihaknya sering kali tidak dapat mengambil bantuan tersebut karena situasi keamanan.
Dikatakan bahwa distribusi di Gaza juga sangat terhambat oleh pertempuran yang terus berlanjut, pelanggaran hukum dan ketertiban, dan pembatasan Israel lainnya.
Klasifikasi Fase Ketahanan Pangan Terpadu, yang merupakan otoritas dunia untuk menentukan tingkat krisis kelaparan, mengatakan pada bulan Maret bahwa sekitar 677.000 orang di Gaza mengalami kelaparan Fase 5, tingkat tertinggi dan setara dengan kelaparan.
Kedua badan PBB tersebut mengatakan dalam laporan mereka pada hari Rabu bahwa jumlah tersebut bisa meningkat menjadi lebih dari 1 juta atau hampir setengah dari total populasi Gaza yang berjumlah 2,3 juta, pada pertengahan bulan depan.
“Dengan tidak adanya penghentian permusuhan dan peningkatan akses, dampak terhadap kematian dan kehidupan warga Palestina saat ini, dan di generasi mendatang, akan meningkat secara signifikan setiap hari, bahkan jika kelaparan dapat dihindari dalam waktu dekat,” katanya, dilansir AP, Kamis (6/6/2024).
Kepala Program Pangan Dunia, Cindy McCain, mengatakan bahwa Gaza bagian utara telah memasuki “kelaparan besar-besaran,” namun para ahli di badan PBB tersebut kemudian mengatakan bahwa dia menyatakan pendapat pribadinya.
Suatu daerah dianggap mengalami kelaparan bila tiga hal terjadi. Pertama, 20% persen rumah tangga mengalami kekurangan pangan yang ekstrem, atau pada dasarnya kelaparan.
Kedua, setidaknya 30% anak-anak menderita malnutrisi atau wasting akut, yang berarti mereka terlalu kurus dibandingkan tinggi badan mereka. Ketiga, dua orang dewasa atau empat anak per setiap 10.000 orang meninggal setiap hari karena kelaparan dan komplikasinya.
Agresi Israel yang telah berlanjut sejak Oktober 2023 telah menyebabkan dampak kemanusiaan yang mengerikan. Lebih dari 36.500 warga sipil tewas, kebanyakan di antaranya adalah wanita dan anak-anak, sementara lebih dari 83.000 jiwa lainnya mengalami luka-luka.
Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), serangan Israel juga menyebabkan 85% penduduk Gaza terpaksa mengungsi, 60% infrastruktur di wilayah tersebut mengalami kerusakan serius, dan terjadi kelangkaan makanan, air bersih, dan obat-obatan yang parah.
Dalam putusan terbarunya, Mahkamah Internasional (ICJ) menginstruksikan Israel untuk menghentikan agresinya terhadap kota Rafah di Gaza selatan, tempat lebih dari satu juta warga sipil mengungsi dari pertempuran yang berkecamuk.