Antisipasi Suhu Menyengat di Arafah, Jemaah Haji Diimbau Terapkan Cara Ini
Abdul Rahman Ahdori







Dokter dari PPIH Daker Bandara, Muhammad Fathi Banna Al Faruqi, mengingatkan pentingnya upaya mandiri untuk menjaga suhu tubuh tetap stabil selama berada di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
"Jemaah perlu mengetahui upaya mandiri mendinginkan tubuh agar tidak terkena kelelahan panas (heat exhaustion) atau sengatan panas (heat stroke)," ujar dr. Muhammad Fathi Banna Al Faruqi, Minggu (25/5/2026).
Menurut dia, terdapat sejumlah langkah sederhana yang bisa dilakukan jemaah untuk membantu membuang panas tubuh secara cepat dan efektif.
Salah satunya ialah melakukan kompres pada titik-titik tertentu yang memiliki pembuluh darah besar dekat permukaan kulit.
"Jika merasa gerah menyengat, jangan hanya mengompres dahi. Basahi handuk kecil atau kain, lalu tempelkan pada area pembuluh darah besar yang dekat dengan permukaan kulit, yaitu leher belakang/samping, ketiak, dan lipatan paha," katanya.
Ia menjelaskan, pendinginan pada area tersebut dapat membantu menurunkan suhu darah lebih cepat sehingga sensasi sejuk menyebar ke seluruh tubuh.
Selain itu, jemaah juga dianjurkan menerapkan teknik semprot air dan kipas untuk membantu mempercepat pelepasan panas tubuh.
"Sediakan botol semprot kecil berisi air di dalam tas. Semprotkan air tipis-tipis ke wajah, lengan, dan leher, lalu kipas secara manual atau menggunakan kipas angin portable. Efektif membuang panas tubuh secara instan, sepertu mekanisme pengeluaran keringat," ungkapnya.
Fathi juga mengimbau jemaah mengenakan pakaian yang longgar dan berbahan nyaman, terutama setelah tahallul awal di Mina.
"Bagi jemaah wanita, atau jemaah pria yang sudah mengambil tahallul awal yaitu boleh melepas ihram di Mina. Maka gunakan pakaian berbahan katun tipis, longgar, dan berwarna cerah. Hindari pakaian ketat, berwarna gelap atau berlapis-lapis yang dapat memerangkap panas tubuh di dalam baju,"ucapnya.
Selain menjaga kenyamanan pakaian, jemaah diminta mengenali tanda-tanda bahaya akibat paparan panas berlebih.
"Segera cari petugas kesehatan jika jemaah mulai mengalami gejala mulai dari kram otot, pusing berputar, mual, jantung berdebar cepat, atau keringat keluar sangat deras. Jika kulit justru terasa sangat panas dan kering tapi tidak bisa keluar keringat lagi, maka adalah tanda darurat terjadi heat stroke," ujarnya.
Dia menegaskan, menjaga kestabilan suhu tubuh selama fase Armuzna sangat penting untuk mencegah dampak serius akibat panas ekstrem.
"Hal itu mencegah kerusakan organ akibat sengatan panas ekstrem. Utamakan juga kepedulian antarjemaah dan petugas, jika terdapat gangguan kesehatan bisa segera diantisipasi," tuturnya.

