Di atas, warga berjalan melewati puing-puing di lokasi serangan Israel sebelumnya di Tyre, Lebanon selatan pada 16 Juni 2026. (Foto: Reuters).
BEIRUT, (ERAKINI) – Situasi di Lebanon selatan kembali memanas setelah serangkaian serangan udara yang dilancarkan militer Israel menghantam sejumlah wilayah pada Rabu waktu setempat. Aksi tersebut terjadi di tengah upaya meredakan konflik kawasan menyusul kesepakatan penghentian perangTimur Tengah yang juga mencakup Lebanon.
Menurut laporan Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA), pesawat-pesawat tempur Israel menggempur kawasan Nabatieh Al-Fawqa serta area timur Kfar Tebnit, kota yang berada tidak jauh dari lokasi serangan. Selain serangan udara, Israel juga disebut mengoperasikan drone tempur yang menyerang wilayah Ansariyeh di distrik Zahrani.
Meski intensitas pertempuran secara umum menurun setelah tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri konflik regional yang diumumkan pada Senin lalu, serangan di Lebanon selatan belum benar-benar berhenti. NNA melaporkan sedikitnya lima orang kehilangan nyawa akibat serangan Israel yang terjadi setelah kesepakatan tersebut diumumkan.
Meredanya eskalasi sempat mendorong sebagian warga Lebanon selatan kembali ke kampung halaman mereka untuk melihat kondisi rumah dan lingkungan yang terdampak perang. Namun, pihak militer Lebanon mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru pulang karena masih terdapat ancaman keamanan.
Tentara Lebanon menegaskan bahwa warga perlu mempertimbangkan kembali rencana kepulangan mereka karena masih ada “risiko pelanggaran dan serangan Israel.”
Konflik yang menyeret Lebanon ke dalam pusaran perangTimur Tengah bermula pada awal Maret ketika Hizbullah, kelompok bersenjata yang mendapat dukungan Iran, meluncurkan serangan roket ke wilayah Israel. Aksi tersebut disebut sebagai respons atas tewasnya pemimpin tertinggi Iran dalam operasi gabungan Amerika Serikat dan Israel.
Israel kemudian membalas dengan serangan udara berskala besar yang diikuti operasi darat di sejumlah wilayah.
Di tengah ketegangan yang belum sepenuhnya mereda, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa penyelesaian konflik tidak akan dianggap tuntas sebelum pasukan Israel meninggalkan wilayah yang mereka kuasai selama perang.
“Tanpa penarikan pasukan Israel dari wilayah yang didudukinya dalam perang ini,” ujar Araghchi, penyelesaian konflik dinilai belum lengkap.
Ia juga memperingatkan bahwa setiap tindakan militer Israel di Lebanon setelah kesepakatan damai akan dipandang sebagai pelanggaran.
“Setiap serangan militer oleh rezim Zionis terhadap Lebanon mulai sekarang dan pendudukan berkelanjutan atas wilayah Lebanon mulai sekarang akan dianggap sebagai pelanggaran terhadap nota kesepahaman menurut pandangan kami,” katanya.
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa pasukan negaranya belum akan meninggalkan Lebanon dalam waktu dekat. Pada Senin, ia menyatakan bahwa keberadaan militer Israel di wilayah tersebut akan dipertahankan “selama diperlukan.”
Di sisi lain, Hizbullah belum mengeluarkan klaim ataupun pernyataan mengenai serangan terhadap target-target Israel di Lebanon selatan sejak Selasa. Namun, pemimpin kelompok tersebut, Naim Qassem, dijadwalkan menyampaikan pidato yang akan disiarkan secara nasional pada Rabu.
Sehari sebelumnya, Qassem menyampaikan apresiasi kepada Iran atas perannya dalam mendorong penghentian operasi militer Israel.
Ia mengungkapkan “rasa terima kasih yang mendalam” atas upaya Iran “untuk memaksa entitas Israel menghentikan operasi militer secara segera dan permanen di semua lini, termasuk di Lebanon.”
Sementara itu, Kementerian Kesehatan Lebanon memperbarui data korban perang. Hingga Selasa, jumlah korban jiwa akibat serangan Israel sejak konflik meletus telah mencapai 3.826 orang. Angka tersebut meningkat setelah tim penyelamat menemukan lebih banyak jenazah yang sebelumnya tertimbun reruntuhan bangunan.