Kekhawatiran dunia semakin meningkat setelah Iran mengklaim telah menembakkan rudal hipersonik ke wilayah Israel. Klaim tersebut memicu ketakutan akan potensi perang semakin meluas. Foto: Ilustrasi/Dok AP
JAKARTA, (ERAKINI) - Kekhawatiran dunia semakin meningkat setelah Iran mengklaim telah menembakkan rudal hipersonik ke wilayah Israel. Klaim tersebut memicu ketakutan akan potensi perang semakin meluas.
Iran mengaku telah mulai menembakkan tersebut ke arah . Namun hingga kini, belum ada bukti konkret bahwa benar-benar telah meluncurkan rudal tersebut, dan para ahli pun meragukan klaim tersebut.
Meski begitu, penggunaan proyektil supercepat ini berpotensi menguji sistem pertahanan rudal Israel yang terkenal tangguh dan dapat mengubah arah konflik antara dua musuh bebuyutan tersebut.
Israel melaporkan telah berhasil mencegat mayoritas rudal yang ditembakkan Iran, dari total lebih dari 400 rudal yang mengarah ke wilayahnya. Sekitar 40 rudal menyebabkan kerusakan atau korban.
Di tengah ketegangan ini, Israel memperkuat posisi pertahanannya, sementara Iran terus menyatakan kesiapan untuk membalas segala bentuk agresi. Meskipun klaim Iran soal rudal hipersonik masih dipertanyakan, ancaman penggunaan senjata berteknologi tinggi dalam konflik regional ini menimbulkan kekhawatiran baru akan eskalasi lebih lanjut di Timur Tengah.
Apa Itu Rudal Hipersonik?
Secara sederhana, senjata hipersonik adalah rudal yang melaju lebih dari Mach 5, atau lima kali kecepatan suara. Rudal balistik yang ditembakkan tinggi ke atas atau di luar atmosfer bumi, secara rutin dapat mencapai kecepatan tersebut.
Namun, dalam konteks peperangan modern, rudal hipersonik juga harus memiliki sistem navigasi canggih, memungkinkan mereka bermanuver dan mengubah lintasan, sehingga membuatnya lebih sulit dicegat oleh sistem pertahanan udara tradisional
Jack Watling, peneliti di Royal United Services Institute, menjelaskan, rudal balistik biasanya mengikuti lintasan yang bisa diprediksi, sehingga sistem seperti Patriot buatan AS bisa mengantisipasinya. Sebaliknya, rudal jelajah atau rudal hipersonik terbang lebih rendah dan dengan jalur yang tak menentu, menyulitkan radar untuk mendeteksi dan mencegatnya.
“Radar bisa mendeteksi rudal di lintasan balistik karena posisinya di atas cakrawala radar. Tapi, jika rudalnya adalah glide vehicle hipersonik, ia terbang lebih rendah dan bisa tertutup kontur perbukitan,” kata dilansir kantor berita AP, Kamis (19/6/2025).
Sejumlah pakar meragukan kemampuan Iran dalam memproduksi rudal hipersonik murni. Watling menyebut bahwa teknologi ini sangat rumit dan membutuhkan sistem manufaktur yang belum dimiliki Iran saat ini.
Yehoshua Kalisky, peneliti senior di Institut Studi Keamanan Nasional (INSS) Israel, menyatakan bahwa sebagian besar rudal yang ditembakkan Iran memang berkecepatan tinggi, tetapi tak memiliki manuver memadai.
“Israel mampu mencegat lebih dari 95% rudal karena yang penting bukan hanya kecepatan, tapi juga kemampuan bermanuver. Dan rudal-rudal Iran masih terbatas dalam hal itu,” kata Kalisky.
Ia menyebut Iran memiliki dua rudal canggih, yakni Khorramshahr dan Fattah 2, yang berpotensi sulit dicegat. Namun, belum ada indikasi keduanya telah digunakan dalam konflik saat ini.
Hingga kini, hanya Amerika Serikat dan China yang telah berhasil mengembangkan rudal hipersonik generasi baru. Keduanya belum menggunakannya dalam peperangan. Negara lain seperti Rusia, Korea Utara, dan Pakistan juga mengembangkan rudal sejenis, meskipun dengan tingkat kecanggihan lebih rendah.
Kapan Rudal Hipersonik pernah digunakan?
Rusia mengklaim telah menggunakan rudal hipersonik dalam perang di Ukraina. Namun para ahli menilai bahwa meskipun cepat, rudal tersebut tidak cukup lincah untuk dianggap sebagai hipersonik sejati.
Presiden Rusia Vladimir Putin membanggakan rudal Orenshik yang dikatakan “terbang seperti meteor” dengan kecepatan 10 kali kecepatan suara dan tidak bisa dicegat oleh sistem pertahanan mana pun. Militer Ukraina menyebut rudal itu mencapai Mach 11.
Namun Pentagon menyatakan pada Desember lalu bahwa Orenshik adalah jenis rudal balistik jarak menengah eksperimental. Rusia juga mengklaim rudal Kinzhal sebagai senjata hipersonik, tetapi Ukraina berhasil mencegatnya menggunakan sistem pertahanan udara Patriot buatan AS.
Dalam bentrokan antara India dan Pakistan terkait wilayah sengketa Kashmir, Pakistan mengklaim telah menghancurkan sistem pertahanan udara S-400 buatan Rusia di Punjab, India, dengan rudal hipersonik yang diluncurkan dari pesawat tempur.
Sejumlah negara lainnya, termasuk Brasil, Australia, Inggris, Prancis, Jerman, Iran, Jepang, Korea Selatan, dan Korea Utara, juga tengah mengembangkan program senjata hipersonik. Uni Eropa sendiri sedang mempelajari cara mengembangkan sistem interseptor untuk rudal hipersonik sebagai respons terhadap meningkatnya ancaman dari Rusia.