JAKARTA, (ERAKINI) – Nasa resmi memindahkan roket raksasa Space Launch System (SLS) ke landasan peluncuran di Cape Canaveral, Florida, AS. Langkah ini menandai tahap krusial jelang misi Artemis II, penerbangan berawak pertama ke Bulan sejak Apollo 17 pada 1972.
Dilansir BBC, Minggu (18/1/2026), roket raksasa milik Nasa itu telah dipindahkan ke landasan peluncuran di Cape Canaveral, seiring dimulainya persiapan akhir untuk misi berawak pertama ke Bulan dalam lebih dari 50 tahun.
Selama hampir 12 jam, Space Launch System (SLS) setinggi 98 meter diangkut secara vertikal dari Vehicle Assembly Building menempuh perjalanan sejauh 4 mil (6,5 km) menuju landasan peluncuran.
Kini setelah berada di posisinya, rangkaian uji coba akhir, pemeriksaan, serta gladi bersih akan dilakukan sebelum lampu hijau diberikan untuk misi Artemis II berdurasi 10 hari, yang akan membawa empat astronaut mengelilingi Bulan.
Nasa menyebut tanggal paling awal roket dapat diluncurkan adalah 6 Februari 2026. Namun, masih tersedia sejumlah jendela peluncuran lain pada akhir Februari, serta pada Maret dan April.
Roket mulai bergerak pada pukul 07.04 waktu setempat (12.04 GMT) dan tiba di Launch Pad 39B di Kennedy Space Center pada pukul 18.41 waktu setempat (23.42 GMT).
Roket tersebut diangkut menggunakan mesin raksasa bernama crawler-transporter, dengan kecepatan maksimum 0,82 mil per jam (1,3 km/jam) saat bergerak perlahan. Siaran langsung merekam momen spektakuler dari perjalanan lambat tersebut.
Nasa mengatakan, roket akan dipersiapkan dalam beberapa hari ke depan untuk menjalani apa yang disebut sebagai “wet dress rehearsal”, yakni uji coba pengisian bahan bakar serta prosedur hitung mundur.
Kru Artemis II—Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch dari Nasa, serta astronaut Kanada Jeremy Hansen—hadir di Kennedy Space Center untuk menyaksikan pemindahan roket tersebut.
Dalam beberapa pekan ke depan, keempat astronaut itu akan diikatkan di dalam wahana antariksa yang berada di puncak roket, siap meluncur menuju Bulan. Misi ini akan menjadi penerbangan berawak pertama ke Bulan sejak Apollo 17 mendarat di permukaannya pada Desember 1972.
Nasa menyebut misi ini berpotensi membawa para astronaut lebih jauh ke luar angkasa dibandingkan manusia mana pun sebelumnya.
Artemis II tidak dijadwalkan untuk mendarat di Bulan, melainkan menjadi fondasi bagi misi pendaratan berikutnya yang akan dipimpin Artemis III. Nasa menyatakan peluncuran Artemis III akan dilakukan “paling cepat” pada 2027. Namun, para pakar menilai 2028 sebagai waktu paling realistis.
“Astronaut adalah orang-orang paling tenang di hari peluncuran. Dan menurut saya, itu karena kami benar-benar siap untuk menjalankan misi yang kami datang ke sini untuk lakukan, yang telah kami latih,” ujar Christina Koch kepada BBC News.
Sementara itu, Hansen berharap misi ini dapat menginspirasi dunia. “Bulan adalah sesuatu yang selama ini saya anggap biasa. Saya melihatnya sepanjang hidup saya, tapi hanya sekilas lalu berpaling,” katanya.
“Namun sekarang saya menatapnya jauh lebih sering, dan saya pikir orang lain juga akan ikut menatap Bulan lebih lama, karena akan ada manusia yang terbang mengitari sisi jauh Bulan, dan itu hal yang baik bagi kemanusiaan,” lanjutnya.
Sebelum menuju Bulan, dua hari pertama misi Artemis II akan dihabiskan di orbit Bumi. “Kami akan langsung memasuki orbit yang jaraknya sekitar 40.000 mil—sekitar seperlima jarak ke Bulan,” kata Koch.
Saat mengitari sisi jauh Bulan, kru akan memiliki waktu tiga jam khusus untuk observasi Bulan: mengamati, mengambil gambar, dan mempelajari geologinya, guna membantu perencanaan dan persiapan pendaratan di kutub selatan Bulan pada masa depan.
Bagian penting dari wahana Orion yang akan ditumpangi para astronaut dibuat di Bremen, Jerman. Modul Layanan Eropa (European Service Module) yang berada di belakang kapsul kru merupakan kontribusi Badan Antariksa Eropa (ESA) untuk misi ini dan dibangun oleh Airbus.
“Modul Layanan Eropa ini sangat krusial—pada dasarnya kami tidak bisa pergi ke Bulan tanpanya,” ujar Sian Cleaver, insinyur wahana antariksa di Airbus. “Modul ini menyediakan daya dorong yang dibutuhkan Orion untuk mencapai Bulan.”
Panel surya berukuran besar pada modul tersebut akan menghasilkan seluruh pasokan listrik untuk wahana, tambahnya.