Israel Habiskan Rp4,1 Triliun Setiap Hari untuk Perang Gaza, Netanyahu Kembali Minta Tambahan Anggaran
Thomas Pulungan







Usulan anggaran perang itu pun menimbulkan perdebatan sengit di kabiet lantaran Perang Gaza telah menghabiskan dana USD269 juta atau Rp4,18 triliun setiap hari. Tentu biaya besar itu menjadi beban besar bagi perekonomian negara Zionis.
Melansir voanews, para menteri kabinet Israel pada Minggu (14/1/2024) waktu setempat telah memulai rapat maraton membahas amandemen anggaran tahun 2024 guna memperhitungkan peningkatan tajam pengeluaran untuk membiayai perang negara tersebut dengan kelompok Hamas.
Israel tahun lalu telah menyetujui anggaran untuk dua tahun, yakni 2023 dan 2024. Namun perang melawan Hamas di Jalur Gaza telah mengguncang keuangan Israel, sehingga memerlukan perubahan anggaran dan pengeluaran tambahan.
Tambahan anggaran itu diperlukan bukan hanya untuk mendanai persenjataan, tetapi juga membayar tentara cadangan, memberi makan dan menyediakan perumahan bagi mereka. Ditambah lagi biaya untuk lebih dari 100.000 pengungsi Israel yang meninggalkan komunitas di dekat perbatasan Gaza dan Lebanon. Para pengungsi ini harus ditempatkan di hotel dan dibayar ribuan shekel setiap bulannya oleh pemerintah Israel.
Anggaran perang Israel telah menimbulkan kontroversi dan politisasi, terutama mengenai pembayaran yang disetujui Perdana Menteri Netanyahu berdasarkan perjanjian koalisi tahun 2002 dengan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich dan para pemimpin partai keagamaan lainnya.
Kesepakatan itu mengharuskan menyisihkan dana 8 miliar shekel (USD2,15 miliar) untuk partai-partai ultra-Ortodoks dan sayap kanan pro-pemukim pada tahun 2024. Menurut rancangan anggaran, hanya 2,5 miliar shekel (USD669 juta) dari jumlah tersebut yang akan dipotong, meskipun ada kebutuhan dana perang.
Pada awal rapat kabinet, Netanyahu tidak merujuk pada dana koalisi tersebut. Dia hanya mengatakan bahwa semua kementerian harus ikut menanggung beban biaya perang.
“Yang diperlukan saat ini adalah, pertama-tama menutupi biaya perang dan mengizinkan kami melancarkan perang di tahun mendatang dan menyelesaikannya, termasuk melenyapkan Hamas, memulangkan sandera, dan memulihkan keamanan, serta rasa aman di wilayah tersebut. Baik Utara maupun Selatan sehingga warga bisa kembali ke sana,” kata Netanyahu kepada para menteri.
Dalam suratnya kepada Netanyahu pekan lalu, Kepala Bank Sentral Israel Amir Yaron yang baru saja memulai masa jabatan periode kedua, sudah mendesak pemerintah untuk tidak melakukan pembelanjaan berlebihan dan mengimbangi peningkatan belanja yang diperlukan untuk perang. Ia mengusulkan pengurangan anggaran di tempat lain dan menaikkan pajak.
Pemerintah Israel akan melakukan pemotongan anggaran kementerian dan menaikkan beberapa pajak, seperti pajak pertambahan nilai sebesar 1 persen menjadi 18 persen pada tahun 2025 atas keuntungan bank, rokok, serta tembakau.
Israel mencatat defisit anggaran sebesar 4,2% dari produk domestik bruto pada tahun 2023 karena lonjakan pengeluaran perang pada kuartal keempat, dan penurunan pendapatan pajak.
Target defisit pada anggaran tahun 2024 dinaikkan menjadi 6,6% PDB dari sebelumnya 2,25%. Kementerian Keuangan Israel memprediksi perang akan menurunkan pertumbuhan ekonomi Israel tahun 2024 sebesar 1,1 persen menjadi sekitar 1,6%,.
Dampak fiskal dari perang ini diperkirakan mencapai 150 miliar shekel (USD40,1 miliar) pada tahun 2023-2024, dengan asumsi pertempuran sengit berakhir pada kuartal pertama.
Melansir Al Jazeera, untuk mendanai perang Gaza, beberapa usulan Israel mencakup pemotongan anggaran Kementerian Pendidikan sebesar USD239 juta, dan pemotongan anggaran Kementerian Kesehatan lebih dari USD100 juta.
Sejak militer Israel melancarkan serangan di Jalur Gaza pada 7 Oktober 2023, puluhan ribu orang dilaporkan tewas. Kementerian Kesehatan Gaza pada hari Senin melaporkan jumlah korban tewas akibat serangan militer Israel telah meningkat menjadi setidaknya 24.100 orang, dan lebih dari 60.000 lainnya terluka. Jumlah ini mencakup lebih dari 10.400 anak-anak.
Banyak di antara korban luka kesulitan mendapatkan layanan kesehatan atau obat untuk mengobati luka mereka. Lebih dari 8.000 orang masih hilang, diperkirakan terkubur di antara puing-puing beton.
Selain itu, 70 persen rumah di Gaza telah hancur selama 100 hari serangan Israel. Warga Palestina yang terlantar khawatir mereka tidak punya apa-apa untuk kembali ke kampung halaman setelah perang berakhir.
“Ke mana kami akan pergi ketika kami kembali ke Kota Gaza? Di mana kita akan tinggal?” tanya Shahinaz Bakr, yang kini berlindung di tenda di selatan Gaza bersama keluarganya.
“Semua rumah, pasar, universitas, organisasi kami hancur. Semua yang kita miliki ada di sini. Jika kami kembali ke Kota Gaza, kami akan mendirikan tenda. Apakah sudah takdir kita untuk terlantar? Mengungsi pada tahun 1948 dan sekarang kembali pada tahun 2024,” katanya kepada Al Jazeera.
