Acara Senior Official Meeting (SOME) Ke-43 Menteri-menteri Energi di Hotel Riverside Majestic Kota Kucing, Malaysia, Senin 16 Juni 2025.
KUCING, (ERAKINI) - Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) terus berkomitmen pada pengembangan energi hijau (Green Energy) dengan merealisasikan inisiatif pembangunan sistem jaringan listrik terintegrasi di negara-negara Asia Tenggara atau ASEAN Power Grid (APG) yang pertama kali diwacanakan pada 2020 silam.
Hal ini seperti disampaikan Wakil Perdana Menteri Malaysia YAB Dato' Sri Haji Fadillah bin Haji Yusof dalam acara makan malam delegasi ASEAN saat acara Senior Official Meeting (SOME) Ke-43 Menteri-menteri Energi di Hotel Riverside Majestic Kota Kucing, Malaysia, Senin 16 Juni 2025.
Dato' Sri Haji Fadillah yang juga merangkap Menteri Peralihan Energi dan Transformasi Air Negara Malaysia itu menjelaskan, "APG sangat penting sebagai inisiatif utama menuju masa depan energi yang lebih kompetitif dan berkelanjutan ". Malaysia, kata dia, juga mengulangi komitmennya terhadap agenda transisi energi melalui peningkatan kapasitas energi baru terbarukan, pemberdayaan efisiensi energi, serta inovasi pengembangan rendah karbon.
Dalam hal ini, kontribusi mitra dialog dan organisasi internasional dalam bentuk keahlian teknis serta dukungan investasi juga diakui sebagai pendorong penting untuk mencapai tujuan bersama. Oleh sebab itu, APG yang diagendakan akan menjadi agenda pembangunan energi bersama jangka panjang tersebut akan dibahas dalam Rapat Menteri Enegri ASEAN (ANEM) yang akan digelar di Kuala Lumpur pada Oktober 2025 nanti.
Sebelumnya, Malaysia menjadi tuan rumah penyelenggara Rapat Pejabat Tinggi Tenaga ASEAN (SOME) ke-43. Agenda tersebut digelar di Kota Kucing. Dalam gala dinner yang diikuti para utusan negara-negara di Asia Tenggara itu, selain YAB Dato' Sri Haji Fadillah, juga dihadiri Perdana Menteri Serawak, Abang Zohari Openg.
Sementara itu Zohari Openg juga menambahkan, untuk meralisasikan inisiatif pengembangan APG ini, negara bagian Serawak juga telah memasok listrik ke Kalimantan Barat selama enam tahun terakhir. "Kami telah memasok listrik ke Kalimantan Barat sejak enam tahun terakhir," ujarnya dalam acara galau dinner tersebut.
Selain itu, Negara Bagian Sarawak juga menerapkan "ASEAN Green" melalui kerja sama di PLTA Mentarang, Kalimantan Utara. Bahkan, di proyek ini pihak Sarawak memiliki 25 persen kepemilikan. "Kami memiliki 25 persen ekuitas di proyek Mentarang Hydro Power, Kalimantan Utara," ujarnya.
Zohari Openg berharap pihaknya dapat memperluas kerja sama dengan provinsi lain di Pulau Kalimantan. Menurut dia, Sarawak memiliki kapasitas energi sebesar 7 gigawatt, 65 persen di antaranya merupakan pembangkit tenaga air. "Kami bermaksud meningkatkan pasokan listrik pada 2030 menjadi 10 gigawatt," ucapnya.
Pemerintah Sarawak masih mempertahankan rasio 60 hingga 70 persen energi terbarukan berdasarkan tenaga air. "Kami telah memutuskan untuk mengadopsi hidrogen sebagai sumber energi alternatif melalui kerja sama dengan mitra Jepang dan Korea," katanya.
Acara makan malam yang bertemakan "Harmoni dalam Keberagaman" menampilkan pertunjukan kebudayaan dan masakan lokal yang menggambarkan keunikan masyarakat di Sarawak. Selain itu, tema tersebut juga bertujuan untuk memperkenalkan warisan dan budaya negeri ini kepada para delegasi ASEAN. YAB Menteri menekankan pentingnya Jaringan Listrik ASEAN (APG) sebagai inisiatif utama menuju masa depan energi yang lebih berdaya saing dan lestari.
Sebagai Ketua ASEAN 2025, Malaysia menunjukkan visi yang tidak hanya bertujuan untuk memperkuat persatuan regional, tetapi juga mampu menjadikan ASEAN sebagai pemimpin utama dalam perubahan global yang berlandaskan nilai serta serta kekuatan yang dimiliki oleh kawasan ini, terutama dalam konteks pembangunan sektor energi.