Search

AS Blokir Dana Rp7,5 Triliun ke Irak Imbas Serangan Pro-Iran yang Kian Meluas

BAGHDAD, (ERAKINI) - Hubungan antara Amerika Serikat dan Irak kembali memanas setelah laporan menyebut Washington menghentikan pengiriman uang tunai hampir 500 juta dolar AS ke Baghdad. Kebijakan ini disebut sebagai respons atas meningkatnya serangan kelompok militan pro-Iran terhadap kepentingan Amerika.

Menurut laporan The Wall Street Journal, pemerintah AS tidak hanya menunda pengiriman uang, tetapi juga membekukan pendanaan untuk sejumlah program keamanan di Irak. Langkah ini menambah tekanan terhadap pemerintah Baghdad agar bertindak tegas terhadap kelompok bersenjata yang didukung Iran.

Irak sendiri berada dalam posisi sulit, terjepit di antara dua kekuatan besar yang sama-sama memiliki pengaruh kuat di kawasan, yakni Iran dan Amerika Serikat. Situasi ini semakin rumit seiring konflik regional yang terus berkecamuk.

Pihak pemerintah Irak berusaha meredam kekhawatiran. Seorang pejabat menyebut keterlambatan pengiriman lebih disebabkan faktor teknis, seperti penutupan wilayah udara akibat konflik. Sementara itu, pejabat Bank Sentral Irak menegaskan bahwa cadangan dolar masih mencukupi dan belum ada kebutuhan mendesak untuk tambahan pasokan.

Namun, sumber keamanan mengonfirmasi bahwa AS memang menghentikan sebagian kerja sama keamanan dengan Irak. Hal ini berkaitan dengan serangan berulang terhadap fasilitas dan kepentingan Amerika di wilayah tersebut.

Juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, Tommy Pigott, menyatakan bahwa meskipun pasukan Irak telah berupaya merespons serangan, masih ada elemen dalam pemerintahan yang dinilai memberikan dukungan kepada milisi pro-Iran.

Ia menegaskan bahwa Washington tidak akan mentoleransi serangan terhadap kepentingannya dan mendesak pemerintah Irak untuk segera membubarkan kelompok-kelompok bersenjata tersebut.

Ketegangan ini juga tercermin dari insiden serangan terhadap diplomat AS di Baghdad pada 8 April, yang memicu kecaman keras dari Washington. Selain itu, fasilitas seperti Kedutaan Besar AS di Baghdad dan konsulat di Erbil kerap menjadi sasaran roket dan drone, meski sebagian besar berhasil dicegat.

Laporan The New York Times menambahkan bahwa pembekuan dana juga berdampak pada program pelatihan militer dan operasi kontra-terorisme terhadap ISIS, yang selama ini menjadi bagian penting kerja sama kedua negara sejak kelompok tersebut menguasai wilayah Irak dan Suriah pada 2014.

Dalam perkembangan lain, komandan Iran Esmail Qaani dilaporkan tiba di Baghdad untuk membahas upaya meredakan ketegangan regional bersama para pemimpin politik dan kelompok bersenjata.

Situasi ini menunjukkan bahwa konflik di Timur Tengah tidak hanya berdampak pada keamanan, tetapi juga pada stabilitas ekonomi dan hubungan diplomatik antarnegara.