Serang Situs Nuklir Iran, AS Bakal Diguncang Krisis?
Abdul Rahman Ahdori
JAKARTA, (ERAKINI) - Perang Israel vs Iran semakin memanas setelah Amerika Serikat (AS) ikut campur dengan menyerang situs nuklir Iran dan melakukan serangan secara langsung. Adapun operasi militer gabungan AS-Israel menyerang 3 fasilitas nuklir utama Iran, yakni Fordow, Natanz, dan Isfahan.
Serangan berlangsung pada 21-22 Juni menggunakan pesawat siluman B-2 dan bom penembus bunker (bunker-buster). Presiden AS Donald Trump menyebut operasi tersebut berhasil, dengan seluruh pesawat kembali dengan selamat. Ia berharap serangan ini dapat menekan Iran untuk meredam eskalasi konflik.
Namun di tengah keterlibatannya dalam konflik bersenjata, AS kini menghadapi krisis domestik lain: gelombang panas ekstrem yang melanda sebagian besar wilayah negara tersebut. Fenomena cuaca ini dipicu oleh heat dome, atau kubah tekanan tinggi, yang menjebak panas di wilayah dari Great Plains hingga Pantai Timur dan bagian Barat Tengah.
Menurut Badan Cuaca Nasional (National Weather Service/NWS), tekanan tinggi tersebut diperkirakan bertahan hingga awal pekan depan dan berdampak pada lebih dari 200 juta orang. Suhu siang hari di kota-kota besar seperti New York, Washington D.C., Boston, Philadelphia, dan Chicago telah menembus 37 hingga 39 derajat Celsius, dengan indeks panas mencapai 43 derajat Celsius. Suhu malam hari pun tetap tinggi, di kisaran 25-26 derajat Celsius, sehingga menghambat pemulihan tubuh.
Panas ekstrem diprediksi akan mencapai puncaknya pada awal pekan depan, terutama di wilayah Timur Laut dan Mid-Atlantic. Suhu di New York City diperkirakan menyentuh 36 derajat Celsius mulai Minggu hingga Selasa, dengan potensi memecahkan rekor harian. Washington D.C. berpeluang mencatat suhu 38 derajat Celsius, sementara Boston bisa mencapai 34 derajat pada Selasa.















