Roket SLS lepas landas dengan membawa awak Artemis II di dalam pesawat ruang angkasa Orion pada Rabu 1 April 2026 di Kennedy Space Center milik NASA di Florida. Foto: NASA
Ini menjadi momen pertama manusia melampaui orbit rendah Bumi dalam lebih dari 50 tahun. Misi tersebut merupakan langkah besar dalam rencana badan antariksa Amerika Serikat, NASA, untuk mengembalikan manusia ke bulan dan pada akhirnya mengirim astronaut ke Mars.
Roket setinggi 32 lantai milik NASA itu lepas landas dengan mulus dari Kennedy Space Center, disaksikan puluhan ribu warga yang memadati area peluncuran.
“Peluncuran hari ini menjadi momen penting bagi negara kami dan bagi semua yang percaya pada eksplorasi. Artemis II melanjutkan visi untuk mengembalikan manusia ke bulan setelah lebih dari 50 tahun dan membuka babak baru eksplorasi pasca-Apollo,” ujar Administrator NASA Jared Isaacman, dikutip dari laman resmi NASA, Kamis (2/4/2026).
Ia menjelaskan, Artemis II bukan sekadar satu misi, melainkan awal dari langkah besar manusia untuk kembali ke bulan, tidak hanya untuk berkunjung, tetapi juga untuk menetap di pangkalan bulan di masa depan, sekaligus menjadi fondasi bagi misi berawak ke Mars.
Peluncuran sukses ini menandai dimulainya misi sekitar 10 hari bagi astronautNASA Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, serta astronautBadan Antariksa Kanada Jeremy Hansen.
Sebagai misi berawak pertama dalam program Artemis, penerbangan ini bertujuan menguji sistem penunjang kehidupan dengan awak manusia serta membangun dasar bagi keberadaan jangka panjang di bulan sebelum misi ke Mars.
Setelah mencapai luar angkasa, Orion mengembangkan panel surya untuk memperoleh energi dari Matahari. Awak dan tim di Bumi kemudian mulai mengalihkan sistem dari mode peluncuran ke operasi penerbangan serta melakukan pemeriksaan berbagai sistem penting.
“Artemis II adalah penerbangan uji, dan pengujian baru saja dimulai. Selama 10 hari ke depan, para astronaut akan menguji kemampuan Orion agar misi berikutnya dapat mendarat di bulan dengan lebih percaya diri,” kata Amit Kshatriya.
Sekitar 49 menit setelah peluncuran, tahap atas roket SLS melakukan pembakaran untuk menempatkan Orion ke orbit elips di sekitar Bumi. Pembakaran kedua akan mendorong Orion, yang diberi nama “Integrity” oleh awak, ke orbit tinggi hingga sekitar 46.000 mil dari Bumi, sebelum akhirnya terpisah dan terbang mandiri.
Dalam beberapa jam setelah itu, bagian roket akan melepaskan empat CubeSat, satelit kecil dari Argentina, Jerman, Korea Selatan, dan Arab Saudi, untuk melakukan penelitian ilmiah dan demonstrasi teknologi.
Pesawat akan berada di orbit tinggi Bumi selama sekitar satu hari, di mana awak akan melakukan uji kendali manual serta pemeriksaan sistem bersama tim Mission Control di Johnson Space Center, Houston.
Jika seluruh sistem berfungsi dengan baik, Orion akan melakukan manuver translunar injection pada Kamis, 2 April, berupa pembakaran mesin selama sekitar enam menit untuk mengarahkan pesawat menuju bulan sekaligus memanfaatkan gravitasi bulan untuk kembali ke Bumi.
Dalam momen flyby bulan yang direncanakan pada Senin, 6 April, para astronaut akan mengambil gambar dan melakukan observasi permukaan bulan, termasuk wilayah sisi jauh yang belum banyak terlihat manusia.
Kondisi pencahayaan sebagian akan menciptakan bayangan yang memperjelas bentuk permukaan seperti punggungan, lereng, dan kawah. Setelah menyelesaikan misi, para astronaut akan kembali ke Bumi dan mendarat di Samudra Pasifik.