Warga Maroko meneriakkan slogan-slogan dan mengibarkan bendera Palestina dalam pawai untuk menunjukkan solidaritas mereka kepada warga Palestina di Jalur Gaza, di Rabat pada 19 Juli 2025. (Foto: AFP).
RABAT, (ERAKINI) - Puluhan ribu warga Marokoberdemonstrasi pada hari Minggu di ibu kota Rabat, menentang situasi kemanusiaan yang memprihatinkan di Jalur Gaza. Para pengunjuk rasa berkumpul di pusat kota, mengibarkan bendera Palestina dan plakat yang menyerukan aliran bantuan bebas ke wilayah yang dilanda .
Mereka berkumpul atas seruan berbagai organisasi, termasuk koalisi yang menyatukan gerakan Islam Al-Adl Wal-Ihssane dan partai-partai sayap kiri. Perang di Gaza, yang dipicu oleh serangan mematikan kelompok militan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023, telah menciptakan kondisi kemanusiaan yang mengerikan bagi lebih dari dua juta orang yang tinggal di wilayah pesisir tersebut.
Sebagian besar orang telah mengungsi setidaknya sekali akibat pertempuran tersebut, dan para dokter serta lembaga bantuan mengatakan mereka menyaksikan dampak kesehatan fisik dan mental dari perang selama 21 bulan, termasuk malnutrisi yang semakin parah.
“Warga Palestina kelaparan dan dibunuh di depan mata seluruh dunia. Adalah tugas kita untuk mengecam situasi dramatis dan tak tertahankan ini,” kata Jamal Behar, salah satu demonstran di Rabat pada hari Minggu (20/7/2025).
Sementara itu, Maroko dan Israel pada tahun 2020 menandatangani kesepakatan normalisasi yang ditengahi AS, yang semakin sering diserang di kerajaan Afrika Utara tersebut seiring perang di Gaza memasuki bulan ke-22.
Terpisah, Paus Leo XIV pada hari Minggu (20/7/2025) mengecam kebiadaban perang di Gaza dan menentang penggunaan kekuatan tanpa pandang bulu. Kecaman ini disampaikan oleh Paus Leo hanya beberapa hari setelah serangan mematikan oleh militer Israel terhadap sebuah gereja Katolik.
"Saya sekali lagi meminta diakhirinya segera kebiadaban perang dan ada penyelesaian damai atas konflik ini," kata Leo di akhir doa Angelus di Castel Gandolfo, kediaman musim panas kepausan di dekat Roma.
Sebelumnya, Paus, yang berbicara melalui telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu keesokan paginya setelah serangan hari Kamis, menyampaikan dukacita yang mendalam atas serangan terhadap Gereja Keluarga Kudus.
Gereja tersebut menampung sekitar 600 orang yang mengungsi, sebagian besar anak-anak dan termasuk puluhan orang berkebutuhan khusus. Israel menyatakan "dukacita yang mendalam" atas kerusakan dan korban sipil, dan menambahkan bahwa militer sedang menyelidiki serangan tersebut.
"Tindakan ini, sayangnya, menambah serangan militer yang sedang berlangsung terhadap penduduk sipil dan tempat ibadah di Gaza," kata Leo pada hari Minggu.
"Saya mengimbau masyarakat internasional untuk mematuhi hukum humaniter dan menghormati kewajiban melindungi warga sipil, serta larangan hukuman kolektif, penggunaan kekuatan tanpa pandang bulu, dan pemindahan paksa penduduk," tambahnya.