Menteri Pertanian Jepang Taku Eto mundur usai komentar kontroversial soal beras di tengah lonjakan harga pangan. Shinjiro Koizumi ditunjuk sebagai pengganti di tengah tekanan politik. Foto: AP
TOKYO, (ERAKINI) - Menteri Pertanian Jepang, Taku Eto, resmi mengundurkan diri pada Rabu (21/5/2025) setelah menuai kritik luas atas pernyataannya yang dinilai tidak sensitif di tengah lonjakan harga beras. Eto mengaku 'tidak pernah beli beras' karena mendapat banyak hadiah dari para pendukungnya.
Pernyataan kontroversial tersebut disampaikan Eto dalam sebuah seminar Partai Demokrat Liberal (LDP) pada Minggu lalu, dan dianggap publik sebagai bentuk ketidaktahuan terhadap kenyataan ekonomi yang sedang dihadapi masyarakat. Harga beras yang makanan pokok utama Jepang, saat ini berada di titik tertinggi dalam sejarah.
“Saya membuat pernyataan yang sangat tidak pantas di saat konsumen sedang berjuang menghadapi kenaikan harga beras,” kata Eto kepada wartawan setelah menyerahkan surat pengunduran diri di kantor perdana menteri, dikutip dari AP.
Pengunduran diri ini menjadi yang pertama dalam kabinet Perdana Menteri Shigeru Ishiba, yang menjabat sejak Oktober lalu. Situasi ini menambah tekanan menjelang pemilu nasional pada Juli, yang bisa menentukan kelangsungan pemerintahannya.
Dalam upaya meredam kritik, Eto kemudian mengklarifikasi bahwa ia sebenarnya membeli beras putih sendiri. Adapun komentar terkait hadiah dari pendukung merujuk pada beras merah yang ia promosikan karena lebih cepat sampai ke pasar.
Namun klarifikasi itu tidak cukup menghentikan gelombang kemarahan publik. “Beras adalah makanan pokok masyarakat Jepang. Ketika harganya naik setiap minggu, pengunduran dirinya adalah hal yang wajar,” kata Shizuko Oshima (73), seorang warga Tokyo.
Sejak Agustus tahun lalu, permintaan beras melonjak akibat aksi beli panik setelah pemerintah mengeluarkan peringatan kesiapsiagaan bencana gempa besar. Meski panen musim gugur sempat meredakan tekanan, kelangkaan dan kenaikan harga kembali terjadi di awal tahun ini.
Pemerintah Jepang sudah melepas stok darurat beras, namun data terbaru Kementerian Pertanian menunjukkan dampaknya minim. Beberapa supermarket bahkan mulai menjual beras impor murah.
Kondisi ini memunculkan kritik terhadap kebijakan produksi beras jangka panjang pemerintah. Para ahli menyebut distribusi beras kini terlalu kompleks sejak kontrol penuh pemerintah dihapus pada 1995.
Meski pemerintah menolak ada krisis pasokan, para pejabat mengakui bahwa mereka tidak tahu pasti mengapa beras tidak sampai ke tangan konsumen. Sejumlah pengamat meyakini situasinya bisa lebih serius dari yang terlihat.
Koizumi Ditunjuk Jadi Menteri Baru
Perdana Menteri Ishiba langsung menunjuk Shinjiro Koizumi, mantan Menteri Lingkungan Hidup dan putra dari mantan perdana menteri Junichiro Koizumi, sebagai pengganti Eto. Koizumi dikenal publik karena sikap progresifnya dalam isu pertanian dan perikanan.
“Saya diminta untuk mengutamakan beras di atas segalanya,” ujar Koizumi. “Di saat sulit ini, saya akan bekerja secepat mungkin untuk mengatasi mahalnya harga beras yang dirasakan langsung oleh masyarakat,” tambahnya.
Koizumi mengaku memahami keresahan publik, karena ia sendiri sering memberi makan anak-anaknya dengan beras instan kemasan. Ishiba menekankan pentingnya ketahanan pangan dan swasembada Jepang, serta menyebut lonjakan harga beras saat ini kemungkinan merupakan masalah struktural, bukan sekadar krisis sesaat.
“Tidak mudah mencari solusinya,” kata Ishiba. “Tapi saya berkomitmen penuh untuk meredakan kesulitan konsumen dan memperbaiki kebijakan beras nasional,” lanjutnya. Koizumi berjanji akan mempercepat upaya penanganan segera setelah resmi dilantik pada Rabu sore.