Seorang wanita menyejukkan diri di air mancur umum dekat Place du Trocadéro saat suhu tinggi melanda di tengah gelombang panas di Paris, Prancis, 27 Juni 2026. (Foto: Reuters).
PARIS, (ERAKINI) – Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa terus menimbulkan dampak besar di berbagai negara. Pada Minggu (28/6/2026), suhu udara di sejumlah wilayah menembus angka 40 derajat Celsius, sementara badai mulai bergerak ke kawasan lain setelah memicu gangguan serius pada transportasi, jaringan listrik, hingga layanan kesehatan.
Prancis menjadi salah satu negara yang paling terdampak. Otoritas kesehatan setempat melaporkan sekitar 1.000 kematian tambahan selama periode gelombang panas yang disebut sebagai salah satu yang terparah dalam sejarah modern Eropa.
Melansir Reuters, badan kesehatan masyarakat Prancis mengungkapkan bahwa mayoritas korban meninggal berasal dari kelompok lanjut usia. Jumlah korban diperkirakan masih akan bertambah seiring masuknya laporan kematian dari panti jompo maupun rumah-rumah pribadi yang belum seluruhnya terdata.
Para ilmuwan menyebut fenomena cuaca ekstrem yang mulai berlangsung sejak 20 Juni tersebut sebagai gelombang panas paling dahsyat yang pernah tercatat di kawasan Eropa. Selain memicu lonjakan angka kematian, suhu yang sangat tinggi juga mengganggu sistem kelistrikan, merusak infrastruktur, serta memberikan tekanan luar biasa terhadap fasilitas kesehatan.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menggambarkan situasi yang terjadi sebagai kondisi darurat yang memengaruhi jutaan orang. "Saat ini, 150 juta orang hidup dalam kondisi panas ekstrem, ratusan orang telah meninggal dunia, sekolah-sekolah ditutup, dan jaringan listrik mengalami gangguan berat," tulisnya melalui platform X.
Tedros menegaskan bahwa perubahan iklim berperan besar dalam meningkatnya frekuensi kejadian cuaca ekstrem. "Dipicu oleh perubahan iklim dan pemanasan global, fenomena gelombang panas yang 'terjadi sekali dalam satu generasi' kini muncul hampir setiap tahun. Kita sudah diperingatkan," katanya.
Ia juga menyoroti minimnya kesiapan infrastruktur di berbagai negara Eropa dalam menghadapi suhu ekstrem yang kini semakin sering terjadi.
Menurut para peneliti iklim, gelombang panas kali ini hampir tidak mungkin terjadi tanpa pengaruh aktivitas manusia yang memicu perubahan iklim global. Mereka mencatat bahwa peluang terjadinya suhu malam yang sangat tinggi kini meningkat hingga 100 kali lipat dibandingkan dua dekade lalu.
Rekor suhu baru tercatat di sejumlah negara seperti Austria, Jerman, Polandia, dan Republik Ceko. Pada saat yang sama, badai petir yang menerjang beberapa wilayah memperburuk situasi dan menyebabkan gangguan tambahan.
Di Jerman, sejumlah layanan kereta api pada jalur utama di wilayah North Rhine-Westphalia harus dikurangi. Sementara di kota Leipzig, operasional trem sempat dihentikan akibat kondisi cuaca yang ekstrem. Banyak warga memilih bertahan di dalam rumah hingga matahari terbenam untuk menghindari sengatan panas.
Di Roma, Paus Leo menyampaikan apresiasinya kepada umat yang tetap menghadiri doa Minggu di Lapangan Santo Petrus meskipun harus menghadapi suhu yang sangat menyengat.
Dampak cuaca panas juga dirasakan oleh sektor energi dan lingkungan. Debit sungai di berbagai wilayah Eropa menurun drastis, sementara suhu air meningkat sehingga mengganggu proses pendinginan pembangkit listrik dan aktivitas pertanian.
Pemerintah Hungaria mengumumkan bahwa pembangkit listrik tenaga nuklir Paks Nuclear Power Plant kembali mengurangi kapasitas operasinya karena suhu air Sungai Donau yang digunakan sebagai sistem pendingin terlalu tinggi.
Di Italia, debit air Sungai Po mengalami penyusutan signifikan. Kondisi tersebut memungkinkan air laut masuk hingga sekitar 18 kilometer ke daratan, memunculkan kekhawatiran terhadap sektor pertanian serta kawasan lahan basah yang dilindungi di wilayah delta sungai.
Gelombang panas juga memicu sejumlah insiden tragis. Puluhan orang dilaporkan meninggal akibat tenggelam ketika berusaha mencari kesegaran di sungai, danau, maupun kawasan perairan lainnya.
Tim penyelamat di Italia bahkan masih melakukan pencarian terhadap suami Menteri Kabinet Eugenia Roccella yang dilaporkan hilang saat berenang di Danau Vico, sekitar 70 kilometer dari Roma.
Pemerintah Republik Ceko mengimbau masyarakat membatasi aktivitas fisik di luar ruangan dan meningkatkan kewaspadaan terhadap kabut asap yang muncul akibat tingginya konsentrasi ozon permukaan selama cuaca panas.
Para ahli meteorologi memperkirakan badai petir akan melanda sebagian wilayah Prancis, Jerman, dan Republik Ceko dalam beberapa hari ke depan. Sementara itu, suhu yang lebih sejuk diperkirakan mulai dirasakan di sebagian besar Eropa Barat, meskipun gelombang panas diproyeksikan bergerak ke kawasan Eropa Tengah dan Balkan.
Badan meteorologi Prancis melaporkan bahwa suhu ekstrem mulai mereda di sebagian besar wilayah negara tersebut. Namun beberapa daerah di bagian timur laut masih berada dalam status siaga panas.
Menteri Kesehatan Prancis, Stephanie Rist, mengingatkan bahwa dampak kesehatan akibat gelombang panas tidak akan langsung berakhir ketika suhu mulai turun. "Fenomena ini belum berakhir," ujarnya kepada media setempat.
Meski udara yang lebih sejuk mulai masuk setelah badai pada Sabtu malam, cuaca buruk justru memicu pemadaman listrik di sejumlah wilayah. Data terbaru dari perusahaan distribusi listrik menunjukkan sekitar 36.000 rumah tangga di wilayah utara dan tengah Prancis masih mengalami gangguan pasokan listrik hingga Minggu sore.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa dampak perubahan iklim tidak lagi sekadar ancaman masa depan, melainkan telah menjadi kenyataan yang dirasakan langsung oleh jutaan warga di berbagai negara Eropa.