Puluhan ribu demonstran turun ke jalan di Teheran dan sejumlah kota lain pada Kamis (8/1/2025) malam untuk memprotes pemerintah. Foto: BBC
JAKARTA, (ERAKINI) – Aksi demonstrasi besar-besaran mengguncang Iran. Puluhan ribu demonstran turun ke jalan di Teheran dan sejumlah kota lain pada Kamis (8/1/2025) malam untuk memprotes pemerintah.
Rekaman video yang diverifikasi BBC Persian memperlihatkan demonstrasi damai berlangsung di dan Mashhad, kota terbesar kedua di . Aksi tersebut dilaporkan tidak dibubarkan oleh aparat keamanan. Namun, tak lama berselang, kelompok pemantau melaporkan terjadinya pemadaman internet secara nasional.
Dalam video-video tersebut, para demonstran terdengar meneriakkan seruan penggulingan Pemimpin Tertinggi IranAyatollah Ali Khamenei serta menuntut kembalinya Reza Pahlavi, putra mantan Shah Iran yang kini hidup di pengasingan. Reza Pahlavi sebelumnya mengimbau para pendukungnya untuk turun ke jalan.
Gelombang unjuk rasa ini telah berlangsung selama 12 hari berturut-turut, dipicu kemarahan publik atas anjloknya nilai mata uang Iran, rial. Menurut kelompok hak asasi manusia, protes telah menyebar ke lebih dari 100 kota dan wilayah di seluruh 31 provinsi Iran.
Lembaga pemantau berbasis di Amerika Serikat, Human Rights Activist News Agency (HRANA), melaporkan sedikitnya 34 demonstran—lima di antaranya anak-anak—serta delapan personel keamanan tewas. Selain itu, 2.270 demonstran disebut telah ditangkap. Sementara Iran Human Rights (IHR) yang berbasis di Norwegia mencatat sedikitnya 45 demonstran, termasuk delapan anak, tewas akibat tindakan aparat keamanan.
Di Mashhad, demonstran terdengar meneriakkan “Hidup shah” dan “Ini adalah pertempuran terakhir! Pahlavi akan kembali”. Dalam salah satu rekaman, beberapa pria terlihat memanjat jembatan penyeberangan dan melepaskan kamera pengawas.
Aksi serupa juga terjadi di Teheran, Isfahan, Babol, Tabriz, hingga Dezful. Di kota Dezful, Iran barat, rekaman memperlihatkan aparat keamanan diduga melepaskan tembakan dari alun-alun kota saat massa berkumpul.
Media pemerintah Iran mengecilkan skala aksi tersebut. Dalam beberapa laporan, mereka bahkan membantah adanya demonstrasi dengan menayangkan kondisi jalanan yang tampak sepi.
Sementara itu, lembaga pemantau internet NetBlocks menyatakan Iran tengah mengalami pemadaman internet nasional. Langkah tersebut dinilai sebagai bagian dari upaya sensor digital untuk membatasi arus informasi terkait aksi protes.
Di wilayah barat Iran, termasuk provinsi Ilam, Kermanshah, dan Lorestan, protes juga diwarnai mogok umum yang diserukan kelompok oposisi Kurdi di pengasingan. Kelompok HAM Kurdi Hengaw menyebut sedikitnya 17 demonstran tewas di kawasan tersebut, banyak di antaranya berasal dari kelompok etnis Kurdi dan Lor.
Pada Rabu, bentrokan paling mematikan terjadi di sejumlah kota. IHR mencatat 13 demonstran tewas dalam satu hari, menjadikannya hari paling berdarah selama rangkaian protes. Kantor berita Fars melaporkan tiga polisi juga tewas dalam insiden terpisah.
Dari luar negeri, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengancam akan melakukan intervensi militer jika aparat Iran membunuh demonstran. Sementara Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyerukan aparat keamanan untuk menahan diri dan menghindari kekerasan terhadap aksi damai.
Pemimpin Tertinggi IranAyatollah Ali Khamenei sebelumnya menyatakan pemerintah harus “berbicara dengan para demonstran”, namun menegaskan bahwa “para perusuh harus ditindak”.
Aksi protes ini bermula pada 28 Desember lalu, ketika para pedagang di Teheran turun ke jalan memprotes anjloknya nilai rial terhadap dolar AS. Dalam setahun terakhir, mata uang Iran jatuh ke level terendah sepanjang sejarah, sementara inflasi melonjak hingga 40 persen akibat sanksi internasional, salah urus ekonomi, dan korupsi.
Gelombang protes ini disebut sebagai yang paling meluas sejak demonstrasi besar pada 2022 terkait kematian Mahsa Amini, serta menjadi yang terbesar sejak protes massal pascapemilu 2009.