Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik Sedunia, Paus Fransiskus yang meninggal dunia hari ini, Senin (21/4/2025) di usia 88 tahun di kediamannya di Casa Santa Marta, Vatikan. (Foto: Northeneastern Global News)
Melansir Vatican News, pada pukul 09.45 waktu setempat, Kardinal Kevin Farrell, Camerlengo Kamar Apostolik, mengumumkan wafatnya Paus Fransiskus dari Casa Santa Marta dengan kata-kata berikut:
"Saudara-saudari terkasih, dengan duka yang mendalam saya harus mengumumkan wafatnya Bapa Suci kita, Fransiskus. Pada pukul 07.35 pagi ini, Uskup Roma, Fransiskus, kembali ke rumah Bapa. Seluruh hidupnya dibaktikan untuk melayani Tuhan dan Gereja-Nya,” katanya dikutip dari Vatikan News.
Menurutnya, Paus telah mengajarkan untuk menghayati nilai-nilai Injil dengan kesetiaan, keberanian, dan kasih universal, khususnya demi mereka yang paling miskin dan paling terpinggirkan. “Dengan rasa syukur yang tak terhingga atas teladannya sebagai murid sejati Tuhan Yesus, kami menyerahkan jiwa Paus Fransiskus kepada kasih yang tak terbatas dan penuh belas kasih dari Tuhan Yang Maha Esa dan Tritunggal," katanya.
Paus Fransiskus dilahirkan dengan nama Jorge Mario Bergoglio di Buenos Aires, Argentina pada 17 Desember 1936. Ia lahir dari pasangan suami istri, Mario Jose Bergoglio (1908-1959) seorang akuntan di perusahaan kereta api dan Regina Maria Sivori (1911-1981) seorang ibu rumah tangga. Mereka adalah keluarga imigran dari Italia.
Jorge Mario adalah anak pertama dari 5 bersaudara. Ia mempunyai 4 saudara kandung, yaitu: Oscar Adrian (1938-2023), Marta Regina (1940-2007), Alberto Horacio (1942-2010), dan Maria Elena (1948). Kini, tinggal Maria Elena yang masih hidup, ketiga saudara kandungnya sudah meninggal dunia.
Jorge bekerja sebagai analis kimia di laboratorium food science Setelah ia menamatkan sekolah teknik sebagai analis kimia. Lalu, Jorge memilih jalur imamat masuk sekolah calon imam Jesuit, Seminari Tinggi Keuskupan Villa Devoto, dan pada 11 Maret 1958 ia masuk novisiat Serikat Yesus. Jorge kemudian menyelesaikan studi di bidang humaniora di Chile, dan kembali ke Argentina pada 1963 untuk lulus dengan gelar sarjana filsafat dari Colegio de San Jose di San Miguel.
Jorge pada tahun 1964 mengajar sastra dan psikologi di Immaculate Conception College di Santa Fe selama satu tahun dan di tahun 1966 ia mengajar mata pelajaran yang sama di Colegio del Salvatore di Buenos Aires. Tahun berikutnya ia belajar teologi hingga meraih gelar dari Colegio San Jose pada 1970. Dari tahun 1967-70 ia belajar teologi dan memperoleh gelar dari Colegio San José.
Jorge ditahbiskan menjadi imam pada 13 Desember 1969. Usai itu, pada tahun 1973, Jorge kemudian mengambil profesi terakhirnya sebagai anggota Jesuit. Ia kemudian diangkat sebagai Provinsial Jesuit di Argentina yang mana itu adalah posisi yang dipegangnya selama 6 tahun. Jorge kemudian melanjutkan karier akademisnya sebagai rektor di Colegio de San José dari tahun 1980 hingga 1986.
Jorge kemudian pada tahun 1992 diangkat sebagai Uskup Tituler Auca dan Asisten Uskup Buenos Aires. Ia menerima tahbisan uskup dari Kardinal Antonio Quarracino pada 27 Mei 1992. Pada 28 Februari 1998, Jorge diangkat sebagai Uskup Agung Buenos Aires setelah kematian Kardinal Quarracino. pada Februari 2001 atau 3 tahun kemudian, Paus Yohanes Paulus II mengangkatnya sebagai Kardinal.
Jorge kemudian pada tanggal 13 Maret 2013 terpilih menjadi Paus Fransiskus, menjadi Paus ke-266 dan Paus pertama dari benua Amerika. Nama Fransiskus ia ambil sebagai penghormatan kepada Santo Fransiskus dari Assisi.
Sebagai Paus, Fransiskus dikenal dengan gaya hidup sederhana dan dukungannya terhadap kaum miskin dan marjinal. Ia memilih untuk tinggal di apartemen sederhana daripada di tempat tinggal resmi Vatikan. Ia juga dikenal karena pendekatannya yang penuh kasih dan perhatian terhadap masalah sosial. Paus Fransiskus juga aktif dalam diplomasi politik dan advokasi lingkungan. Selain itu, Paus Fransiskus juga peduli terhadap sastra.
Fransiskus menyebutkan berbagai manfaat membaca, termasuk meningkatkan kosa kata, merangsang imajinasi dan kreativitas, meningkatkan konsentrasi, mengurangi penurunan kognitif dan kecemasan, serta mempersiapkan pembaca untuk menghadapi berbagai situasi.
“Buku yang baik dapat menyediakan oasis yang menjaga kita dari pilihan lain yang kurang sehat. Selain itu, sastra memungkinkan kita melihat hidup dari perspektif orang lain, mengembangkan empati imajinatif,” sebut Paus Fransiskus dilansir dari The Guardian.
Paus Fransiskus menulis surat tentang peran literatur dalam formasi calon imam Katolik dan para pekerja pastoral. Surat itu ditulis di Roma, di Santo Yohanes Lateran, pada 17 Juli tahun 2024 lalu dan pada tahun kedua belas masa kepausannya.
"Nilai membaca novel dan puisi sebagai bagian dari perjalanan menuju kedewasaan pribadi, karena buku-buku membuka ruang batin yang baru dan membantu untuk menghadapi kehidupan dan memahami orang lain," tulis Paus Fransiskus.
“Buku yang baik membuka pikiran, merangsang hati, dan mempersiapkan kita untuk hidup,” tulis Paus Fransiskus dalam sebuah surat kepada para calon imam, tetapi juga semua pekerja pastoral dan umat Kristiani akan menghargai "membaca novel dan puisi sebagai bagian dari jalan menuju kedewasaan pribadi.
Dengan suratnya tentang peran sastra dalam formasi, yang diterbitkan pada hari Minggu, 4 Agustus, Paus Fransiskus bertujuan untuk mendorong "kecintaan yang diperbarui untuk membaca".
Diusulkan oleh Paus Fransiskus terkait perubahan radikal dalam persiapan para calon imam, sehingga lebih banyak ruang diberikan untuk membaca karya sastra.
“Sastra dapat mendidik hati dan pikiran para imam untuk menggunakan akal budi secara bebas dan rendah hati dan untuk pengenalan yang bermanfaat akan keragaman bahasa manusia, sehingga memperluas kepekaan manusia dan mengarah pada keterbukaan rohani yang lebih besar,” katanya.