Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan kesepakatan untuk mengakhiri perang antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel kini belum pernah sedekat ini untuk terwujud, Foto: EPA
TEHERAN, (ERAKINI) – Menteri Luar Negeri IranAbbas Araghchi menyatakan kesepakatan untuk mengakhiri perang antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel kini belum pernah sedekat ini untuk terwujud, meski hingga saat ini belum ada dokumen resmi yang ditandatangani.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal paling kuat dari Teheran bahwa terobosan diplomatik yang selama beberapa pekan terakhir didorong pemerintahan Presiden Donald Trump berpotensi segera tercapai. Dalam wawancara dengan , Araghchi menjelaskan bahwa rancangan kesepakatan yang sedang dibahas terdiri atas dua tahap.
Tahap pertama berupa penandatanganan nota kesepahaman (memorandum of understanding) yang mencakup penghentian seluruh aksi militer, termasuk serangan Israel di Lebanon, serta komitmen semua pihak untuk tidak kembali melancarkan serangan.
Sementara pada tahap kedua, para pihak akan memulai negosiasi terkait isu-isu utama, termasuk masa depan program nuklir Iran, pencabutan sanksi ekonomi, dan pencairan aset-aset Iran yang selama ini dibekukan.
Araghchi juga menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap berada di bawah kedaulatan Iran dan Oman, meskipun mekanisme pengelolaannya akan mengalami perubahan.
Meski optimistis, ia mengakui proses menuju kesepakatan final masih menghadapi hambatan akibat rendahnya tingkat kepercayaan Iran terhadap Washington. "Nota kesepahaman itu masih dalam tahap peninjauan," kata Araghchi, merujuk pada serangan yang dilancarkan AS saat perundingan nuklir masih berlangsung, dikutip dari Al Jazeera, Sabtu (13/6/2026).
Di sisi lain, Ketua Parlemen Iran sekaligus kepala negosiator, Mohammad Bagher Ghalibaf, mengisyaratkan bahwa kesepakatan sudah berada di depan mata.
"Komitmen yang dibuat harus ditepati. Tidak ada syarat tambahan maupun alasan. Untuk kesepakatan yang sudah dekat, tidak ada jalan lain," tulis Ghalibaf di platform X.
Seorang pejabat senior AS mengatakan pembicaraan telah mencapai tahap akhir, meski sejumlah detail penting masih harus diselesaikan. "Kesepakatan itu belum sepenuhnya mencapai garis akhir, tetapi kami sudah sangat dekat," kata pejabat tersebut kepada wartawan.
Menurutnya, kesepakatan awal akan mencakup pelonggaran sanksi secara signifikan dan pencairan aset Iran yang dibekukan. Sebagai imbalannya, Iran harus membongkar program nuklirnya dan menyerahkan material nuklir yang dimiliki.
Namun, Washington menegaskan bahwa pencabutan sanksi maupun pencairan dana tidak akan dilakukan secara otomatis setelah penandatanganan. Langkah tersebut baru akan dijalankan apabila Iran memenuhi seluruh kewajiban yang telah disepakati.
Pernyataan itu sejalan dengan sikap Wakil Presiden AS JD Vance yang sebelumnya menegaskan aset-aset Iran tidak akan langsung dicairkan setelah kesepakatan awal dicapai.
Trump Bantah Bocoran Isi Kesepakatan
Perkembangan diplomatik terbaru ini muncul setelah Presiden Donald Trump membantah laporan media pemerintah Iran yang mengklaim telah mengetahui rincian isi kesepakatan.
Kantor berita IRNA sebelumnya melaporkan terdapat tujuh poin utama dalam rancangan kesepakatan, termasuk tidak adanya konsesi baru terkait program nuklir Iran dan kendali Teheran atas Selat Hormuz. Laporan itu juga menyebut sebagian aset Iran akan segera dicairkan.
Namun, pejabat AS membantah klaim tersebut dan menegaskan bahwa kesepakatan yang sedang dibahas justru mencakup pembongkaran program nuklir Iran, penghancuran material nuklir, serta pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Dalam wawancara dengan Axios, Trump mengatakan dirinya masih yakin kesepakatan dapat ditandatangani pada akhir pekan ini. Ia bahkan mengklaim Iran telah menyampaikan permintaan maaf secara tertutup karena menyebarkan informasi yang tidak akurat mengenai isi perundingan.