Tumpukan puing dan bangunan rusak di Kota Gaza, 24 November 2025. (Foto: Reuters).
GAZA, (ERAKINI) - Warga Gaza kembali dilanda keputusasaan ketika pasukan Israel mulai memasang tanda-tanda baru yang disebut sebagai garis penarikan di jantung mereka. Di Kota , Ibrahim Farahat terbangun dan mendapati sebuah balok beton besar berwarna kuning berdiri tepat di depan pintu rumahnya, seolah menandai batas baru yang sarat ancaman.
Menurut Farahat, blok tersebut muncul tiba-tiba dalam semalam. Sebelumnya, benda itu terletak jauh di dekat Apotek Al-Aqsa, sekitar satu kilometer dari rumahnya. “Dulu jaraknya aman, jauh dari kami. Sekarang, peluru bisa menghantam rumah kami kapan saja,” ujar Farhat dilansir dari Arab News.
Warga di kawasan Shujaiya, wilayah timur Kota Gaza, juga melaporkan hal serupa. Mereka menemukan barisan blok kuning yang diyakini dipasang oleh tentara Israel antara Kamis dan Jumat dini hari.
Garis Kuning: Simbol Bahaya Baru di Tengah Gencatan Senjata Rapuh
Dalam kerangka gencatan senjata yang ditengahi Amerika Serikat, Israel seharusnya menarik pasukannya ke belakang ‘Garis Kuning’. Namun kenyataannya, lebih dari separuh Gaza masih berada di bawah kendali militer Israel.
Sejak gencatan berlaku pada 10 Oktober, sudah terjadi sejumlah insiden mematikan ketika pasukan Israel menembaki warga yang tanpa sengaja mendekati garis tersebut.
Ketakutan yang terus meningkat membuat banyak warga Shujaiya kembali mengungsi, sebagian dari mereka entah sudah berapa kali terdorong meninggalkan rumah sejak perang dimulai lebih dari dua tahun lalu.
Fadi Shafiq Hararah, salah satu warga yang kembali harus berkemas, menuturkan bahwa ia melihat langsung bagaimana garis itu dipertegas. “Robot, tank, derek, semua mereka kerahkan. Kami sedang mempersiapkan diri untuk pergi. Tapi kami sudah kehabisan tujuan untuk dituju,” katanya.
Akram Jaradah adalah salah satu wajah keputusasaan itu. “Sejak 7 Oktober 2023, saya sudah mengungsi 16 kali. Dari satu jalan ke jalan lain, dari satu kota ke kota lain—dari utara, turun ke selatan,” ungkapnya.
Menurutnya, keberadaan Garis Kuning menandakan bahwa tentara Israel tetap bercokol, dan selama itu pula bahaya tidak akan pernah hilang. Sementara itu, pihak militer Israel hanya mengatakan bahwa mereka menandai garis tersebut dan membantah bahwa wilayahnya diperluas.
Sementara itu, sebuah laporan investigasi yang dirilis The Wall Street Journal pada Jumat menyebut bahwa Israel telah mengirim tambahan pasukan dan membangun titik-titik air di sepanjang Garis Kuning, indikasi bahwa kehadirannya bukan sekadar penandaan garis, melainkan memperkuat posisi. Militer Israel menolak berkomentar terkait temuan tersebut.
Padahal menurut perjanjian gencatan senjata yang dinegosiasikan Hamas, Israel, dan mediator internasional termasuk AS, pasukan Israel seharusnya mundur lebih jauh apabila proses perdamaian menunjukkan kemajuan.
Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, pada Senin menyatakan bahwa Israel secara sistematis menggeser Garis Kuning lebih ke barat, suatu tindakan yang menurutnya jelas melanggar kesepakatan.
Dalam pernyataan resmi lainnya, Hamas menuduh Israel “meningkatkan pelanggaran” gencatan, termasuk mendorong warga Gaza keluar dari rumah mereka, menembakkan artileri ke wilayah timur, dan mengubah peta penarikan sepihak.
Militer Israel, di sisi lain, berulang kali mengklaim bahwa mereka hanya menembak militan yang melintasi garis dan membahayakan pasukan. Sejak pertengahan pekan, kedua pihak kembali saling tuding melakukan pelanggaran gencatan yang sudah lama dianggap rapuh oleh banyak pengamat.