Anak-anak Palestina bermain ayunan di antara reruntuhan bangunan, di tengah gencatan senjata antara Israel dan Hamas, di Jalur Gaza utara, pada 19 November 2025. (Foto: Reuters).
JENEWA, (ERAKINI) - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan bahwa mereka menargetkan lebih dari 40.000 anak Palestina di Jalur untuk mendapatkan vaksin dasar, memanfaatkan ruang jeda dari gencatan senjata yang baru diberlakukan. Upaya ini menjadi bagian penting untuk melindungi generasi yang bertahun-tahun hidup dalam kepungan dan serangan brutal .
Dalam delapan hari pertama sejak kampanye dimulai pada 9 November 2025, WHO bersama sejumlah mitra telah berhasil memberikan vaksin kepada lebih dari 10.000 anak di bawah usia tiga tahun, sebuah capaian signifikan mengingat kondisi lapangan yang masih sangat tidak stabil.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyampaikan bahwa fase pertama diperpanjang hingga Sabtu. Program ini bertujuan memberikan perlindungan dari penyakit serius seperti campak, rubela, gondongan, difteri, tetanus, batuk rejan, hepatitis B, polio, tuberkulosis, rotavirus, dan pneumonia. Banyak dari penyakit tersebut sangat berbahaya bila menjangkiti anak-anak yang telah hidup dalam situasi kekurangan gizi, sanitasi buruk, dan keterbatasan layanan medis akibat blokade panjang Israel.
Fase lanjutan kampanye vaksinasi, yang digarap bersama UNICEF, UNRWA, serta Kementerian Kesehatan Gaza, direncanakan berlangsung pada Desember dan Januari, bergantung pada tetap tersedianya akses kemanusiaan.
Tedros menegaskan bahwa keberlanjutan gencatan senjata sangat krusial agar layanan kesehatan dasar dapat diperluas dan fasilitas medis yang porak-poranda akibat serangan Israel bisa mulai dipulihkan. Ia menambahkan bahwa stabilitas sementara ini memungkinkan WHO dan mitranya menembus wilayah-wilayah yang sebelumnya mustahil dijangkau karena bombardemen tanpa henti.
Gencatan senjata saat ini merupakan bagian dari rencana yang disetujui Dewan Keamanan PBB pada Senin, setelah negosiasi internasional yang juga melibatkan pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Meski demikian, masa jeda tersebut masih diwarnai sejumlah pelanggaran dan bentrokan di berbagai titik Gaza.
Selama lebih dari dua tahun terakhir, Jalur Gaza telah hancur akibat agresi militer Israel yang dipicu oleh serangan 7 Oktober 2023. Serangan tersebut menewaskan 1.221 orang di Israel, menurut data resmi. Namun balasan Israel, yang jauh lebih luas dan mematikan, telah menewaskan lebih dari 69.500 warga Palestina, berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan Gaza. Lembaga tersebut, yang datanya dipercaya oleh PBB, menyebut bahwa lebih dari separuh korban adalah perempuan dan anak-anak, menggambarkan betapa buruknya dampak agresi terhadap penduduk sipil.