BEIRUT, (ERAKINI) – Ketegangan di perbatasan Israel–Lebanon kembali melonjak tajam. Militer Israel Defense Forces mengirim tambahan pasukan ke Lebanon selatan dan memerintahkan warga di lebih dari 80 desa untuk mengungsi. Langkah ini menyusul pernyataan tegas dari Hezbollah yang menyatakan siap menghadapi perang terbuka.
Baku tembak terbaru pecah setelah Hezbollah meluncurkan roket dan drone ke wilayah Israel utara pada Senin pagi. Israel merespons dengan gelombang serangan udara yang dilaporkan menewaskan 52 orang di Lebanon, termasuk seorang militan Palestina serta pejabat intelijen Hezbollah di kawasan selatan Beirut. Lebih dari 150 orang mengalami luka-luka dan puluhan ribu warga terpaksa meninggalkan rumah mereka.
Pada Selasa (3/3/2026) pagi, Hezbollah kembali mengumumkan dua rentetan roket ke arah Israel utara. Di saat yang sama, serangan udara Israel semalam menghantam sebuah gedung yang menampung stasiun televisi dan radio milik kelompok tersebut. Kawasan pinggiran selatan Beirut juga menjadi target serangan lanjutan tanpa peringatan sebelumnya. Militer Israel menyatakan sasaran mereka adalah pejabat Hezbollah.
Juru bicara militer Israel berbahasa Arab, Avichay Adraee, mengimbau warga di puluhan desa dan kota agar segera mengungsi dan tidak kembali sebelum ada pemberitahuan resmi. Ia menyebut pengerahan pasukan dilakukan untuk memperkuat sistem pertahanan garis depan dan menciptakan lapisan keamanan tambahan.
Seorang pejabat senior Hezbollah, Mohamoud Komati, menegaskan bahwa setelah lebih dari setahun menahan diri meski serangan Israel terus berlangsung, kelompoknya merasa tidak memiliki pilihan selain kembali melakukan perlawanan terbuka. “Jika musuh Zionis menginginkan perang terbuka, maka itulah yang akan terjadi,” ujarnya.
Presiden Lebanon, Joseph Aoun, dalam pertemuan dengan para duta besar Arab Saudi, Qatar, Amerika Serikat, Prancis, dan Mesir, menyatakan bahwa roket Hezbollah diluncurkan dari wilayah utara Sungai Litani. Pemerintah Lebanon mengklaim telah melucuti senjata Hezbollah di selatan sungai tersebut dan menegaskan bahwa tentara nasional menguasai area hingga perbatasan.
Sementara itu, Pasukan Sementara PBB di Lebanon atau United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) melaporkan bahwa mereka mengamati pergerakan pasukan Israel yang melintasi beberapa titik ke wilayah Lebanon sebelum kembali ke selatan Garis Biru, batas demarkasi antara kedua negara.
Ketegangan ini merupakan kelanjutan dari konflik panjang sejak serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023, yang kemudian memicu perang di Gaza dan meluas ke front Lebanon. Israel sempat melancarkan invasi darat pada Oktober 2024 sebelum gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat diberlakukan pada November 2024. Meski demikian, serangan sporadis terus terjadi, terutama di Lebanon selatan.
Dengan pengerahan pasukan tambahan dan pernyataan kesiapan perang terbuka dari Hezbollah, kawasan perbatasan kini berada dalam situasi yang sangat rapuh. Dunia internasional pun kembali menaruh perhatian, khawatir konflik ini berkembang menjadi konfrontasi yang lebih luas di Timur Tengah.