Search

PM Israel Netanyahu Klaim Perang dengan Iran Bakal Singkat dan Tak Butuh Bertahun-tahun

WASHINGTON, (ERAKINI) -Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mencapai titik didih. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran kemungkinan hanya berlangsung ‘beberapa waktu’ dan tidak akan berlarut-larut hingga bertahun-tahun.

Pernyataan tersebut disampaikan Netanyahu dalam wawancara di program Hannity yang ditayangkan Fox News. "Saya mengatakan itu bisa cepat dan menentukan. Mungkin butuh waktu, tetapi tidak akan memakan waktu bertahun-tahun. Ini bukan perang tanpa akhir," kata Netanyahu di program ‘Hannity’ Fox News.

Serangan terhadap Iran merupakan bagian dari daftar tindakan kebijakan luar negeri Trump yang menandai pergeseran mencolok dari retorika ‘America First’-nya yang menentang intervensi AS ketika ia berkampanye dalam pemilihan 2024.

Netanyahu mengatakan bahwa ia melihat perang tersebut sebagai peluang untuk perdamaian abadi di Timur Tengah, termasuk antara Israel dan Arab Saudi. "Ya, saya melihatnya," katanya, ketika ditanya apakah ia melihat jalan menuju perdamaian yang abadi di kawasan tersebut.

Sementara itu, sebuah jajak pendapat Reuters/Ipsos menunjukkan pada akhir pekan bahwa hanya satu dari empat warga Amerika yang menyetujui serangan AS terhadap Iran yang telah menjerumuskan Timur Tengah ke dalam kekacauan.

Perang AS di Irak dan Afghanistan yang berlangsung selama beberapa tahun membuat banyak warga Amerika skeptis terhadap keterlibatan langsung Washington dalam perang di tanah asing.

Serangan udara pertama dilancarkan ke Teheran pada Sabtu. Dalam laporan yang beredar, Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, disebut menjadi korban dalam rangkaian serangan tersebut. Tindakan itu langsung memicu respons keras dari Iran, termasuk serangan balasan ke wilayah Israel serta peluncuran rudal ke sejumlah negara Arab yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat.

Langkah ofensif ini menandai eskalasi besar yang memperluas cakupan konflik dan meningkatkan risiko instabilitas di seluruh kawasan Timur Tengah.

Sikap Trump Berubah-ubah

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada awalnya memperkirakan operasi militer akan berlangsung sekitar empat hingga lima pekan. Namun, ia juga membuka kemungkinan durasi yang lebih panjang. Sejak serangan diumumkan, pernyataan Trump mengenai tujuan perang terlihat bergeser.

Pada awalnya, ia sempat menyerukan agar rakyat Iran “merebut kembali negara mereka”, yang ditafsirkan sebagai sinyal dukungan terhadap perubahan rezim. Namun dalam pernyataan berikutnya, Trump lebih menekankan bahwa tujuan utama operasi adalah mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir dan menghentikan program rudal balistik jarak jauhnya, klaim yang secara tegas dibantah oleh Teheran.

Langkah militer ini juga dinilai bertolak belakang dengan retorika kampanye “America First” yang sebelumnya menolak keterlibatan Amerika dalam perang luar negeri.

Di dalam negeri Amerika Serikat, dukungan terhadap serangan ini tidak solid. Survei yang dilakukan Reuters/Ipsos menunjukkan hanya sekitar seperempat warga AS yang menyetujui aksi militer terhadap Iran. Trauma panjang akibat perang di Irak dan Afghanistan membuat banyak warga Amerika berhati-hati terhadap intervensi baru di kawasan asing.

Netanyahu bahkan menyatakan bahwa perang ini dapat membuka jalan bagi rakyat Iran untuk mengganti pemerintahan mereka. Ia menyebut Amerika Serikat dan Israel tengah menciptakan kondisi yang memungkinkan perubahan tersebut terjadi.

Namun, bagi banyak pihak, pernyataan itu justru memperkuat kesan bahwa konflik ini tidak semata soal keamanan, melainkan menyentuh kedaulatan politik Iran. Di sisi lain, Iran tetap menunjukkan perlawanan dan menegaskan haknya sebagai negara berdaulat.