JAKARTA, (ERAKINI) - Ketegangan geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran kembali mengguncang pasar energi global. Eskalasi konflik yang kian meluas memicu kekhawatiran serius terhadap kelancaran pasokan minyak dunia, terutama dari kawasan Timur Tengah yang menjadi jantung produksi energi global.
Pada perdagangan Selasa pagi waktu Saudi, harga minyak mentah Brent menanjak ke level USD79,44 per barel, menguat USD1,70 atau sekitar 2,2 persen. Sehari sebelumnya, kontrak tersebut bahkan sempat menyentuh USD82,37 per barel, angka tertinggi sejak Januari 2025, sebelum akhirnya ditutup tetap melonjak 6,7 persen.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal Amerika Serikat turut terkerek ke USD72,40 per barel setelah naik USD1,17 atau 1,6 persen. Pada sesi sebelumnya, WTI sempat mencapai titik tertinggi sejak Juni 2025 sebelum terkoreksi tipis, namun tetap berakhir dengan penguatan signifikan sebesar 6,3 persen.
Ancaman Serius di Selat Hormuz
Pemicunya jelas: ketidakpastian keamanan di Selat Hormuz. Jalur vital ini dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas dunia. Ketika muncul laporan bahwa seorang pejabat senior Garda Revolusi Iran menyatakan selat tersebut tertutup dan memperingatkan akan menembak kapal yang melintas, pasar langsung bereaksi keras.
Serangan balasan yang menyasar infrastruktur energi di negara-negara Teluk serta kapal tanker yang melintas memperparah situasi. Perusahaan asuransi bahkan disebut mulai menarik perlindungan terhadap kapal-kapal yang beroperasi di kawasan tersebut. Dampaknya, tarif pengiriman minyak dan gas global melonjak tajam, sementara sejumlah kapal tanker dan kapal kontainer memilih menghindari jalur tersebut.
Analis pasar dari IG, Tony Sycamore, menilai bahwa tanpa tanda-tanda penurunan tensi dalam waktu dekat, risiko lonjakan harga masih sangat terbuka dan berpotensi semakin besar jika konflik terus berlarut.
Pandangan serupa juga disampaikan analis ING yang menyebut pasar masih terus menghitung potensi risiko eskalasi. Ancaman terbesar bukan hanya gangguan lalu lintas minyak di Selat Hormuz, tetapi kemungkinan serangan lanjutan terhadap fasilitas energi yang dapat memicu gangguan pasokan lebih luas dan pemadaman berkepanjangan.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa operasi militer terhadap Iran bisa berlangsung cukup lama, meski tidak akan sampai bertahun-tahun. Pernyataan ini semakin mempertegas bahwa ketidakpastian belum akan mereda dalam waktu dekat.
Lembaga riset Bernstein bahkan merevisi asumsi harga minyak Brent untuk 2026 dari USD65 menjadi USD80 per barel. Dalam skenario terburuk, jika konflik berkepanjangan dan makin meluas, harga bisa meroket hingga kisaran USD120–USD150 per barel.
Produk Turunan Ikut Terseret Naik
Bukan hanya minyak mentah yang terdampak. Harga produk olahan juga mengalami lonjakan signifikan, mengingat Timur Tengah merupakan salah satu pemasok utama bahan bakar dunia. Penutupan kilang minyak domestik terbesar di Arab Saudi akibat serangan drone memperburuk sentimen pasar.
Harga diesel ultra-rendah sulfur berjangka di AS melesat 4,2 persen menjadi US$3,0207 per galon, setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam dua tahun terakhir. Harga bensin berjangka juga naik 1,7 persen ke USD2,4113 per galon, setelah sebelumnya menguat 3,7 persen.
Di Eropa, harga gasoil berjangka melonjak 4,3 persen menjadi USD925 per metrik ton, melanjutkan lonjakan tajam 18 persen pada sesi sebelumnya.
Lalu, Bagaimana Dampaknya bagi Indonesia?
Pemerintah mengingatkan adanya potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri menyusul memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran sejak akhir pekan lalu. Ketegangan di kawasan yang dikenal sebagai salah satu pusat produksi minyak mentah dunia itu telah mendorong lonjakan harga energi secara global.
Kenaikan harga minyak mentah internasional terjadi cukup tajam dalam beberapa hari terakhir, seiring kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan dari Timur Tengah. Situasi geopolitik yang tidak menentu membuat pelaku pasar bereaksi cepat, sehingga harga komoditas energi terdongkrak signifikan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa Indonesia berstatus sebagai net importir minyak mentah. Artinya, kebutuhan minyak nasional masih sangat bergantung pada pasokan luar negeri. Dalam kondisi seperti ini, setiap gejolak harga minyak dunia hampir pasti memberikan dampak langsung terhadap harga BBM di dalam negeri.
Menurutnya, fluktuasi harga global menjadi faktor krusial yang memengaruhi struktur biaya energi nasional. Jika tren kenaikan berlanjut, maka tekanan terhadap harga BBM dan beban subsidi berpotensi meningkat.