Jurnalis Desk Timur Tengah Mustafa Abdul Rahman (kemeja batik, memegang mik, ketiga dari kanan) dalam diskusi Forum Kramat bertajuk “Perang Iran–Israel: Sekadar Ancaman Kawasan atau Ancaman Global?” yang digelar di Gedung PBNU, Jakarta, Jumat (20/6/2025) (Foto: LTN PBNU)
JAKARTA, (ERAKINI) - Perang antara Iran dan Israel yang telah berlangsung selama sepekan sejak awal Juni 2025 terus menelan korban jiwa dan memicu kekhawatiran global. Hingga Jumat (20/6/2025), serangan militer Israel telah menewaskan sedikitnya 639 warga , sementara di pihak , otoritas mencatat 24 orang meninggal dunia dan ratusan lainnya luka-luka akibat gelombang serangan balasan dari .
Salah satu serangan yang paling menyita perhatian adalah ketika Iran meluncurkan rudal balistik hipersonik pada 13 Juni 2025. Serangan tersebut berhasil menjatuhkan sejumlah pesawat tempurIsrael dan dinilai menjadi titik balik dalam eskalasi militer kedua negara.
Jurnalis Desk Timur Tengah Mustafa Abdul Rahman, menilai serangan balasan tersebut menandai runtuhnya dua teori pertahanan militer konvensional.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam diskusi Forum Kramat bertajuk “PerangIran–Israel: Sekadar Ancaman Kawasan atau Ancaman Global?” yang digelar di Gedung PBNU, Jakarta, Jumat (20/6/2025) siang.
Menurut Mustafa, selama ini doktrin militer di berbagai negara mengajarkan bahwa penguasaan udara adalah kunci untuk memenangkan perang.
Biasanya, dominasi langit dilakukan dengan mengerahkan armada pesawat tempur canggih. Namun, Iran disebut berhasil membalikkan paradigma tersebut.
“Ternyata Iran berhasil menguasai langit Israel bukan dengan pesawat tempur, tapi justru dengan rudal balistik hipersonik. Ini teori baru yang mungkin belum pernah ada di akademi-akademi militer,” ujar Mustafa.
Dia menyebut bahwa hingga saat ini, kedua negara tampak seimbang dalam hal penguasaan udara. “Kalau kita ibaratkan seperti pertandingan sepak bola, skornya masih imbang. Bisa 0-0, 1-1, atau 2-2. Iran menguasai langit Israel, sementara Israel masih bisa masuk ke langit Iran,” tambahnya.
Lebib lanjut, Mustafa menekankan bahwa dalam sejarah berdirinya negara Israel sejak 1948, belum pernah ada musuh yang berhasil menembus langitnya. Iran disebut sebagai negara pertama yang melakukannya secara efektif menggunakan rudal balistik, meskipun negara seperti China, Rusia, dan Korea Utara juga memiliki teknologi serupa.
Tak hanya itu, ia menyoroti bahwa keberhasilan Iran juga memperlihatkan kelemahan sistem pertahanan udara Israel yang selama ini diklaim sebagai salah satu yang tercanggih di dunia.
Israel memiliki empat lapis sistem pertahanan anti-rudal, yakni Arrow 3 yang bertugas di luar atmosfer, Arrow 2 di bawah atmosfer, David’s Sling untuk pertahanan menengah, serta Iron Dome untuk menangkal rudal jarak pendek.
“Belum lagi ditambah THAAD milik Amerika Serikat yang ditempatkan di Israel dan dioperasikan langsung oleh militer AS,” jelas Mustafa.
“Tapi tetap saja, 20 persen rudalIran mampu menembus sistem ini. Dan lihat dampaknya: Tel Aviv dan Haifa hancur parah. Ini kehancuran terburuk sejak berdirinya Israel," ucapnya.
Sementara itu, pengamat Timur Tengah Dina Sulaeman mengaitkan dinamika serangan militer dengan kondisi politik domestik Israel. Menurutnya, serangan ke Iran bukan semata didorong oleh ancaman eksternal, tetapi juga karena tekanan politik yang tengah dihadapi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
“Netanyahu sedang berada dalam tekanan besar. Penolakan terhadap dirinya begitu luas, terutama terkait kasus korupsi yang sedang menjeratnya. Bila terguling, ia terancam masuk penjara,” ujar Dina.
Dia menilai bahwa perang dengan Iran dijadikan alat untuk menyatukan opini publik Israel yang terpecah belah.
“Narasi tentang ‘musuh bersama’ digunakan untuk meredam konflik internal dan menyatukan rakyat. Karena itu, retorika tentang ancaman dari Iran terus digaungkan,” pungkasnya.