SOM ke-50 MABIMS: Indonesia dan 3 Negara ASEAN Rumuskan Model Masyarakat Islam Berkeadaban
Thomas Pulungan
JAKARTA, (ERAKINI) — Indonesia bersama Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura merumuskan model pembangunan masyarakat Islam berkeadaban melalui penguatan pendidikan, ekonomi umat, ketahanan keluarga, serta pemanfaatan teknologi yang beretika.
Kolaborasi empat negara ini diarahkan untuk mewujudkan Khayru Ummah atau umat terbaik yang menjunjung keadilan, solidaritas, dan kesejahteraan bersama.
Gagasan tersebut mengemuka dalam seminar rangkaian Senior Officials Meeting (SOM) ke-50 Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) yang digelar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, di Hotel Sari Pacific, Jakarta, Senin (2/11/2026).
Mengusung tema “Khayru Ummah: Berbagi Praktik Baik Membangun Masyarakat Islam”, seminar ini menjadi ruang bagi keempat negara untuk bertukar pengalaman dan merumuskan praktik terbaik yang dapat diadaptasi sesuai kebutuhan masing-masing negara.
Sekretaris Jenderal Kementerian Agama (Sekjen Kemenag) Kamaruddin Amin mengatakan, Khayru Ummah bukan sekadar gagasan normatif tentang umat terbaik, melainkan cita-cita sosial-keagamaan yang perlu diwujudkan melalui kerja nyata dan kolaborasi lintas negara.
“Khayru Ummah itu adalah umat terbaik, sebuah imajinasi sosio-religius yang sedang kita ikhtiarkan bersama-sama untuk kita wujudkan,” ujarnya, seusai mengikuti sesi seminar.
Dalam seminar tersebut, masing-masing negara memaparkan pendekatan yang berbeda. Malaysia misalnya, mengangkat ketahanan keluarga dan pemberdayaan ekonomi umat sebagai fondasi membangun masyarakat yang kuat. Indonesia berbagi praktik baik dari perspektif pendidikan dan kehidupan beragama. Sedangkan Singapura menyoroti adaptasi terhadap perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Menurut Kamaruddin Amin, hasil pertukaran pengalaman itu diharapkan tidak berhenti pada pertukaran pengetahuan. Keempat negara akan merumuskan bentuk kerja sama konkret yang dapat diterapkan di masing-masing negara.
Bidang yang berpotensi dikolaborasikan antara lain pemberdayaan zakat dan wakaf, penguatan ekonomi umat, serta pengembangan program sosial-keagamaan.
“Output-nya tentu pertama dari sisi kognitif, kita terinformasi tentang praktik baik itu. Kemudian yang kedua adalah nanti output-nya ada kerja sama. Jadi ada kolaborasi praktik-praktik baik itu,” katanya.
Rumusan kerja sama tersebut akan dibahas lebih lanjut dalam rangkaian pertemuan pejabat senior MABIMS hari ini, termasuk evaluasi program yang telah disepakati pada tahun sebelumnya dan penyusunan agenda bersama untuk tahun mendatang.
Satukan Perbedaan, Perkuat Solidaritas Umat
Sementara itu, Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Asep Saepudin Jahar, mengunkapkan, pertemuan MABIMS ke-50 menjadi momentum strategis untuk memperkuat kolaborasi negara-negara anggota di tengah perbedaan budaya dan karakteristik masyarakat.
Kata dia, perbedaan tidak semestinya menjadi penghalang bagi negara-negara tersebut untuk membangun kesamaan visi mengenai keadilan sosial, penguatan ekonomi, dan pemerataan pendidikan.
Prof Asep menjelaskan, pembahasan dalam seminar mencakup sejumlah isu strategis, antara lain industri halal, pemberdayaan zakat, perkembangan AI, dan pendidikan. Isu-isu tersebut dinilai saling berkaitan dalam membangun masyarakat Islam yang mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai keadaban.
Ia juga menekankan pentingnya membangun solidaritas di antara masyarakat ASEAN, terutama melalui semangat saling membantu. Negara atau kelompok masyarakat yang memiliki sumber daya dan keunggulan diharapkan dapat berbagi pengalaman maupun kapasitas dengan pihak lain yang membutuhkan.
Dengan demikian, kolaborasi MABIMS diharapkan dapat memperkuat persaudaraan umat Islam sekaligus mendorong terciptanya pembangunan yang lebih adil dan inklusif.
AI dan Pendidikan Jadi Agenda Strategis
Di tingkat pendidikan tinggi, Asep menyebut UIN Syarif Hidayatullah Jakarta siap berkontribusi melalui penguatan kurikulum, internasionalisasi pendidikan, pengembangan kampus berwawasan lingkungan atau green campus, serta transformasi digital.
UIN Jakarta juga telah menjadi pilot project lembaga Artificial Intelligence Literacy and Innovation Institute (ALII) sebagai bagian dari upaya memperkuat literasi dan inovasi kecerdasan buatan.
Menurut Asep, pengembangan AI perlu diimbangi dengan pemahaman mengenai etika dan tanggung jawab penggunaannya, terutama di lingkungan perguruan tinggi, madrasah, dan pesantren.
Pemanfaatan AI di satu sisi menawarkan peluang besar untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan memperluas akses pengetahuan. Namun, tanpa literasi yang memadai, teknologi tersebut juga berisiko digunakan secara keliru atau tidak etis.
Karena itu, penguatan literasi AI perlu mencakup pemahaman tentang cara kerja teknologi, etika penggunaannya, serta pemanfaatannya secara produktif dan bertanggung jawab.
UIN Jakarta juga membuka peluang kolaborasi dengan perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) lainnya di Indonesia agar pengembangan literasi digital dan AI dapat menjangkau lingkungan pendidikan Islam secara lebih luas.
Bagi Asep, penguatan pendidikan, ekonomi, keadilan sosial, dan teknologi merupakan bagian dari upaya membangun masyarakat Islam yang tidak hanya unggul secara spiritual, tetapi juga mampu menjawab tantangan sosial dan perkembangan zaman.
Melalui SOM ke-50 MABIMS, pertukaran praktik baik diharapkan berkembang menjadi program bersama yang terukur. Dengan begitu, gagasan Khayru Ummah dapat diterjemahkan menjadi kerja sama nyata untuk memperkuat kualitas kehidupan umat Islam di Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura.


















