Majukan Pencak Silat Indonesia, Pagar Nusa dan Tapak Suci Didorong Perkuat Sinergi
Akhmad Baihaqi Arsyad
YOGYAKARTA, (ERAKINI) – Dalam upaya memajukan pencak silat Indonesia, Ketua Umum Pimpinan Pusat Pagar Nusa Muchamad Nabil Haroen mendorong penguatan sinergi antara Pagar Nusa dan Tapak Suci Putera Muhammadiyah. Kendati memiliki akar tradisi dan latar belakang organisasi yang berbeda, kedua perguruan silat tersebut memiliki tanggung jawab yang sama dalam membentuk generasi berkarakter sekaligus mengembangkan pencak silat hingga ke tingkat dunia.
Hal itu disampaikan Nabil Haroen saat menghadiri pelantikan Pimpinan Pusat Tapak Suci Putera Muhammadiyah periode 2026–2031 di Yogyakarta, Sabtu (31/10/2026). Kepengurusan baru Tapak Suci dipimpin oleh H. M. Afnan Hadikusumo.
Nabil yang juga menjabat Wakil Ketua Umum PB Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) menyampaikan selamat atas pelantikan kepengurusan baru tersebut. Menurutnya, kehadiran Pagar Nusa dalam acara itu merupakan bentuk penghormatan sekaligus penegasan hubungan persaudaraan antardua organisasi pencak silat yang tumbuh dari lingkungan organisasi Islam.
“Pagar Nusa dan Tapak Suci memiliki akar tradisi yang berbeda, tetapi dipertemukan oleh cita-cita yang sama, yakni membentuk manusia yang kuat secara fisik, matang secara spiritual, dan luhur akhlaknya,” ujar Nabil.
Perbedaan identitas perguruan tidak, menurut dia, semestinya menjadi penghalang untuk membangun kerja sama. Sebaliknya, keberagaman tradisi pencak silat merupakan kekayaan yang dapat menjadi modal penting dalam memperkuat persatuan dan mengembangkan prestasi olahraga bela diri asli Indonesia tersebut.
Nabil juga mengapresiasi tema pelantikan, Berakar Tradisi Menuju Tapak Suci Modern, Mandiri & Mendunia. Menurutnya, tema tersebut mencerminkan tantangan yang dihadapi organisasi pencak silat saat ini, yakni bagaimana melakukan modernisasi tanpa tercerabut dari akar tradisi dan nilai-nilai yang membentuk identitasnya. “Modernisasi bukan berarti meninggalkan tradisi. Justru tradisi harus menjadi fondasi bagi kemajuan,” kata Gus Nabil, sapaan akrabnya.
Lebih jauh, Nabil mengingatkan bahwa pencak silat tidak boleh dipahami sebatas olahraga bela diri. Di dalamnya terdapat pendidikan karakter, pengendalian diri, penghormatan terhadap sesama, serta nilai-nilai kemanusiaan yang harus terus diwariskan kepada generasi muda. “Pendekar sejati bukanlah mereka yang paling ditakuti, tetapi mereka yang paling mampu menjaga nilai, martabat, dan kemanusiaan,” tegasnya.
Karena itu, Nabil berharap hubungan Pagar Nusa dan Tapak Suci dapat dikembangkan melalui kerja sama yang lebih konkret, terutama dalam pembinaan atlet, peningkatan kualitas pelatih, penguatan kelembagaan, serta pengembangan pencak silat Indonesia di tingkat internasional.
Menurutnya, kemajuan pencak silat Indonesia membutuhkan kontribusi seluruh perguruan. Semangat persaudaraan dan kebangsaan harus ditempatkan di atas perbedaan identitas organisasi agar pencak silat semakin berkembang, baik sebagai warisan budaya maupun cabang olahraga prestasi.
“Kita boleh berbeda perguruan, berbeda seragam, dan berbeda tradisi. Tetapi ketika berbicara tentang persaudaraan, kebangsaan, dan masa depan pencak silat Indonesia, kita berdiri di gelanggang yang sama,” ujarnya.
Nabil berharap kepengurusan baru Tapak Suci mampu membawa organisasi tersebut semakin maju, dengan tata kelola yang modern, kemandirian kelembagaan yang kuat, serta prestasi yang semakin luas di tingkat dunia.
“Selamat berkhidmat kepada kepengurusan yang baru. Semoga Tapak Suci semakin modern dalam tata kelola organisasi yang modern, kemandirian kelembagaan yang kuat, serta prestasi yang semakin luas di tingkat dunia," pungkasnya.


















