Momentum Pacu Jalur!
Abdul Hakim M
HARI INI, Festival Pacu Jalur 2025 di Tepian Narosa, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau akhirnya digelar. Kali ini, festival adu cepat perahu yang dinaiki hingga 60 orang itu terasa istimewa. Ada 228 peserta lomba yang terdaftar. Ada sederet menteri dan pejabat Jakarta yang datang. Bahkan, banyak artis dan pesohor dari luar negeri juga jauh-jauh hari sudah mengabarkan ingin melihat perlombaan.
Padahal pacu jalur sejatinya tradisi lama. Kegiatan lomba dan hiburan rakyat ini telah dimulai sekitar 125 tahun lalu. Tapi tahun ini, pacu jalur benar-benar menemukan momentumnya. Semesta telah bekerja dan menghubungkan segalanya.
Ada festival di Tepian Rajo Pangean yang menjadi landasan event ini terkenal. Ada warga Kabupaten Kuantan Singingi di Provinsi Riau yang kokoh menjaga tradisi. Ada Rayyan Arkhan Dikha, bocah asal Desa Pintu Gobang sebagai Togak Luan yang menarik simpati publik dunia. Ada pula, platform media sosial yang membantu pacu jalur kian singkat merasuk sekat-sekat batas wilayah mondial. Tak lupa, ada juga kontribusi lagu Young Black and Rich milik Melly Mike yang begitu ritmik hingga banyak orang melirik.
Semua serba pas. Tak diskenario, termasuk adanya desain promosi event yang muluk-muluk sebelumnya. Dengan modal ketulusan dan biaya tak bermiliar-miliar, tradisi ini malah mencuri perhatian jutaan mata manusia. Semua terbelalak. Inilah yang membuat banyak orang bangga. Tak hanya warga Kuansing (singkatan Kuantan Sengingi), namun juga Indonesia bahkan dunia.
Semua juga terhibur. Pesona tarian Arkhan sebagai pemompa spirit barisan anak pacu yang disebut-sebut kental nuansa aura farming itu memang gerakan ringan tapi menyenangkan. Seolah menjadi obat sesaat di tengah situasi global yang begitu penat.
Semua diuntungkan. Festival Pacu Jalur 2025 yang dimulai hari ini hingga 24 Agustus mendatang pun begitu digadang-gadang. Dengan pamornya yang kian menjulang, Kuansing jelas menjadi tempat hajatan besar. Pacu Jalur pun kini tak sekadar sayup-sayup hanya jadi obrolan para nelayan yang hidupnya di tepian. Tapi juga jadi diskusi tak henti warga Jakarta, publik Indonesia bahkan dunia.


















