Munculnya kembali kasus hantavirus memicu kekhawatiran masyarakat terhadap penyebaran penyakit yang ditularkan hewan pengerat, terutama tikus. Foto: Ilustrasi
BOGOR, (ERAKINI) – Munculnya kembali kasus hantavirus memicu kekhawatiran masyarakat terhadap penyebaran penyakit yang ditularkan hewan pengerat, terutama tikus. Untuk itu, masyarakat diimbau menjaga kebersihan rumah dan lingkungan agar tidak menjadi sarang tikus.
Pakar dari IPB University mengingatkan agar warga tidak langsung menyapu atau membersihkan kotoran tikus yang kering. Sebab hal itu bisa membuat partikel virus bisa beterbangan dan terhirup.
“Basahi terlebih dahulu area tersebut menggunakan larutan disinfektan sebelum dibersihkan,” ujar Kepala Laboratorium Entomologi Kesehatan Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University Prof Upik Kesumawati dalam keterangannya dikutip Rabu (20/5/2026).
Selain menjaga kebersihan lingkungan, masyarakat juga dianjurkan rutin mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir setelah beraktivitas di area yang berpotensi menjadi habitat tikus.
Prof Upik menjelaskan, hantavirus merupakan kelompok virus zoonosis yang telah lama ditemukan di Indonesia sejak era 1980-an. Maka itu, masyarakat agar tetap waspada, namun tidak perlu panik berlebihan.
“Virus ini memang sudah lama ada dan penyebab utamanya adalah tikus. Tetapi kami mengimbau masyarakat untuk tidak perlu khawatir berlebihan,” kata Prof Upik.
Menurut Prof Upik, penularan Hantavirus umumnya terjadi ketika seseorang menghirup partikel debu yang telah terkontaminasi urine, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi. Risiko penularan juga dapat muncul melalui kontak langsung dengan kotoran tikus maupun makanan yang sudah tercemar.
Berdasarkan pedoman Kementerian Kesehatan RI, hantavirus dapat memicu dua sindrom utama, yakni Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang sistem pernapasan serta Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal.
Gejala awal infeksi biasanya berupa demam, nyeri otot terutama di paha, punggung, dan bahu, tubuh lemas, sakit kepala, hingga gangguan pencernaan. Dalam kondisi lebih lanjut, penderita dapat mengalami batuk, sesak napas berat, hingga penurunan kadar oksigen dalam darah.
Sementara pada kasus HFRS, gejala dapat berkembang menjadi tekanan darah rendah, syok, kebocoran pembuluh darah, bahkan gagal ginjal akut.
Prof Upik menyoroti salah satu jenis hantavirus yang menjadi perhatian dunia, yakni Andes virus, karena memiliki kemungkinan penularan antarmanusia meski kasusnya tergolong sangat jarang.
Untuk mencegah penularan, masyarakat diminta menjaga kebersihan rumah dan lingkungan agar tidak menjadi sarang tikus. Ia juga mengingatkan agar warga tidak langsung menyapu atau membersihkan kotoran tikus yang kering karena partikel virus bisa beterbangan dan terhirup.
Prof Upik juga meminta masyarakat segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami demam disertai gangguan pernapasan atau gangguan ginjal setelah terpapar lingkungan yang dicurigai terdapat kotoran tikus.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, hantavirus memang tergolong penyakit langka, tetapi memiliki tingkat fatalitas cukup tinggi. Tingkat kematian akibat HPS dapat mencapai sekitar 40 persen, sedangkan HFRS berkisar 5 hingga 15 persen.
Karena itu, pengendalian populasi tikus dan menjaga kebersihan lingkungan dinilai menjadi langkah paling penting untuk mencegah penyebaran hantavirus di masyarakat.