JAKARTA, (ERAKINI) - Dunia kembali dihebohkan virus hantavirus. Hal ini setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan lima kasus hantavirus dari kapal pesiar MV Hondius.
Virus itu terkonfirmasi sebagai infeksi virus Andes, jenis hantavirus langka. Virus ini dapat menular antarmanusia secara terbatas. Wabah di atas kapal pesiar tersebut telah menyebabkan tiga kematian. Meski demikian, WHO menyatakan wabah hantavirus ini diperkirakan tidak akan berkembang menjadi epidemi besar seperti COVID-19.
Di Indonesa, hantavirus sudah terdeteksi di Jakarta dan Yogyakarta. Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Aji Muhawarman, menyebutkan, terdapat dua kasus suspek di DKI Jakarta dan DIY. Saat ini masih dalam proses pemeriksaan konfirmasi kasus.
Menurut Aji di Indonesia sepanjang tahun 2024 hingga 2026 terdapat 23 kasus terkonfirmasi positif hantavirus dengan jumlah korban yang meninggal tiga orang. Kasus tersebut tersebar di sembilan provinsi, yakni DIY, Jawa Barat, DKI Jakarta, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, Sumatera Barat, Banten, Jawa Timur, dan Kalimantan Barat.
Hantavirus memang tergolong virus yang mematikan. Dikutip dari laman resmi Kemenkes, Jumat (8/5/2026), Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit menjelaskan bahwa hantavirus adalah penyakit zoonosis yang disebabkan oleh virus dalam kelompok genus Hantavirus dan famili Bunyaviridae serta ditularkan melalui rodensia seperti tikus dan mencit.
Apa yang Terjadi Jika Terinfeksi Hantavirus?
Seseorang yang terinfeksi Hantavirus dapat mengalami manifestasi klinis yang berbeda, tergantung pada tipe Hantavirus yang menginfeksi. Terdapat 2 manifestasi klinis yang dapat terjadi ketika seseorang terinfeksi Hantavirus, yakni:
1. Haemorrhagic fever with renal syndrome (HFRS) atau dikenal sebagai Hantavirus “Old World” merupakan manifestasi klinis Hantavirus yang mengakibatkan seseorang mengalami gangguan ginjal akut dan umumnya disebabkan oleh tipe virus Hantaan, Dobrava, Saarema, Seoul, dan Puumala yang tersebar sebagian besar di Eropa dan Asia.
2. Hantavirus pulmonary syndrome (HPS) atau dikenal sebagai Hantavirus “New World” merupakan manifestasi klinis Hantavirus yang mengakibatkan seseorang mengalami gangguan pada paru-paru dan umumnya disebabkan oleh virus Andes dan Sin Nombre yang tersebar sebagian besar di Amerika.
Hantavirus Bukan Penyakit Baru
Hantavirus pertama kali diidentifikasi pada rodensia (Apodemus agrarius) di dekat Sungai Hantan, Korea Selatan pada tahun 1978. Temuan ini kemungkinan berkaitan dengan lebih dari 3000 kasus demam berdarah di Korea yang terjadi pada pasukan PBB setelah perang Korea (1951-1953). Pada tahun 1981, genus Hantavirus yang termasuk virus yang menyebabkan HFRS diperkenalkan dalam famili Bunyaviridae.
Setelahnya pada tahun 1993, terdapat temuan wabah Hantavirus di wilayah barat daya Amerika Serikat yang menyebabkan gangguan serius pada saluran pernapasan sehingga memunculkan temuan kasus HPS.
Cara Penularan Penyakit Hantavirus
Seseorang dapat tertular Hantavirus dengan menghirup aerosol (partikel padat atau cair yang terdapat di udara) yang mengandung virus terkontaminasi dari hasil ekskresi (urin, tinja) atau air liur dari rodensia yang terjangkit Hantavirus. Selain itu terdapat kemungkinan kecil urin, tinja, atau air liur dari rodensia
yang terjangkit Hantavirus menginfeksi manusia melalui kulit yang pecah-pecah atau gigitan rodensia.
Tidak ada cara yang spesifik untuk mengetahui rodensia pembawa penyakit Hantavirus. Hal tersebut disebabkan karena rodensia pembawa Hantavirus bersifat asimptomatik atau tidak bergejala meskipun telah terinfeksi dan setiap tipe Hantavirus memiliki spesies inang rodensia yang berbeda satu sama lain.
Gejala Penyakit Hantavirus
Gejala yang dialami seseorang bergantung pada manifestasi klinis yang terjadi. Seseorang yang mengalami manifestasi klinis HFRS umumnya mengalami gejala awal seperti sakit kepala intens, nyeri pada punggung dan perut, demam, menggigil, mual, dan penglihatan kabur, serta terdapat kemungkinan timbul gejala lain seperti wajah kemerahan, peradangan, mata merah, atau ruam. Setelah mengalami gejala awal, seseorang dengan HFRS dapat mengalami gejala lanjutan seperti tekanan darah rendah, syok akut, pecah pembuluh darah, dan gangguan ginjal akut.
Seseorang yang mengalami manifestasi klinis HPS umumnya memiliki gejala awal seperti kelelahan, demam, dan nyeri otot terutama di paha, panggul, punggung, dan bahu. Namun empat hingga 10 hari setelah gejala awal, umumnya seseorang dengan HPS mengalami batuk dan sesak napas karena paru-paru yang terisi cairan. Kasus HPS umumnya mengakibatkan tidak berfungsinya otot jantung dan penurunan jumlah aliran darah (hyperperfusion) sehingga HPS sering disebut sebagai Hantavirus cardiopulmonary syndrome (HCPS).
Waktu timbul gejala umumnya 1-8 minggu setelah terpapar Hantavirus. Akan tetapi, masa timbul gejala berbeda setiap orangnyam bergantung pada jenis manifestasi klinis yang dialami. Seseorang yang mengalami manifestasi klinis HPS umumnya timbul gejala 1-8 minggu setelah terpapar Hantavirus.
Apa yang Harus Dilakukan?
Apabila mengalami gejala berkaitan dengan Hantavirus dan memiliki kemungkinan kontak dengan rodensia, sebaiknya segera ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat. Apabila terdiagnosis penyakit Hantavirus, dokter atau tenaga kesehatan akan menentukan mekanisme pengobatan yang diperlukan. Sampai saat ini belum ada pengobatan spesifik untuk penyakit Hantavirus. Pengobatan hanya ditujukan sebagai terapi
suportif untuk meredakan gejala yang dialami.
Sedangkan seseorang yang mengalami manifestasi klinis HFRS mengalami gejala umumnya 1-2 minggu setelah terpapar Hantavirus. Namun dalam beberapa kasus dapat terjadi 8 minggu setelah terpapar.
Cara Mencegah Terpapar Hantavirus
Pencegahan terhadap Hantavirus dilakukan utamanya melalui pengendalian rodensia serta mencegah kontak dengan urin, tinja, air liur, dan tempat bersarang rodensia. Upaya mencegah kontak dengan urin, tinja, dan air liur rodensia dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1. Menutup lubang di dalam atau di luar rumah untuk mencegah masuknya rodensia ke dalam rumah atau tempat kerja.
2. Menempatkan perangkap tikus di sekitar rumah atau tempat kerja untuk mengurangi populasi rodensia.
3. Melindungi makanan atau minuman dari kemungkinan kontaminasi rodensia dengan cara ditutup menggunakan tudung saji atau disimpan pada wadah tertutup.