Rezy Pradipta masuk dalam daftar ilmuwan sukses Indonesia yang berkiprah di kancah internasional. Saat ini ia menjabat sebagai Senior Research Scientist di Boston College, AS. Foto: Dok BRIN
JAKARTA, (ERAKINI) – Kuliah di perguruan tinggi bergengsi dunia adalah impian banyak pelajar, terlebih di universitas terbaik dunia, (). Dua tercatat merupakan jebolan , salah satunya .
MIT yang berlokasi di Cambridge, Amerika Serikat (AS), dikenal sebagai kampus terbaik dunia. Berdasarkan QS World University Rankings 2026, MIT menempati posisi pertama. Sedangkan versi The Times Higher Education (THE), MIT berada di peringkat 2 setelah Universitas Oxford. Sementara versi Webometrics, MIT berada di posisi ketiga di bawah Harvard University dan Stanford University.
Sejauh ini, SMA Taruna Nusantara mencatat ada dua alumninya pernah kuliah di MIT, yakni Rachmat Kaimuddin (TN 5) dan Rezy Pradipta. Dirangkum Erakini, Rabu (8/4/2026), Rezy Pradipta merupakan salah satu alumni berprestasi SMA Taruna Nusantara.
Rezy Pradipta merupakan lulusan SMA Taruna Nusantara tahun 2001 (TN 9). Rezy Pradipta masuk dalam daftar ilmuwan sukses Indonesia yang berkiprah di kancah internasional. Saat ini ia menjabat sebagai Senior Research Scientist di Boston College, AS.
Dalam biografinya yang tercantum di laman resmi Boston College, bidang utama penelitian Rezy Pradipta adalah studi fenomena ionosfer ((bagian atmosfer yang terionisasi oleh radiasi matahari) dan plasma ruang angkasa menggunakan berbagai instrumen diagnostik berbasis darat maupun satelit.
Fenomena tersebut meliputi gangguan ionosfer yang merambat (Traveling Ionospheric Disturbances/TIDs), gelombang akustik-gravitasi (Acoustic-Gravity Waves/AGWs), serta gelembung plasma ekuatorial (Equatorial Plasma Bubbles/EPBs).
Instrumen yang digunakan untuk mempelajari fenomena ini antara lain ionosonde, jaringan penerima GPS berbasis darat, radar hamburan tak koheren, serta berbagai misi satelit.
Tak hanya meneliti, Rezy juga berupaya mengembangkan metode inovatif untuk memantau kondisi ionosfer secara efektif, sekaligus mengolah dan menyebarkan data yang berguna bagi berbagai pihak yang membutuhkan informasi terkini terkait cuaca antariksa (luar angkasa).
Karier Panjang di Boston College dan MIT
Karier akademik Rezy Pradipta sebagian besar dihabiskan di Amerika Serikat. Ia telah berkarier di Boston College selama lebih dari 13 tahun, dengan perjalanan dari Postdoctoral Research Associate (Oktober 2012 – Maret 2016), Research Scientist (Maret 2016 – September 2021), hingga menjabat Senior Research Scientist sejak Oktober 2021 hingga sekarang.
Sebelumnya, Rezy menempuh pendidikan sekaligus mengembangkan karier riset di MIT. Di kampus bergengsi tersebut, ia pernah menjadi Graduate Research Assistant Juni 2006 – Agustus 2012, serta Course Grader (paruh waktu) untuk sejumlah mata kuliah fisika (Januari 2004 – Mei 2006).
Selain itu, ia juga terlibat dalam program penelitian di Plasma Science and Fusion Center MIT (Maret 2003 – Mei 2006), yang semakin mengasah kompetensinya di bidang fisika plasma dan antariksa.
Juara Olimpiade Fisika
Rezy sudah jago dalam bidang fisika sejak di bangku sekolah. Semasa di SMA Taruna Nusantara Magelang, Jurusan IPA (1998–2001), Rezy aktif dalam Tim Olimpiade Fisika. Rezy sukses menyabet medali emas pada Olimpiade Fisika tingkat Asia di China tahun 2001. Pada tahun yang sama Rezy mengikuti Olimpiade Fsika tingkat internasional di Turki dan meraih medali perak.
Setelah lulus SMA Taruna Nusantara, Rezy dianjurkan oleh Pembina Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI) untuk melanjutkan studi fisika S1 ke Amerika Serikat. Gayung bersambut, Rezy mendapat beasiswa untuk kuliah di MIT tahun 2002. Tak hanya S1, Rezy bahkan menuntaskan pendidikan di kampus terbaik dunia itu hingga S3.
Rezy meraih gelar Sarjana Fisika (BS) pada tahun 2006 dengan judul skripsi "Deteksi radar terhadap fenomena plasma ionosfer di Arecibo". Rezy kemudian melanjutkan S2 di kampus yang sama dan meraih gelar MS di bidang Nuclear Science and Engineering pada tahun 2006. Ia mengangkat tesis berjudul "Dampak pemanasan global terhadap cuaca antariksa"
Begitu lulus S2, Rezy melanjutkan kuliah S3 bidang Nuclear Science and Engineering, dan meraih gelar PhD tahun 2012. Disertasinya membahas tentang "Pembangkitan gelombang akustik-gravitasi dalam eksperimen pemanasan HF ionosfer: simulasi sumber panas alami skala besar"
Kontribusi untuk Indonesia
Meski berkarier di luar negeri, Rezy tetap aktif berkontribusi untuk Indonesia. Pada 2024, ia tercatat sebagai Visiting Researcher di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Bandung, serta terlibat dalam berbagai forum ilmiah nasional dan internasional.
Ia juga pernah menjadi Ketua Association of Indonesian Students at MIT (AIS-MIT), Koordinator Divisi Scholar & Strategic – PERMIAS Massachusetts (2013–2020), Session Chair – ION ITM 2018, Komite Ilmiah – ISSS 2019 & ISSS 2021 (LAPAN/BRIN), Research Mentor di program Research Science Institute (RSI) pada 2022 dan 2023, serta Komite Ilmiah – ISAST 2022.
Kehebatan Rizy pernah mendapat pujian dari mantan Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan.
Ia mengunggah pertemuannya dengan Rizy pada Februari tahun 2020 di akun Instagram.
"Namanya, Rezy Pradipta. Ilmuwan muda Indonesia Lulusan S3 Massachusetts Institute of Technology yang sekarang menjadi dosen dan peneliti di Boston College," tulis Luhut. Sejak itu nama Rizy menjadi perbincangan karena prestasinya di kancah global.