JAKARTA, (ERAKINI) - Menjelang perayaan Hari Raya Idulfitri 2026, kondisi cuaca di berbagai daerah di Indonesia diperkirakan masih didominasi hujan. Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), potensi hujan dengan intensitas ringan hingga lebat diprediksi terjadi pada periode 10–12 Maret 2026.
BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai hujan berintensitas tinggi yang berpotensi disertai kilat atau petir serta angin kencang di beberapa wilayah. Peringatan dini ini dikeluarkan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan dampak cuaca ekstrem.
Wilayah dengan Status Siaga Hujan Lebat
BMKG menetapkan sejumlah daerah dalam kategori siaga karena berpotensi mengalami hujan lebat hingga sangat lebat. Daerah-daerah tersebut meliputi:
1. Daerah Istimewa Yogyakarta
2. Jawa Timur
3. Bali
4. Nusa Tenggara Barat
5. Nusa Tenggara Timur
6. Kalimantan Utara
7. Sulawesi Barat
8. Sulawesi Selatan
Selain hujan lebat, beberapa wilayah juga diprediksi berpotensi mengalami angin kencang. Berikut ini daerah berpotensi diterpa angin kencang!
1. Banten
2. Jawa Timur
3. Maluku
4. Sulawesi Selatan
Kondisi ini perlu diwaspadai terutama oleh masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan maupun pelaku perjalanan menjelang libur Lebaran. Menurut BMKG, sebagian besar wilayah Indonesia secara umum diperkirakan mengalami hujan dengan intensitas ringan hingga sedang. Namun terdapat peningkatan potensi hujan sedang hingga lebat di banyak daerah, antara lain: Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, Papua, Papua Selatan.
BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memantau perkembangan informasi cuaca, terutama bagi mereka yang berencana melakukan perjalanan menjelang Lebaran. Kewaspadaan diperlukan untuk mengantisipasi potensi dampak cuaca ekstrem seperti banjir, tanah longsor, hingga gangguan transportasi di sejumlah wilayah.