Menurut BMKG, dalam sepekan ke depan, sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan masih berada dalam fase pancaroba. (Foto: Pixabay)
JAKARTA, (ERAKINI) - Dalam sepekan ke depan, menurut siaran resmi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan masih berada dalam fase transisi antara musim hujan dan kemarau, atau yang biasa dikenal dengan masa pancaroba.
Fase ini secara umum ditandai oleh perbedaan suhu yang mencolok antara pagi dan siang hari, serta peningkatan intensitas sinar matahari yang memicu pembentukan awan hujan di sore hingga malam.
Kondisi atmosfer selama periode pancaroba kerap memunculkan hujan dengan karakteristik tidak merata, berdurasi singkat, namun bisa disertai intensitas tinggi. Tak jarang, hujan ini dibarengi dengan petir dan hembusan angin kencang, terutama di wilayah dengan labilitas udara yang cukup tinggi.
Sebagaimana dilansir dari laman resmi BMKG, Rabu (14/5/2025), saat ini, terpantau sistem tekanan rendah berupa bibit siklon tropis 93P yang masih bertahan di wilayah Laut Arafura, sebelah barat Papua bagian selatan. Sistem ini menunjukkan kecepatan angin hingga 25 knot dengan tekanan udara berkisar antara 1003 hingga 1006 hPa. Pergerakannya mengarah ke barat hingga barat laut, menyebabkan peningkatan angin permukaan (low level jet) di wilayah sekitarnya, terutama dari wilayah selatan Papua ke Laut Arafura.
Tak hanya itu, fenomena sirkulasi siklonik juga terpantau di beberapa titik strategis seperti Samudra Hindia sebelah barat daya Bengkulu, Laut Halmahera, serta wilayah Samudra Pasifik di utara Papua. Ketiga sistem ini menciptakan area pertemuan angin (konvergensi) yang memanjang dari barat daya Lampung hingga barat daya Bengkulu, kemudian dari wilayah perairan timur Filipina bagian selatan hingga ke utara Papua melalui Papua Nugini.
Keaktifan sejumlah gelombang atmosfer global turut memperkuat potensi gangguan cuaca selama periode ini. Di antaranya adalah Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, Rossby ekuator, serta gangguan atmosfer frekuensi rendah (low frequency wave) yang saat ini sedang aktif di wilayah Samudra Hindia barat Aceh, perairan sekitar Sumatra bagian barat, Laut Andaman, serta Laut Selatan Jawa hingga wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).
Gabungan dari dinamika atmosfer regional dan global tersebut meningkatkan peluang terbentuknya awan-awan konvektif dan sistem tekanan rendah, yang pada akhirnya dapat menghasilkan cuaca ekstrem di beberapa wilayah Indonesia.
Melihat potensi labilitas atmosfer yang masih tinggi di sejumlah wilayah, masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap kemungkinan hujan lebat disertai angin kencang dan petir, terutama pada sore dan malam hari.
Pihak terkait juga menganjurkan masyarakat untuk secara rutin memantau pembaruan informasi cuaca dari sumber resmi, serta menjaga kebersihan lingkungan guna meminimalkan risiko penyakit yang mungkin timbul akibat kondisi cuaca ekstrem, khususnya bagi mereka yang tinggal di daerah rawan bencana hidrometeorologi.