Megawati saat menghadiri Zayed Award for Human Fraternity Roundtable 2026 yang digelar di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), Kamis (5/2/2026) malam waktu setempat. Foto: PDI Perjuangan
Megawati menyampaikan hal tersebut dalam diskusi meja bundar Zayed Award for Human Fraternity Roundtable 2026 yang digelar di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA), Kamis (5/2/2026) malam waktu setempat.
Megawati meminta PBB menyikapi perkembangan AI secara serius dan segera menyusun regulasi global yang dapat mengatur cara kerja teknologi tersebut agar tidak merugikan umat manusia.
“Saya mengatakan di dalam diskusi kami itu, ya seharusnya menurut saya PBB sebagai Perserikatan Bangsa-Bangsa mesti melihat situasi dan kondisi ini. Dengan demikian tentunya ada perlindungan melalui hukum internasional, di mana yang namanya AI itu tidak bisa bekerja seperti sekarang ini tanpa regulasi ketat,” ujar Megawati, dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat (6/2).
Megawati mengakui bahwa AI membawa banyak manfaat, namun juga menyampaikan kekhawatiran mendalam apabila teknologi tersebut berkembang tanpa payung hukum yang melindungi nilai-nilai kemanusiaan.
“Bagus, tetapi yang sangat dikhawatirkan kalau tidak ada sebuah perlindungan yang nyata, tentunya artinya itu harus melalui masalah hukum. Takutnya malah bisa menjadi merusak,” tegasnya.
Megawati kemudian mencontohkan potensi bahaya manipulasi digital, di mana teknologi saat ini mampu merekayasa gambar dan suara seseorang atau deepfake dengan sangat mudah.
Menurut dia, kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan besar terkait pihak yang harus bertanggung jawab apabila terjadi penyalahgunaan.
“Sebagai contoh, siapa yang akan bertanggung jawab kalau sekarang gampang sekali artificial. Jadi dipikir ada orang A yang berbicara, padahal sebenarnya tidak,” jelasnya.
Megawati mengaku bersyukur pandangannya mendapat respons positif dari para tokoh dunia yang hadir dalam forum Zayed Award. Ia menyebut terdapat kesepahaman bahwa meskipun teknologi merupakan bagian tak terpisahkan dari masa depan, pengaturannya tetap menjadi hal yang krusial.
“Tanggapan yang diterima itu saya merasa bersyukur karena ternyata mereka pun mengatakan seperti demikian. Masalah teknologi ini, menurut banyak dari mereka, akan menjadi bagian dari masa depan kita dan tentunya masa depan dunia,” katanya.
Ia pun menekankan pentingnya gerakan kolektif yang lebih masif untuk menjamin masa depan generasi penerus. Menurut Megawati, desain masa depan dunia harus mulai dirancang secara serius sejak saat ini.
“Saya mengatakan bahwa seharusnya kita lebih baik, lebih banyak bergerak untuk masa depan anak-anak kita. Sudah mulai harus dirancang dari sekarang,” ujarnya.
Konsep Pancasila Relevan Diadopsi Dunia
Megawati juga berbagi kesan dan harapannya terhadap inisiatif yang dilakukan Zayed Award Human Fraternity. "Dri semua pembicaraan yang saya dengar, memang mereka berkeinginan bahwa mereka semua merasakan bahwa bagaimana dunia ini sepertinya akan mulai melupakan sebetulnya kehidupan kita itu satu, satu bumi," kata Megawati.
Ia menekankan bahwa di era modern ini, perang seharusnya sudah tidak lagi menjadi pilihan. Maka itu, ia mendorong perdamaian berkelanjutan yang juga melibatkan peran aktif perempuan.
"Seharusnya mestinya sudah selesai, tidak ada perang. Yang ada harusnya diteruskan dengan perdamaian. Dan itu tentunya juga masuk ke dalam peran wanita," tegasnya.
Dalam forum global tersebut, dia juga kembali memperkenalkan Pancasila sebagai konsep yang relevan untuk diadopsi dunia. Megawati meyakinkan para tokoh dunia bahwa nilai-nilai Pancasila, khususnya kemanusiaan, bersifat universal dan sejalan dengan semangat Human Fraternity (Persaudaraan Manusia).
"Begitu juga kalau masalah kemanusiaan, seperti yang saya katakan ketika hari pertama dengan Pancasila itu, sebenarnya kalau mau, saya bilang kepada mereka-mereka bahwa itu sebetulnya bisa menjadi sesuatu yang universal," kata Megawati.
Ia memaparkan bagaimana sila-sila dalam Pancasila dapat diadaptasi untuk menjawab tantangan global. "Ketuhanan Yang Maha Esa bisa diadopsi dari kemanusiaan dan yang lainnya, terutama tentunya di dalam masalah diskusi yang masalah kemanusiaan karena Human Fraternity itu, ya saya bilang bisa memakai yang namanya peri kemanusiaan. Sehingga dengan demikian bisa selaras," tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, Megawati turut diampingi Ketua DPP PDIP M Prananda Prabowo beserta istrinya. Hadir juga Duta Besar RI untuk UEA Judha Nugraha, Duta Besar RI untuk Tunisia Zuhairi Misrawi, serta Ketua DPP PDIP Bidang Luar Negeri Ahmad Basarah.