Letjen MT Haryono adalah salah satu dari tujuh perwira tinggi TNI AD yang gugur dalam peristiwa G30S/PKI tahun 1965. Foto: Ist
JAKARTA, (ERAKINI) - Letjen MT Haryono adalah salah satu dari tujuh perwira tinggi TNI AD yang gugur dalam peristiwa Gerakan 30 September PKI (G30S/PKI) tahun 1965. MT Haryono dikenal memiliki kemampuan dalam perundingan berkat menguasai sejumlah bahasa asing.
Sebagai Pahlawan Revolusi, banyak tulisan yang mengulas MT Haryono seputar peristiwa G30S/PKI. Padahal, perjalanan karier MT Haryono juga cukup menarik.
Salah satu aspek menarik dari perwira kelahiran Surabaya pada 20 Januari 1924 ini adalah kemampuan komunikasi dan penguasaan berbagai bahasa asing.
MT Haryono menghabiskan masa kecil sebagai anak seorang jaksa di Sidoarjo. Ketika ia berusia empat tahun, ayahnya diangkat menjadi wedana di Kertosono, dan mereka pun pindah ke kota tersebut.
Di sana, pada usia enam tahun, ia mulai bersekolah di HIS 6 (Hollandsch-Inlandsche School). Ia suka berteman dan bermain dengan anak-anak lain, serta selalu mengambil peran sebagai pemimpin di antara mereka. Karena sifatnya yang tegas, ia dijuluki "Si Kepala Macan."
Meskipun demikian, ia sebenarnya adalah sosok yang pendiam dan selalu bertindak hati-hati. Ia belajar di HIS hingga kelas tiga. Kemudian, berkat bantuan seorang guru Belanda yang merupakan teman ayahnya, ia pindah ke kelas empat ELS (Europeesche Lagere School) di kota tersebut hingga tamat pada tahun 1937.
Setelah menyelesaikan ELS, MT Haryono melanjutkan pendidikan di HBS (Hogere Burgerschool), yang merupakan gabungan SMP dan SMA selama lima tahun, di Bandung. Selama periode itu, ia harus berpisah dari orang tuanya dan tinggal bersama orang lain di Bandung.
Dikutip dari Ensiklopedia Pahlawan Nasional Kemdikbud, Jumat (27/9/2024), pemilik nama lengkap Mas Tirtodharmo Haryono adalah perwira militer yang awalnya berkeinginan menjadi dokter.
Ia sempat menempuh pendidikan kedokteran di Ika Daigaku Jakarta, salah satu sekolah kedokteran yang didirikan oleh pemerintah Jepang. Banyak alumni Ika Daigaku yang kemudian beralih profesi menjadi tentara, diplomat, atau pegawai pemerintah lainnya.
Ketika kemerdekaan RI diproklamirkan, ia yang sedang berada di Jakarta segera bergabung dengan pemuda lain untuk berjuang mempertahankan kemerdekaan. Perjuangan itu sekaligus dilanjutkannya dengan masuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Awal pengangkatannya, ia memperoleh pangkat Mayor.
Selama perang mempertahankan kemerdekaan yakni antara tahun 1945 sampai tahun 1950, ia sering dipindahtugaskan. Pertama-tama ia ditempatkan di Kantor Penghubung, kemudian sebagai Sekretaris Delegasi RI dalam perundingan dengan Inggris dan Belanda. Suatu kali ia juga pernah ditempatkan sebagai Sekretaris Dewan Pertahanan Negara dan di lain waktu sebagai Wakil Tetap pada Kementerian Pertahanan Urusan Gencatan Senjata.
MT Haryono fasih berbicara dalam bahasa Belanda, Inggris, Jerman. Berkat kemampuan ini membawanya menjadi Kepala Biro Penerangan dan Juru Bicara Staf Angkatan Perang RI pada Desember 1948.
Kombinasi dari sikap komunikatif dan statusnya sebagai poliglot membuka kesempatan bagi MT Haryono untuk menjadi perwira yang diperbantukan pada delegasi Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag pada November 1949
Di meja perundingan itulah, Mayor Haryono mempraktikan kemampuan tiga bahasanya, yakni Inggris, Belanda, dan Jerman. Kala itu, Mayor Haryono adalah perwira termuda di delegasi KMB yang bertolak ke Belanda, dan bertugas sebagai sekretaris para pemimpin TNI seperti Kolonel TB Simatupang, Kolonel Subijakto (AL), Kolonel Suryadarma (AU), dan Letnan Kolonel Daan Jahja (Dina Sejarah Militer.
Setelah penyerahan kedaulatan oleh Belanda, Mayor Haryono diangkat sebagai atase pertahanan di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Den Haag. Pengangkatannya sebagai salah satu utusan militer pertama Indonesia di Eropa ini terjadi hanya 22 hari setelah menikah dengan Muriatni, seorang perempuan asal Tegal, pada 2 Juli 1950.
Ketika bertugas di Belanda, Mayor Haryono menghadapi sejumlah tantangan serius. Pertama, pemerintah Belanda menangkap dua kapal, yaitu Blitar dan Talisse, yang membawa senjata selundupan dari Jakarta menuju Papua Barat.
Pada saat itu, Indonesia dan Belanda terikat dalam sebuah uni, dan tindakan ini dianggap oleh pemerintah Belanda sebagai pelanggaran terhadap hubungan persahabatan yang terjalin. Sebagai utusan militer Indonesia di Belanda, Mayor Haryono dimintai keterangan oleh pemerintah Belanda di Den Haag.
Masalah kedua yang dihadapi Mayor Haryono adalah percobaan pembunuhan yang direncanakan oleh sekelompok veteran perang Belanda. Rencana tersebut gagal, dan para pelaku kemudian ditangkap oleh kepolisian setempat.
Salah satu pelaku, Meine Pot, mengaku sebagai mantan anak buah Raymond Westerling, perwira Belanda yang bertanggung jawab atas pembantaian di Sulawesi Selatan dan gerakan APRA.
Setelah kembali ke Indonesia, MT Haryono menjabat di beberapa posisi di bidang inspektorat dan sebagai staf pimpinan tentara. Pada akhir 1959, ia dipercaya untuk memimpin organisasi intelijen Angkatan Darat.
Dalam kapasitas ini, ia bersama dua Pahlawan Revolusi lainnya, yakni Sutoyo Siswomihardjo dan Siswondo Parman, menyelidiki skandal bisnis tentara yang melibatkan Kolonel Soeharto, Panglima Divisi Diponegoro di Jawa Tengah kala itu.
Pada tahun 1964 MT Haryono dinaikkan pangkatnya menjadi Mayor Jenderal dan menjabat sebagai Deputi III Menteri Panglima Angkatan Darat.
Kariernya diprediksi masih akan terus melesat. Namun, sikap tegasnya menolak gagasan Angkatan Kelima yang diusung PKI, menjadikan dirinya target penculikan.
Pada 1 Oktober 1965 dini hari, ia dijemput paksa oleh pasukan Cakrabirawa yang beroperasi di bawah komando Sersan Bungkus. Saat berusaha melawan, Mayjen Haryono ditembak dan dibuang ke dalam truk oleh pasukan penculik.
Penculikan ini sempat dihentikan oleh tetangganya, keluarga Mayor Jenderal Soehario "Hario Kecik" Padmodiwirio, Panglima Daerah Militer Mulawarman. Pada pagi harinya, keluarga Hario Kecik membantu istri Haryono mencari suaminya, namun tak kunjung ketemu.
Sebelum peristiwa G30S/PKI, memang sudah ada semacam tanda-tanda di keluarga. Dalam buku berjudul "Kunang-kunang Kebenaran di Langit Malam", yang ditulis oleh putra-putri Pahlawan Revolusi, diceritakan sejumlah kejanggalan yang dialami keluarga MT Haryono menjelang peristiwa G30S/PKI.
MT Haryono sering menghabiskan waktu sendiri sambil mendengarkan musik klasik, kebiasaan yang biasanya dilakukan bersama putri bungsunya, Enda Marina. Namun, menjelang peristiwa tersebut, ia meminta Enda untuk menjauh.
Putri MT Haryono, Ade Mirja Harjanti, juga merasakan firasat buruk dengan mengalami mimpi di mana ayahnya diculik. Beberapa jam sebelum prajurit Cakrabirawa datang, mimpi tersebut menghantuinya.
Rianto Nurhadi, putra MT Haryono, juga menceritakan bagaimana rumah mereka didobrak oleh prajurit Cakrabirawa yang datang untuk membunuh ayahnya. Ia menyaksikan langsung kekejaman itu.
"Rumah kami hancur, atap dan temboknya rusak. Saya melihat ayah saya diseret ke depan truk, seolah-olah ia hanya sekarung beras," katanya.
Setelah peristiwa tragis itu, ia dan ibunya sempat mencoba mencari perlindungan di rumah Jenderal Ahmad Yani. Namun sayangnya, Jenderal Yani juga menjadi korban dalam tragedi G30S/PKI tersebut.